Mohon tunggu...
Indar Cahyanto
Indar Cahyanto Mohon Tunggu... Guru - Belajar

Belajarlah untuk bergerak dan berkemajuan

Selanjutnya

Tutup

Pendidikan

Etos Belajar Membangun Spirit Kemajuan

29 Mei 2023   11:45 Diperbarui: 29 Mei 2023   12:08 96
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Pendidikan. Sumber ilustrasi: PEXELS/McElspeth

Semangat etos belajar hari ini terasa kurang sekali dalam dinamika kehidupan masyarakat. Masalah ekonomi menjadi suatu acuan utama dalam membangun giat kehidupan. Tentunya dalam giat ekonomi masih banyak dari kita yang belum memperhatikan pentingnya belajar dalam membangun etos belajar. Perlu diskursus dalam memahami betapa pentingnya belajar sepanjang hayat yang tak terlepas dari perubahan zaman.

Ragam kemalasan yang menjadi penghambat kenapa etos belajar dari sebagian orang yang ada di Indonesia menjadi berkurang. Kebiasan yang enggan untuk membaca atau literasi dalam khasanah peradaban kemajuan ilmu pengetahuan teknologi. Padahal proses literasi bisa diambil dari Handphone genggam atau gawai yang mereka miliki didalamnya jika memiliki paket data tersimpan informasi atau pengetahuan baru yang dapat kita unggah. Tapi terlihat lebih senang bermain games online ketika waktu kosong.

Abdul Munir Mulkhan dalam bukunya Kiai Ahmad Dahlan: Jejak Pembaruan Sosial dan Kemanusiaan (Kompas, 2010), menyebut apa yang dilakukan KH. Ahmad Dahlan ini sebagai Etika Welas Asih. Etika Welas Asih merupakan sebuah prinsip dasar yang menjadi landasan gerak dakwah Muhammadiyah, baik itu dalam pengembangan pengetahuan maupun dalam amaliah usaha. dalam hal pengembangan pengetahuan, KH. Ahmad Dahlan mengembangkan sebuah etos yang menarik, yaitu "jadilah guru sekaligus murid.".

https://ibtimes.id/etos-belajar-muhammadiyah-menjadi-guru-sekaligus-murid

Proses membangun etos belajar dimulai dari adanya rasa menggembirakan dalam hati setiap Insan manusia sehingga dengan rasa gembira akan terbangun suatu kesadaran baru untuk memberikan pengertian betapa pentingnya ilmu pengetahuan.Terlalu banyaknya beban kehidupan yang dihadapi dari sebagaian golongan masyarakat Indonesia. 

Sehingga lupa kan spirit etos belajar dalam meningkatkat pola hidup dalam membangun peradaban. Perlu adanya cita-cita yang ada dalam diri untuk mengangkat keseimbangan dalam kehidupan. cita-cita akan lebih memilih untuk mengambil pelajaran yang  membantunya meraih cita-cita dan apa yang memang akan berguna untuk masa depan, meski harus mengabaikan soal pelajaran lain ataupun terkait rangking dan masalah lainnya. Karena dia punya cita-cita yang dia anggap lebih penting dari segalanya, maka pelajaran yang tidak ada hubungan dengan cita-citanya menjadi tidak penting.

Perlu rasa dalam membangun etos belajar yang hari ini mulai hilang dari generasi penerus bangsa sehingga perlu langkah untuk menyejukkan dalam membangkitkat asa para generasi bangsa. Langkah pertama kita kita senantiasa ber-tabligh, yaitu mengajarkan ilmu yang kita punya dengan mengembangkan rasa gembira. 

Mendekatkan pola ragam pembelajaran ketengah kehidupan mereka yang sedang dihadapi. Kedua membentuk interaksi belajar yang dinamis di antara sesamanya sehingga akan terbangun pola kolaborasi diantara generasi bangsa. Interaksi dibutuhhkan perlu dihidupkan karena akan membangun efektifitas komunikasi yang terjalin dua arah. Orangtua dan guru perlu membangkitkan dan membangun interaksi kepada anak didiknya dan anaknya dirumah. Dari interakasi akan timbul diskusi-diskusi yang menarik seputar persoalan kehidupan yang mereka hadapi.

Ada kisah inspiratif yang dalam riwayat Sukriyanto AR, Kisah-kisah Inspiratif Para Pimpinan Muhammadiyah, 69-71; dikisahkan  Kyai Dahlan bertanya. "Apa kamu semua mau bermain bersama saya?  Apa kamu semua mau saya dongengi?"  Tawaran yang simpatik itu dijawab oleh mereka serempak, "Mau Kyai, mau Kyai".  Kata Kyai Dahlan, "Baik, kalau mau, sekarang masuk ke rumah" . Kemudian Kyai Dahlan meminta Nyai membeberkan tikar dan  membuatkan minuman. Setelah itu Kyai Dahlan mendongeng suatu kisah yang diambilkan dari tarih Islam. 

Karena cara mendongengnya menarik, kadang-kadang disertai dialog yang komunikatif, tokoh-tokoh yang didongengkan  itu seakan-akan hidup. Anak-anak terpukau keasyikan. Ketika mendengar azan dhuhur, Kyai Dahlan berhenti dan berkata. "Itu sudah terdengar azan sekarang kita berhenti, shalat dulu. Sekarang kamu berwudhu, ada yang belum bisa berwudhu?  Terus shalat bersama saya  di langgar itu. Ada yang belum bisa shalat ? Nanti habis shalat kita ke sini lagi". Ketika anak-anak keluar untuk berwudhu, Kyai Dahlan membisiki Nyai Dahlan, "Tolong sediakan  makan siang ala kadarnya untuk  anak-anak itu. Kita kedatangan  murid-murid baru" kata Kyai Dahlan. 

Selesai shalat anak-anak diajak makan. Selesai makan, Kyai Dahlan berkata, "Nah, sekarang pulang dulu, kapan-kapan boleh main ke sini". Demikianlah cara Kyai Dahlan melakukan pendekatan dalam mendidik dan berdakwah kepada murid-muridnya. Beliau tidak menakut-nakuti atau mengancam murid-muridnya, melainkan membuat mereka senang, riang dan gembira. https://ibtimes.id/gembira-belajar-ala-kha-dahlan/

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Pendidikan Selengkapnya
Lihat Pendidikan Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun