Mohon tunggu...
Imran Rusli
Imran Rusli Mohon Tunggu...

Penulis dan jurnalis sejak 1986

Selanjutnya

Tutup

Gaya Hidup

Mau Kawin Nyari Perawan

15 Agustus 2015   15:43 Diperbarui: 15 Agustus 2015   15:43 131 0 0 Mohon Tunggu...

Mumpung lagi eforia kemerdekaan dan jelang musim kawin mungkin seru juga bicara masalah klasik sejak zaman kuda gigit besi ini: perawan atau tidak perawan.

Kalau nggak salah kemarin ini dunia entertainment ribut-ribut soal ketidaperawanan seorang artis muda Prilly apa tuh namanya, lupa saya. Heran kok heboh hanya soal itu saja? Seolah-olah ada hal yang sangat luar biasa dibalik ketidakperawanan seseorang. Ada kesan bahwa kalau seorang wanita tak bisa menjaga keperawanannya sampai menikah, pasti sundallah wanita itu. Sebaliknya kalau bisa menjaga keperawanan sampai saat menikah, pasti sucilah wanita itu. Weleh..weleh..sereeeem.

Apakah budi pekerti seseorang berbanding lurus dengan keperawanan? Saya belum mendengar ada yang meneliti ini. Apakah kalau masih perawan sampai saatnya tiba, dipastikan takkan jadi sundal setelah menikah? Dan sebaliknya? Juga kenapa hanya wanita yang dituntut untuk tetap perawan dan di banyak kebudayaan pake harus dibuktikan segala dengan selembar kain putih? Apa karena kelamin lelaki tak bisa sumbing atau retak setelah keperjakaannya diambil sehigga pasti nggak akan bermasalah saat dia menikah nanti, malah mungkin bisa lebih mahir dalam menyenangkan sang istri?

Saya mungkin slebor dan bukan orang suci, makanya saya tak begitu peduli soal ini, karena saya yakin baik buruknya seorang wanita tidak ditentukan oleh perawan atau tidaknya dia. Apa karena dia perawan saat menikah dia pasti takkan tergoda selingkuh? Apakah karena dia tak perawan saat menikah pikirannya pasti terpacu untuk selalu selingkuh? Saya yakin nggak gitu juga kalee, karena terlalu banyak faktor intenal dan eksternal yang mendorong atau membuat wanita terjebak dalam perselingkuhan dan pastinya bukan karena dia perawan atau tidak perawan saat menikah.

Bagi saya yang terpenting dalam sebuah hubungan pernikahan adalah komunikasi dan keterbukaan masing-masing pasangan. Ketidakjujuran adalah bukti kita tidak respek pada pasangan. Kalau respek sudah tak ada memang sudah susah mempertahankan pernikahan. Pacaran pun kalau tak dilandasi rasa saling menghargai satu sama lain, bisa dipastikan takkan berumur panjang, siapa yang suka dibohongi terus? Sekali-sekali bolehlah, tapi kalau terus berulang? Wah itu sih sakit jiwa namanya. Kalau sudah begini sebaiknya memang pisah aja, demi kebaikan kedua belah pihak dan ketentraman masa depan anak.

Kembali ke soal perawan dan tidak perawan, saya yakin saat ini sudah susah mencari istri yang perawan. Bukan karena pergaulan yang sudah sedemikian bebasnya saja, tetapi juga karena makin permisifnya hubungan seks pranikah dan banyaknya godaan yang sukar dilawan dari internet dan sumber-sumber informasi lainnya.

Namun bukan berarti calon istri perawan sudah nggak ada, pasti adalah tu, cuma kalau disyaratkan secara khusus saya kok kurang yakin sekarang ini, wong makin banyak saja anak-anak di bawah umur yang diperkosa paman, sepupu, ayah tiri, ayah kandung, saudara laki-laki, tetangga, teman, pengamen, pemulng, tukang becak, supir angkot, guru di sekolah atau di pesantren dan di asrama, bahkan ada pula yang sengaja dijual ibunya untuk memenuhi kebutuhan ekonomi keluarga, banyak pula yang kena tipu atau sengaja diculik jaringan pedagang manusia untuk prostitusi. Selain banyak yang melakukan seks usia muda karena terdorong rasa ingin tahu atau untuk menyenangkan hati pacarnya saja.

Karena itu saya sarankan tak usahlah terlalu ngotot cari perawan, ntar malah nggak kawin-kawin dan makin pusing ditanyain kapan kawin? He he. Yang penting pastikan Anda dapat calon istri yang jujur, penuh kasih sayang, mencntai dan menghargai Anda, yang juga Anda sayangi dan hargai sepenuh hati. Juga jangan sampai berpikir, tak apalah nikahi saja yang bukan perawan ini, nanti setelah kawin baru berburu perawan untuk jajan. Waah kalau itu….????

 

VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x