Mohon tunggu...
Humaniora

Kasus Mirna dan Investigasinya - The Trial (Continued - Part 2) - Observation and Theory Progressing

31 Agustus 2016   15:55 Diperbarui: 8 September 2016   13:38 1154
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Bagikan ide kreativitasmu dalam bentuk konten di Kompasiana | Sumber gambar: Freepik

- Korban meminum Kopi bersianida, tetapi jumlahnya tidak mencapai lethal dose.

Kenapa Penulis menarik Inference demikian, karena Korban tidak sampai muntah-muntah. Coba bandingkan dengan rekaman video Michael Marin yang bunuh diri di ruang sidang saat dijatuhi vonis oleh Hakim. Kalau Korban meminum dalam jumlah Lethal Dose, maka Korban juga akan muntah-muntah parah seperti Michael Marin di Video tersebut.

Lalu ditambah dengan kenyataan/fakta bahwa Korban dibawa ke Klinik di GI dimana Korban tidak dinyatakan Mati/Meninggal (baik itu Mati Klinis) oleh Dokter Klinik (belum henti nafas; belum henti jantung). Malahan Dokter Klinik menyatakan bahwa kondisi Korban tampak normal, memang nafasnya berat, tapi tidak ada kondisi-kondisi apapun yang memancing inisiatif seorang dokter untuk melakukan Pertolongan Pertama bagi korban keracunan.

Oleh karena itu Penulis menarik Inference bahwa Sianida yang terminum tidak mencapai Lethal Dose.

- Korban mati/meninggal atau bahkan bisajadi dibunuh dalam perjalanan dari Klinik GI ke RS Abdi Waluyo.

Kenapa Penulis menarik Inference demikian, karena ini bersesuaian dengan keterangan Dokter UGD dimana Korban DoA (Death On Arrival); Korban sudah mati secara klinis (henti nafas dan henti jantung) saat tiba di UGD; ini menunjukkan dan menguatkan bahwa Korban meninggal didalam perjalanan dari Klinik di GI ke RS Abdi Waluyo.

Penulis meragukan Korban benar-benar mati/meninggal karena Sianida karena kematiannya "lama"; kalau benar terminum sebanyak itu, Korban meninggal dalam hitungan menit sehingga sewaktu dibawa ke Klinik GI pun, sudah henti nafas dan henti jantung.

Lalu, bibir kebiruan itu adalah sebenarnya tanda-tanda Cyanosis dimana Korban kekurangan Oksigen. Tidak ada diketemukannya Tanda-tanda Cherry Red (bahkan sampai ke saat Embalming sekalipun; yang sudah diatas 4-jam sejak korban meninggal) juga menguatkan kematian bukan karena Sianida. Kenapa? Karena Ion CN Sianida itu akan mengikat dirinya ke Mitochondria (lihat video cara kerja sianida di atas) dan menghambat sel-sel menyerap oksigen dari darah. Ini justru menjadikan tingginya Oksigen dalam Darah (karena tidak "diambil" oleh Sel-Sel tubuh)

Kalau seharusnya Korban menunjukkan tanda-tanda saturasi oksigen dalam darah ... kok Korban sampai di UGD RS Abdi Waluyo dengan tanda-tanda kekurangan Oksigen dalam darah?

Ini lah kenapa penulis menarik Inference bahwa Korban mati/meninggal atau bisa jadi bahkan dibunuh dalam perjalanan dari Klinik GI ke RS Abdi Waluyo.

Dalam Tulisan sebelumnya, Teori yang penulis miliki tampaknya masih relevan:

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
  5. 5
  6. 6
  7. 7
Mohon tunggu...

Lihat Konten Humaniora Selengkapnya
Lihat Humaniora Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun