Imam Subkhan
Imam Subkhan

Aktif di Perhumas Surakarta, pendiri Akademi Orangtua Indonesia Surakarta, pengelola lembaga pelatihan SDM pendidikan, dan aktif menulis di berbagai media, baik cetak maupun online. Kreativitas dan inovasi dibutuhkan untuk menegakkan kebenaran yang membawa maslahat. Kritik dan saran silakan ke: imamsubkhan77@gmail.com

Selanjutnya

Tutup

Kandidat Artikel Utama

Apa yang Salah pada Visi-Misi Prabowo-Sandi?

11 Januari 2019   16:05 Diperbarui: 12 Januari 2019   14:17 1478 10 4
Apa yang Salah pada Visi-Misi Prabowo-Sandi?
Pasangan calon presiden dan wakil presiden Prabowo Subianto - Sandiaga Uno saat acara pengundian dan penetapan nomor urut pasangan calon presiden dan wakil presiden pemilu 2019 di Gedung Komisi Pemilhan Umum, Jakarta, Jumat (21/9/2019). Pasangan Joko Widodo - Maruf Amin mendapat nomor urut satu dan pasangan Prabowo Subianto - Sandiaga Uno mendapat nomor urut dua. (KOMPAS.com/KRISTIANTO PURNOMO)

Sedangkan penjabaran dari visi atau semacam langkah-langkah untuk mencapai visi tersebut adalah melalui perumusan misi. Misi adalah langkah atau tahapan yang mencakup semua aspek untuk bisa mewujudkan visi yang telah dirumuskan. Sehingga kalimat misi lebih panjang dan terdiri dari banyak poin, karena berisi penjabaran dari cara-cara untuk mencapai visi tersebut. Dan misi ini yang kemungkinan bisa berubah dari waktu ke waktu, karena menyesuaikan perkembangan organisasi dan dinamika di masyarakat.

Bisa saya contohkan seperti ini. Semisal dalam urusan membangun keluarga. Visi keluarga saya adalah "Mewujudkan atau terwujudnya keluarga yang harmonis, produktif, penuh cinta, dan bahagia." 

Oleh karena itu, untuk mencapai visi keluarga yang ideal tersebut, saya dan anggota keluarga harus melakukan langkah-langkah dalam semua aspek kehidupan keluarga. Dan itu akan tertuang di dalam rumusan misi keluarga. Nah itu, sekadar contoh saja.

Semua Komponen Bangsa Harus Terlibat

Jika konteksnya itu organisasi yang besar seperti negara, lalu siapa yang seharusnya merumuskan visi dan misi tersebut? Apakah cukup calon pemimpinnya, dalam hal ini calon presiden dan calon wakil presidennya? Tentu saja tidak. 

Mereka tak mungkin mampu, karena negara begitu luas cakupannya, sementara keahlian mereka terbatas. Oleh karena itu, di dalam merumuskan visi dan misi negara tersebut harus mengundang seluruh komponen bangsa, paling tidak terdiri dari 5 unsur.  

Pertama, dari unsur calon pemimpinnya sendiri. Para capres dan cawapres harus cerdas dan bisa mengemukakan tentang konsep negara di masa depan. Seorang pemimpin harus punya cita-cita untuk membangun negaranya. Bukan hanya sekadar ikut gagasan atau menjiplak orang lain. Kedua, dari unsur para pendiri bangsa ini. 

Tentu saja yang masih hidup atau bisa menghadirkan para penulis sejarah yang bisa menceritakan tentang cita-cita pendiri bangsa. Ketiga, dari unsur pakar atau ahli dari berbagai disiplin ilmu, profesi, dan pengalaman, seperti di bidang hukum, ekonomi, politik, agama, sosial, budaya, pertahanan dan keamanan, pertanian, infrastruktur, teknologi, dan sebagainya. Para pakar ini lebih mengeksplorasi dari sisi konten atau muatan isi untuk dicantumkan pada rumusan misi dan program kerja.

Keempat, dari unsur pengguna, dalam hal ini rakyat. Rakyat dari berbagai perwakilan profesi bisa diajak bicara untuk mengeluarkan unek-unek dan pemikirannya tentang kehidupan berbangsa dan bernegara yang diinginkannya.

Sedangkan unsur kelima, adalah ahli tata bahasa atau ahli sastra. Ahli bahasa ini yang akan menyusun dan merumuskan secara redaksional kata dan kalimat dalam rumusan visi, misi, dan program kerja. Sehingga akan terbaca lebih menarik, simpel, mudah dipahami, dan sesuai dengan kaidah bahasa yang berlaku. Tentang kebahasaan ini, bisa diundang juga dari para jurnalis, yang terbiasa mengemas judul dan isi berita yang menarik untuk dibaca. Semoga bermanfaat.

Imam Subkhan, penulis buku, pengamat sosial tinggal di Karanganyar   

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2