Mohon tunggu...
Ikrom Zain
Ikrom Zain Mohon Tunggu... Content writer - Teacher

Hanya seorang pribadi yang suka menulis | Tulisan lain bisa dibaca di www.ikromzain.com

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Artikel Utama

Dasar Negara, Antara Kewajiban Hafalan dan Implementasi Perbuatan

16 Oktober 2020   19:31 Diperbarui: 17 Oktober 2020   10:40 769 13 0 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Dasar Negara, Antara Kewajiban Hafalan dan Implementasi Perbuatan
Oh sulitnya menghafal Pancasila. - Tribunnews.com/kolase Facebook Irvan Basri

Beberapa hari terakhir, dunia jagad maya kita dihebohkan dengan amarah seorang ibu yang meledak lantaran sang anak tak hafal Pancasila.

Walau ngakak, saya sih tidak begitu kaget. Pembelajaran daring memang membuat ngilu terutama ibu-ibu yang mau tak mau menjadi guru dadakan di rumah. Berbagai tanggapan pun muncul. Baik mendukung maupun yang menentang apa yang dilakukan oleh si ibu itu.

Meski demikian, dari kejadian ini, saya malah fokus pada substansi Pancasila itu sendiri. Jika dilihat lebih dalam, benarkah Pancasila yang merupakan dasar negara kita harus dihafalkan dengan baik dan benar? Benarkah memang dengan menghafalkan Pancasila, lantas sila-sila di dalamnya bisa kita aplikasikan sehari-hari?

Saya tidak butuh jawaban dengan segera.

Oke, mari kita merenung sejenak. Kita hidup di Indonesia dan pasti punya tujuan. Bahagia (dan) sejahtera. Ya, kita ingin bahagia dengan kehidupan kita. Meski demikian, kita tak bisa bahagia sendiri. Ada orang lain yang membuat kita bahagia dan mereka -- sebagai bangsa Indonesia -- juga berhak bahagia juga. Atas dasar itulah, maka para pendiri bangsa kita merumuskan Pancasila agar kita bisa hidup berbangsa dan bernegara sesuai apa yang dicita-citakan oleh bangsa Indonesia.

Mmm....bagi saya ini sedikit utopis. Atau, bisa dikatakan masih terlalu sulit dicerna. Begini, dalam sebuah komunitas, kita memang butuh pegangan. Maka, Pancasila ini hadir sebagai pegangan. Guru PPKn kita mengatakan bahwa Pancasila adalah pandangan hidup bangsa, falsafah hidup bangsa, dan banyak sematan lain. Pancasila pun menjadi amat sakral.

Namun, saking sakralnya, kadang Pancasila diposisikan sebagai hal yang amat suci dan paling tinggi di negeri ini. Memang tak salah dan memang begitu adanya. Peristiwa pemberontakan yang gagal di negeri ini juga berkat bangsa kita yang memegang teguh Pancasila. 

Disintegrasi bangsa yang mengancam pun bisa kembali utuh berkat Pancasila. Kalau tak ada Pancasila, maka bisa jadi, kita akan seperti Yugoslavia. Sebuah negara yang ambruk akibat persatuan yang semu.

Beberapa hari yang lalu, saya membaca mengenai pembubaran negara boneka yang sempat dibuat Belanda untuk memecah bangsa Indonesia. Kala itu, meski kondisi sudah dalam terpecah belah, tetapi semangat untuk kembali ke NKRI amatlah kuat. Salah satu faktornya adalah dengan adanya Pancasila, terutama sila ketiga.

Jika dibandingkan dengan negara lain, menurut saya -- di luar saya sebagai orang Indonesia - Pancasila juga paling lengkap silanya. Penjabarannya pun jelas dan sangat fleksibel dengan perkembangan zaman. Pancasila pun mencakup berbagai aspek kehidupan, baik hubungan antara manusia dengan Tuhan, manusia dengan manusia, maupun antara manusia dengan komunitasnya.

Sayangnya, beberapa waktu belakangan, saya melihat bahwa memahami Pancasila yang baik adalah menghafalkannya. Lalu, hafalan itu dikuti dengan kampanye Saya Pancasila dengan berbagai tagarnya. Sungguh, saya cukup sedih akan hal ini.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x