Mohon tunggu...
Ikrom Zain
Ikrom Zain Mohon Tunggu... Tutor - Content writer - Teacher

Hanya seorang pribadi yang suka menulis | Tulisan lain bisa dibaca di www.ikromzain.com

Selanjutnya

Tutup

Trip Artikel Utama

Menyelami Kematian Kota Banyumas

19 Februari 2019   09:40 Diperbarui: 19 Februari 2019   20:19 8648
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Alun-alun Banyumas. - Dokumen Pribadi

Saya pun lalu menuju ke arah Kota Banyumas dari Pasar Patikraja yang tak jauh dari Stasiun Notog. Sepanjang jalan, Sungai Serayu begitu elok walau warna kecoklatan cukup membuat ngilu mata. Sungai ini sangat besar, bahkan kalau boleh saya katakan lebih besar dibandingkan Sungai Brantas. Semakin mendekati Kota Banyumas, malah semakin jarang kendaraan yang saya temui. Maklum, jalan yang saya lalui hanyalah jalan kabupaten.

Keramaian baru terasa saat melintasi sebuah pertigaan. Di depan saya, tampak melintas beberapa kendaraan besar. Menurut rekan perjalanan saya, jalan ini yang menghubungkan Patikraja, Sukaraja-Purwokerto, dan Banyumas. 

Ternyata, kami sudah tiba di Kota Banyumas ditandai dengan adanya sebuah jembatan besar. Dari atas jembatan, Sungai Serayu tampak gagah mengalir. Tak ada lagi satupun aktivitas pelayaran di sungai itu yang tampak di mata.

Sungai Serayu. - Dokumen Pribadi.
Sungai Serayu. - Dokumen Pribadi.
Padahal, dari cerita Margono Djojohadikusumo, pendiri BNI 46 saat bertemu C. Huge, sang guru di ELS Banyumas, di sekitar kota ini dulunya ada bandar besar. Hasil perkebunan dari sekitar Banyumas akan dikirim ke Pelabuhan Cilacap. Lantas, di mana bandar kapal itu sekarang?

Pertanyaan itu tak segera terjawab. Justru keterkejutan yang saya dapat ketika melihat sebuah pasar yang kumuh, kusam, dan penuh dengan genangan air. Ini Pasar Banyumas. Apa yang dipaparkan di dalam buku yang saya baca memang nyata. Belum jauh saya menjelajah, saya sudah mendapat apa yang menarik perhatian saya. Kota ini memang tak lagi mengalami kejayaan.

Pasar Banyumas. - Dokumen Pribadi.
Pasar Banyumas. - Dokumen Pribadi.
Walau begitu, saya tak ingin memberi kesimpulan dini. Alun-alun Banyumas menjadi perhatian saya selanjutnya. Untunglah, ikon sentral dari sebuah kota itu masih bisa dibilang apik. Sebuah replika pesawat berdiri cantik di dekat kolam air mancur kecil. Beberapa anak sekolah tampak duduk-duduk menikmati akhir pekan seusai pelajaran.

Di sekitar alun-alun, masih tampak pula masjid agung di sebelah barat. Sama dengan kebanyakan alun-alun lain. Di sisi timur, juga berdiri rutan Banyumas yang masih ada mendampingi kejaksaan Banyumas. Jadi, di Kabupaten Banyumas sendiri, dua institusi ini ada di dua tempat, yakni Purwokerto dan Banyumas. Cukup unik.

Puas melepas penat sejenak di alun-alun, saya pun menuju Bekas Pendopo Bupati Banyumas yang ada di sisi utara. Kini, bangunan itu menjadi Kantor Kecamatan Banyumas. Sejak keputusan pemindahan ibu kota Kabupaten Banyumas ke Purwokerto yang penuh perdebatan pada 1937 terjadi, kini tempat itu tak lagi memiliki "singgasana".

Kantor Kecamatan Banyumas. - Dokumen Pribadi.
Kantor Kecamatan Banyumas. - Dokumen Pribadi.
Pendopo Si Panji, lambang kebesaran Kabupaten Banyumas telah dipindahkan dengan jalur memutar tanpa menyeberangi Sungai Serayu. Jadi, pemindahan ini melalui Wonosobo ke utara menuju Pekalongan hingga sampai di Purwokerto. 

Pemindahan ini juga menandakan perlahan tapi pasti Banyumas mulai kehilangan kejayaan. Walau, Pemerintah Kolonial masih ingin Banyumas tetap ramai dengan memindahkan beberapa fasilitas umum seperti rumah sakit dan sekolah dari Purwokerto ke Banyumas. Namun, jalur kereta api yang begitu ramai menuju Purwokerto akhirnya benar-benar mematikan Banyumas.

Tak jauh dari Bekas Pendopo Bupati ini, berdiri sebuah rumah tua yang merupakan rumah bekas Bupati terakhir Banyumas sebelum perpindahan ibu kota. Di tembok depan, tertulis nama R. A. Gandasoebrata. 

Di masa pemerintahan sang pengganti, S.M. Gandasoebrata, perpindahan ibu kota itu terjadi. Secara bertahap kediaman Bupati Banyumas di Purwokerto dibangun. Rumah itu kini menjadi tempat penyimpanan beberapa benda penting peninggalan Banyumas dan dikenal sebagai Kepangeranan Banyumas.   

Rumah bekas Bupati Banyumas. - Dokumen Pribadi.
Rumah bekas Bupati Banyumas. - Dokumen Pribadi.
Surat pencabutan permintaan pembukaan jalur tram SDS melewati Kota Banyumas tertanggal 31 Mei 1899 kepada Pemerintah Kolonial bisa jadi menjadi satu titik balik Kota Banyumas. Hingga kini, jalur kereta api tak melintasi kota ini barang sejengkal pun. Efektivitas angkut barang dan penumpang dirasa lebih baik menggunakan kereta api ke Purwokerto. Ditambah dengan depresi ekonomi yang melanda dunia pada tahun 1930-an, membuat Banyumas semakin kehilangan daya tarik.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Trip Selengkapnya
Lihat Trip Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun