Ikrom Zain
Ikrom Zain Tutor Bimbel

Hanya seorang tutor bimbel dan pengajar home schooling

Selanjutnya

Tutup

Sejarah Artikel Utama

Pak Harto Mesem, Teror Ninja, dan Memori Generasi 90-an

21 Mei 2018   03:00 Diperbarui: 21 Mei 2018   15:04 2310 2 3
Pak Harto Mesem, Teror Ninja, dan Memori Generasi 90-an
Dokumen Pribadi.

"Ngajinya libur dulu," kata Abah Hasan, guru ngaji saya.

"Sampai kapan, Bah?" seorang rekan yang kala itu duduk bangku SMP Kelas 1 bertanya.

"Nanti tunggu kabar ya. Kalian sudah tahu tanda merah di depan itu kan? Pulang saja sana. Jangan main jauh-jauh!" sahut sang guru ngaji. Beliau lantas menutup rapat tempat mengaji dan rumahnya yang bersebelahan. Saya lantas pulang. Di suatu senja, September 1998.

Jujur, kalau saya bercerita kejadian ini lagi rasanya masih merinding. Usia saya saat itu sekitar 8 tahun dan masih duduk di bangku kelas 3 SD. Saya tak tahu sebab muasal gonjang-ganjing yang bermula dari Jakarta itu bisa sampai ke daerah saya, Malang. Breaking news mengenai penembakan mahasiswa di Jakarta hingga pembakaran beberapa pusat perbelanjaan menyelingi acara Tralala-trilili yang dibawakan penyanyi cilik Agnes Monica. Bermula dari itu, huru-hara langsung merembet ke seluruh Indonesia, tak terkecuali ke tanah kelahiran saya.

Masa-masa Emas yang Runtuh

Ayah saya memiliki usaha konveksi topi yang berjaya pada kurun 1990 hingga 1997. Saat itu, saya masih ingat ada sekitar 20 orang karyawan yang bekerja untuk ayah saya. Pesanan topi dari para langganan bahkan dari NTB, Papua, dan Timtim (Timor Leste). Tak hanya itu, usaha ayah saya juga mendominasi beberapa pangsa pasar sekolah dan perusahaan di Malang Raya.

Bagai anak seorang konglomerat, saya sungguh menikmati masa-masa kejayaan di akhir orde baru. Setiap pekan, bisa dipastikan saya akan membeli mainan baru di Gajah Mada Plaza, pusat perbelanjaan terbesar di Kota Malang kala itu. Apalagi, sebelum adik saya lahir tahun 1997, saya merupakan anak tunggal. Bak lagu Doraemon, apa yang saya mau akan sering dikabulkan.

Namun, petaka terjadi pada pertengahan 1997. Kebetulan, adik saya baru berusia beberapa bulan. Di suatu malam, saya diminta untuk membeli minyak goreng oleh ibu saya. Biasanya, dari uang yang diberikan untuk minyak goreng itu, saya masih bisa membeli permen karet Yosan sebagai "upah". Di malam itu, jangankan membeli permen karet. 

Untuk membeli satu liter minyak goreng saja tidak cukup. Saya lupa berapa nominal pastinya, yang jelas sekitar 2000 hingga 3000 rupiah. Selepas malam itu, perlahan tapi pasti harga-harga mulai naik. Kenaikan harga paling saya ingat adalah harga permen yang semula 25 rupiah menjadi 100 rupiah hanya dalam beberapa bulan.

Usaha ayah saya pun kolaps. Satu per satu karyawan dirumahkan. Beberapa mesin jahit dan alat sablon pun terpaksa dijual. Tak ada lagi pemesan dari luar pulau. Puncaknya, seluruh karyawan ayah saya dirumahkan pada pertengahan 1998. 

Jangankan membeli mainan di Gajah Mada Plaza, untuk membeli susu dengan hadiah buku cerita saja orang tua saya sudah tak sanggup. Sebagai anak kecil seusia belum sepuluh tahun, mendapat guncangan ekonomi semacam itu membuat saya kaget dan cukup frustasi. Nilai-nilai pelajaran saya menurun. Tidak ada lagi peringkat 3 besar di dalam kelas seperti pada awal saya masuk SD di tahun 1996. 

Kunjungan ke Museum Brawijaya Malang yang dilakukan oleh siswa-siswi di SD saya. Museum ini cukup banyak menyimpan koleksi masa berdirinya Orde Baru. Tampak foto-foto para tapol PKI hasil Operasi Trisula di Blitar Selatan, sekitar tahun 1966. Bagi guru Milenial, menjelaskan orde baru dan segala hal di dalamnya bukanlah perkara mudah. - Dokumen Pribadi.
Kunjungan ke Museum Brawijaya Malang yang dilakukan oleh siswa-siswi di SD saya. Museum ini cukup banyak menyimpan koleksi masa berdirinya Orde Baru. Tampak foto-foto para tapol PKI hasil Operasi Trisula di Blitar Selatan, sekitar tahun 1966. Bagi guru Milenial, menjelaskan orde baru dan segala hal di dalamnya bukanlah perkara mudah. - Dokumen Pribadi.

Malam-malam yang Mencekam

Setelah awal krisis, kondisi semakin kacau. Malam-malam di Bulan September 1998 adalah malam paling tidak bisa saya lupakan hingga saat ini. Setiap malam, ayah saya menghunus pisau belati yang baru dibelinya dari pasar karena geger ninja ini.Sebelum bergabung dengan warga lain yang semalaman begadang, beliau menutup semua pintu rumah dengan rapat terutama pintu kamar utama. Saya tidur beserta ibu dan adik saya yang masih sangat kecil. Di tengah malam, saya sering terbangun. Mendegar langkah orang-orang kampung yang mencoba mengejar entah siapa itu.

Kata orang, mereka sedang mengejar sesosok Ninja yang mencoba menganiaya dan membunuh para ulama. Kyai, ustad, dan guru ngaji adalah orang-orang yang katanya menjadi target utama selain para dukun santet. Ada dua macam bentuk persekusi dalam Tragedi Ninja 1998 ini. Persekusi pertama adalah penganiayaan sedang hingga berat biasanya berupa pemukulan. 

Korban dari penganiayaan ini menurut cerita ditandai dengan tanda panah berwarna kuning di sekitar rumah korban. Biasanya, tanda itu tergambar di tembok atau tiang listrik. Persekusi kedua adalah dalam bentuk pembunuhan keji. Korban dari bentuk persekusi ini adalah tanda panah berwana merah. Jika ada tanda kuning atau merah di tembok rumah dari calon korban, maka sang korban harus bersiap. Dan, sebuah tanda panah merah cukup besar tergambar di tembok depan rumah guru ngaji saya.

Selama masa teror itu, banyak desas-desus yang beredar. Ada isu yang mengatakan bahwa para ninja sebenarnya adalah aparat keamanan yang tak ingin rezim orde baru runtuh.

Ada pula yang mengatakan bahwa mereka mencari para pemilik ilmu santet yang entah maksudnya membuat huru-hara semacam itu. Radiogram Bupati Banyuwangi kala itu yang bermaksud mendata orang-orang yang dipercaya memiliki kelebihan tersebut menjadi pemicunya. 

Dengan cepat, satu per satu korban berjatuhan bukan hanya dari orang yang dianggap sebagai dukun namun juga para ulama. Korban terbanyak memang berasal dari daerah Tapal Kuda (Banyuwangi, Situbondo, Jember, dll).

Namun, kegaduhan Ninja ini meluas hingga ke daerah Jawa Timur lainnya. Antara percaya dan tak percaya, sang ninja yang konon akan hilang kekebalannya jika dipukul dengan bambu kuning ini semakin meresahkan.

Hingga di akhir tahun tersebut, teror Ninja pun berakhir dengan sendirinya. Sampai saat ini, kasus pembantaian massal tersebut belum jelas ujung pangkalnya.

Pak Harto yang Tak Lagi Mesem

Teror Ninja adalah hal yang paling saya ingat ketika mengenang peristiwa yang terjadi  20 tahun lalu. Teror yang masih berkaitan dengan peristiwa bersejarah pada hari ini.

Saat Pak Harto, Bapak Presiden yang fotonya terpajang di dinding kelas membacakan pidato pengunduran dirinya. Ketika itu saya melihat di layar TV euforia mas-mas dan mbak-mbak mahasiswa bersorak kegirangan seperti mendapat hadiah undian Kuis Kata Berkait. 

Namun, pidato yang ditayangkan di semua stasiun TV kala itu memberi aneka pertanyaan bagi saya. Seorang anak kecil yang kebetulan berada masa sulit itu. Ada apa dengan Indonesia? Mengapa Pak Harto tidak jadi Presiden lagi? Mengapa tiba-tiba kedamaian tempat tinggal saya diusik oleh para Ninja? Dan, mengapa krisis tak kunjung usai sehingga Cindy Cenora, pujaan saya kala itu terus menyanyikan lagu berjudul "Krismon"?

Anak-anak seusia saya yang bergerombol di sebuah TPS saat Pemilu 1997. - Dokumen AP.
Anak-anak seusia saya yang bergerombol di sebuah TPS saat Pemilu 1997. - Dokumen AP.

Hingga dewasa sekarang, tak semua pertanyaan itu terjawab dengan jelas. Kalau saya ditanya anak saya nanti seputar peristiwa bersejarah yang dialami sang ayah ketika masa kanak-kanak, jawaban mengambang pasti akan keluar dari mulut saya. Tapi, sebuah kalimat diplomatis akan muncul. Setiap pemimpin pasti punya kelebihan dan kekurangan. 

Pak Harto menyisakan memori masa bahagia saya sebagai "anak konglomerat" di akhir jabatannya. Nikmat yang mungkin tak akan bisa saya lupakan dan didapat banyak anak lainnya.

Di sisi lain, kenangan Teror Ninja yang mengerikan membuat sang "anak konglomerat" mengalami trauma dan rasa takut. Dari peristiwa sejarah pada tanggal ini, sebagai generasi 90an saya belajar bahwa tidak ada yang abadi di dunia ini. Termasuk, kekuasaan dan kekayaan. Kalau boleh dilambangkan, uang 50 ribu rupiah bergambar Pak Harto mesem yang begitu kuat pun tak banyak artinya kala itu.

Trauma Sekunder

Meskipun bisa dibilang masih berumur bau kencur, gonjang-ganjing yang dialami bangsa Indonesia saat kejatuhan Pak Harto tentu menimbulkan trauma. Anak-anak seusia saya yang tak secara langsung terkena dampak kerusuhan Mei dan kemudian teror Ninja biasanya terkena trauma sekunder. 

Trauma sekunder ini timbul walau seseorang tidak merasakan langsung atau tidak hadir dalam peristiwa itu tapi efeknya bisa dirasakan. Berita kerusuhan yang setiap hari saya lihat, cerita kekerasan yang berantai dari mulut ke mulut, hingga ayah saya sendiri yang juga akhirnya terlibat dalam konflik tersebut masih berbekas dalam beberapa waktu.

Ditambah lagi, cerita kerusuhan antar etnis di awal tahun 2000an membuat cerita keruntuhan rezim Orde Baru seakan tak akan pernah habis.

Tahun-tahun berlalu memang sedikit banyak mengubur kenangan sepanjang 1998 tersebut.  Tapi, ketika cerita tentang huru-hara yang menemani saat-saat kekuasan Pak Harto, sampai sekarang dan kapanpun saya akan selalu ingat.

Hingga kini pun, ketika saya melewati bekas rumah guru ngaji saya yang kini beralih fungsi menjadi tempat kos, tanda panah berwarna merah itu seakan timbul lagi. Merah menyala, mengingatkan bahwa orde baru yang berjaya akhirnya runtuh dan menimbulkan konflik yang menganga. 

Walau menyisakan trauma, kejatuhan rezim Orde Baru yang menjadi turning point kehidupan generasi 90an bisa jadi pelajaran untuk menjalani kehidupan sekarang. Manajemen kehidupan yang baik adalah kunci kesuksesan. Karena, tak selamanya manusia di atas.

Sekian, salam.

*) Tulisan ini saya dedikasikan untuk Alm. Abah Hasan, guru ngaji saya ketika kecil yang pada Ramadhan kali ini memasuki Haul ke-4.


Sumber: 

(1)(2)(3)(4) (5)