Ika Septi
Ika Septi lainnya

penyuka musik, buku, film dan kerajinan tangan.

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Artikel Utama

Jangan Repotkan Nenek dengan Urusan Cucu

14 Februari 2018   15:53 Diperbarui: 15 Februari 2018   04:27 3776 8 4
Jangan Repotkan Nenek dengan Urusan Cucu
Ilustrasi: Pixabay/Tookapic

Beberapa hari lalu saat sedang khusuk berjalan sambil memandangi selokan  orang yang tak berupa karena dipenuhi sampah dalam berbagai varian  rasa, saya dikejutkan oleh sebuah sentuhan di bahu. Dengan jurus lirikan  ala Umi Elvi Sukaesih yang setajam golok si Pitung, saya melihat sebuah  tangan yang nemplok disana. Sejenak saya merinding dibuatnya karena  teringat dengan tangan bergelar idle hand yang kelayapan di filmnya  Devon Sawa.

Namun kemerindingan saya lenyap bagai kutu rambut yang dibasmi peditox  ketika tahu bahwa pemilik tangan itu adalah salah seorang ibu yang  merupakan tetangga saya. Lalu kami pun berjalan beriringan tentunya  tanpa dilatarbelakangi dengan lagu milik Skidrow secara jalannya biasa  aja gak pake pegangan tangan seperti yang dijeritkan oleh si cantik  Sebastian Bach, "Remember yesterday, walking hand in hand".

Lalu ibu itu pun berkisah bahwa saat ini ia tengah menikmati hari tuanya  bersama suami tercinta tanpa mau direcoki urusan cucu. Dahi saya  berkerut, bukankah biasanya seorang nenek itu hobi sekali menimang cucu?  Bukankah cucu adalah hal yang sangat dinantikan kehadirannya oleh  ibu-ibu yang telah bermenantu?

Seakan mengerti arti kerutan di dahi saya, ibu tetangga saya tersebut langsung merepet

Ilustrasi : brunchforone.blogspot.com
Ilustrasi : brunchforone.blogspot.com
"Ibu kan sudah mengurus anak sampai besar, masa sekarang harus ikut ngurus cucu juga, capek Mbak."

"Kalau dititipi sebentar ya gak papa tapi kalo seharian apalagi tahunan, ya ibu gak mau." Begitu lanjutnya.

Sebagai seorang nenek tak langsung dari dua orang cucu, saya pun  tergerak untuk menggali perasaan hati dalam sebuah obrolan bertajuk  curcol terhadap beberapa nenek yang saya kenal.

Dan dari hasil ngobrol sana sini, saya dapat menyimpulkan bahwa banyak  dari mereka merasa lelah dan terpaksa  ketika harus menerima titipan  cucu saat anaknya berkarir di luar rumah.

Saya akhirnya mengerti mengapa mereka merasa lelah ketika melihat tubuh  yang telah renta itu harus mengendong bayi bahkan balita yang beratnya  mungkin telah menyentuh angka 15 kilogram kemana-mana. Menyuapi,  memandikan dan mengajak bermain. 

Meninabobokan mereka yang terkadang tak jua  mau memejamkan mata.  Dan harus selalu ekstra waspada dengan segala  tingkah polah balita yang mulai ingin tahu segala.  Begitu terus  sepanjang hari, from dawn till dusk.

Dari melihat dan mendengar saja, hal-hal tersebut terasa sangat  melelahkan apalagi melakoninya. Nenek juga manusia yang memiliki  keinginan untuk melakukan sesuatu yang ia sukai di masa tuanya.  

Namun  banyak nenek yang tak kuasa untuk menolak "tugas" yang diberikan oleh  anaknya. Alasannya kasihan pada anaknya yang sibuk bekerja. Ya,  bagaimana pun juga seorang ibu ingin selalu membuat anaknya bahagia  walaupun ia harus mengorbankan banyak waktu dan tenaga.  

Seorang ibu  akan selalu mencoba mengerti kesibukan anaknya.  Namun sebagai anak,  apakah kita cukup mengerti akan banyaknya pengorbanan yang telah beliau  lakukan untuk kita? Dan apakah layak bila kita menumpahkan semua  keegoisan kita kepada ibu yang sangat kita cintai dengan memberinya  "tugas" yang tak kuasa ia tolak?

Maka saya sangat mengapresiasi ketegasan seorang nenek, ibu dari teman  saya yang menolak mentah-mentah "tugas" tersebut.  Karena sesungguhnya  ibu ada bukan untuk dijadikan tameng bagi hal-hal yang semestinya bisa  dicarikan solusinya.

Bahagia memiliki cucu bukan berarti harus ikut repot merawat mereka  karena itu bukan tugas nenek dan kakek, namun tugas ayah dan ibu.

Sekian.