Gaya Hidup Pilihan

Gaya Hidup Milenial: Konsumtif vs Minimalis, Manakah Pilihanmu?

12 April 2017   11:19 Diperbarui: 12 April 2017   11:37 407 4 0

Berbicara tentang gaya hidup, masyarakat Amerika sangat terkenal dengan gaya hidup mereka yang konsumtif berlebihan. Lihatlah semangat berbelanja mereka ketika menjelang akhir tahun, atau ketika Black Friday, semua orang berbondong-bondong memadati pusat pertokoan dan membeli apa yang mereka inginkan, bahkan dengan berebut dan sikut-sikutan. Ketika sebuah toko retail atau butik ternama mengadakan musim diskon, orang-orang rela antri berjam-jam sebelum jam buka toko demi kesempatan untuk masuk ke dalam toko.

Sebagian dari masyarakat Amerika kini juga sangat terobsesi dengan topik pengaturan penyimpanan dan pengorganisasian. Coba deh ketik keyword “home organizing hacks” di Youtube, maka Anda akan temukan ratusan youtuber dan jutaan viewer yang menganggap topik ini sangat menarik. Prinsip utama dari ide pengaturan penyimpanan/pengorganisasian adalah bahwa setiap benda punya tempat penyimpanannya masing-masing, sehingga diharapkan pengaturan ini dapat membuat aktifitas penggunanya lebih efektif, teratur dan rapi.

 Setiap sudut rumah akan lebih rapi dan teratur dengan metode pengorganisasian ini, dari rak penyimpanan aneka jenis botol bumbu di dapur hingga lemari pakaian yang bisa dibuat berlaci-laci, bersekat-sekat dan bertingkat. Imbasnya, tidak heran jika penjualan lemari, laci, dan kotak penyimpanan atau storageberbagai bentuk, ukuran dan jenis pun menjadi barang yang laris manis. 

Buah dari demikian populernya ide pengorganisasian adalah, semakin meningkat jumlah konsumsi bukan lagi hanya atas barang melainkan juga atas industri barang penyimpanan. Lalu apa yang akan terjadi ketika luas rumah sudah tidak cukup untuk menampung barang-barang konsumsi? Ah, sudah ada penyedia jasa penyewaan gudang penyimpanan, mereka menyediakan ruangan dengan luas dan harga bervariasi. Ingin rumah rapi, bersih, teratur tetapi tidak ingin repot? Ada jasa profesional dan konsultan tentang pengaturan/pengorganisasian rumah yang bisa membantu (Oh ya, FYI pekerjaan ini kini menjadi sebuah profesi yang prospektif dan cukup diminati lho, panggil saja Martha Steward, Allejandra Costello atau Marie Kondo). Jadi, menurut Anda apakah konsep pengorganisasian merupakan solusi tepat untuk konsumsi yang berlebihan ?

Konsumtif berlebihan terjadi ketika konsumsi melampaui kebutuhan. Ketika kita melakukan konsumsi lebih dari apa yang kita butuhkan, kemampuan kita untuk membedakan antara kebutuhan dan keinginan menjadi hilang. Kartu kredit memudahkan kita untuk menjadi konsumtif melebihi level kemampuan kita. Marketing dan iklan telah membentuk keinginan kita tentang kepemilikan materi, sementara budaya konsumsi di sekitar kita membuat konsumsi berlebihan terlihat wajar dan “umum”. 

Konsumsi berlebihan membawa kita pada keinginan memiliki rumah yang lebih besar, kendaraan yang lebih bagus, pakaian yang lebih trendi, teknologi yang lebih update, dan produk-produk pelengkap lainnya. Semakin banyak orang yang mencari kepuasan diri dan status sosial dengan kepemilikan barang, daripada pengalaman atau pencapaian profesional. Budaya modernlah yang telah membawa kita pada persepsi yang salah, bahwa kehidupan yang ideal dan kebahagiaan dapat ditemukan dalam kepemilikan barang, dan bahwa kegembiraan dapat dibeli di pusat perbelanjaan. Familiarkah kita dengan kondisi yang demikian?

Baru-baru ini, ada lagi sebuah gerakan yang tengah populer dan menarik diamati,  yaitu gaya hidup minimalis. Awalnya, minimalis adalah sebuah aliran seni lukis dan pahat yang mengutamakan logika, estetika dan kesederhanaan dan populer pada tahun 1960an. Aliran minimalis pun sering terlihat diterapkan pada berbagai arsitektur dan interior bangunan, bahwa apa yang disertakan adalah yang memiliki esensi dan manfaat saja sehingga bangunan dan ruangan terlihat lebih lapang, luas, dan bersih.  Lalu apakah minimalis jika diterjemahkan dalam gaya hidup?

Siapapun pasti setuju bahwa hari-hari kita semakin sibuk, terburu-buru sehingga terkadang kita merasa kewalahan dan tertekan. Ingin memenuhi tuntutan untuk multi tasking, namun justru kesulitan untuk fokus berfikir. Terkoneksi dengan banyak orang melalui ponsel  berinternet dan sosial media namun hubungan dekat dengan pasangan dan keluarga justru terabaikan. 

Gaya hidup minimalis diklaim dapat memperlambat laju dan membebaskan diri dari rollercoaster gaya hidup modern yang memaksa kita hidup serba terburu-buru dan instan, dengan membantu kita untuk memprioritaskan pada hal yang penting saja. Pernahkan Anda mengamati pakaian yang dikenakan Mark Zukerberg, dan Obama? Mark selalu memakai baju abu-abu setiap hari, dan Obama selalu mengenakan setelan abu-abu/biru dengan dasi biru setiap hari. Hal demikian bukan terkait selera pakaian mereka, melainkan upaya mereka untuk mengurangi beban dalam keputusan sehingga mereka bisa lebih fokus pada hal yang lebih penting.

Obama: “I’m trying to pare down decisions. I don’t want to make decisions about what I’m eating or wearing. Because I have too many other decisions to make.”

Zuckerberg  “I really want to clear my life to make it so that I have to make as few decisions as possible about anything except how to best serve this community,”

Filosofi dari minimalis adalah kesederhanaan dan kebebasan, dan minimalis merupakan alat yang membantu kita untuk fokus pada hal-hal yang penting, sehingga kita bisa lebih bahagia, memiliki kepuasan batin dan merasa bebas. Semua orang pasti mencari kebahagiaan dalam hidupnya, dan penganut minimalis  pun mencari kebahagiaan tetapi tidak melalui kepemilikan barang, melainkan dengan fokus pada apa yang penting bagi dalam hidup. 

Ketika sebagian besar orang mengejar kesuksesan, dunia yang glamor, dan popularitas, maka minimalisme mengajarkan kita untuk lebih sederhana & lebih tenang, lebih banyak bersyukur dan menikmati, sehingga kita bisa lebih fokus pada prioritas hidup. Tertarik kah Anda untuk mengenal lebih jauh tentang minimalis?   

 

Be content with what you have; rejoice in the way things are. When you realize there is nothing lacking, the whole world belongs to you. (Lao Tzu)

“The secret of happiness, you see, is not found in seeking more, but in developing the capacity to enjoy less (Socrates).