Mohon tunggu...
Aryono Putranto
Aryono Putranto Mohon Tunggu... Seorang pembelajar yang tinggal di kota pelajar

(semoga) menjadi penulis yang kritis

Selanjutnya

Tutup

Film

Interpretasi Pengetahuan dan Kebijaksanaan dalam Konteks "Ketidaksempurnaan" Diri dalam Film "Imperfect"

3 Januari 2020   17:01 Diperbarui: 3 Januari 2020   17:11 129 2 0 Mohon Tunggu...

Oleh: Ignatius Aryono Putranto
Dosen Fakultas Ekonomi, Program Studi Akuntansi, Universitas Sanata Dharma Yogyakarta
Email: aryono_16@yahoo.com

"Ih, kamu gendutan ya?"

"Itu lengan atau paha sih?"

"Jangan banyak-banyak makan karbo...buah aja deh...lebih bagus buat badan lho"

Ujaran-ujaran semacam itu semakin sering terdengar di era sekarang. Orang dengan mudah menghakimi sesamanya hanya berdasarkan apa yang mereka lihat. Ya, memang itu yang paling mudah dilakukan sih. Menghakimi penampilan orang lain tanpa memikirkan apakah yang dihakimi merasa tersakiti atau tidak, yang penting peluru-peluru kalimat itu dimuntahkan dulu dari senjata yang berupa mulut.

Kebiasaan tersebut pada akhirnya melahirkan istilah body shaming. Eliasdottir (2016) dalam thesisnya yang berjudul 'Is Body Shaming Predicting Poor Physical Health and is there a Gender Difference?' mendefinisikan body shaming sebagai berikut: "body shame is a concept that is used for the individuals' self-conscious, negative emotional response against one's self." Pada dasarnya, sejalan dengan definisi tersebut, orang yang melakukan body shaming cenderung memberikan respon negatif terhadap (bentuk tubuh) orang lain. Sepertinya hal ini pula yang ingin diangkat oleh Ernest Prakasa dalam film yang berjudul Imperfect

Sedari awal film ini sudah menunjukkan ke masyrakat bahwa memang saat ini ujaran negatif terkait tubuh orang lain sudah semakin jamak terjadi. Tokoh utama dalam film tersebut, seorang wanita karir, yang dengan tubuh khas-nya justru menjadi olok-olok orang di sekitarnya. Tulisan ini tidak akan menceritakan secara detil karena akan berujung pada spoiler. Tulisan ini akan lebih banyak membahas mengenai pentingnya pemahaman mengenai pengetahuan dan kebijaksanaan untuk diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

Secara konseptual, terdapat dikotomi yang jelas antara pengetahuan (knowledge) dan kebijaksanaan (wisdom). Laudon dan Laudon (2018) dalam bukunya yang berjudul Management Information System: Managing the Digital Firm, pada pembahasan mengenai Managing Knowledge, menyatakan bahwa pengetahuan merupakan transformasi dari informasi-informasi yang diterima, dan kebijaksanaan adalah pengalaman individu dan kolektif dalam menerapkan pengetahuan (yang dimiliki) sebagai solusi dari suatu masalah. 

Ujaran-ujaran yang kita berikan ke orang lain seperti contoh di bagian atas, biasanya memang berdasarkan pada pengetahuan yang kita miliki. Sebagai contoh, kita tahu bagaimana ciri badan orang gemuk. Kita juga tahu ada makanan yang tidak sehat bagi tubuh jika dikonsumsi secara berlebihan. Kita tahu bahwa setiap orang harus menjaga kesehatan badannya. Itulah pengetahuan. Kita mengetahui semua itu berdasarkan informasi-informasi yang kita dapatkan.

Bagaimana dengan kebijaksanaan? Hal ini yang sering kita lupakan. Kadang kita sudah merasa puas ketika kita memiliki banyak pengetahuan tetapi tidak punya kebijaksanaan. Dari contoh di bagian sebelumnya, kita memiliki banyak pengetahuan tentang tubuh dan kesehatan, tetapi kita tidak bijak dengan menyamaratakan setiap orang yang kita temui. kita sering menganggap orang yang bertubuh gemuk itu tidak layak dipandang, hidupnya tidak sehat, dan masih banyak lagi penghakiman kita berdasarkan pengetahuan yang kita miliki. Harusnya kita bisa berpikir bijak. 

Jika orang yang kita hakimi tersebut ternyata tidak merasa bermasalah dengan tubuh yang dimiliki, bagaimana harusnya kita bersikap? Kita perlu bijak menyadari bahwa 'ketidaksempurnaan' yang sesuai dengan asumsi kita bukanlah hal yang mutlak. Setiap orang punya kriteria sendiri mengenai konsep 'sempurna' dan 'tidak sempurna'.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x