Mohon tunggu...
ifa avianty
ifa avianty Mohon Tunggu...

Saya seorang penulis, ibu rumah tangga, senang membaca, memasak, dan kerja2 kreatif lainnya.

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Pilihan

Merawat Toleransi di Era Medsos lewat Sikap Pribadi

14 September 2016   15:15 Diperbarui: 14 September 2016   15:33 200 2 1 Mohon Tunggu...
Merawat Toleransi di Era Medsos lewat Sikap Pribadi
dokpri

Kenalkan anak pada keberagamaan, keberagaman, dan perbedaan, bersamaan dengan mereka mulai melek medsos. Biar seimbang :) . Foto koleksi pribadi.

Kata orang, bersikap toleran itu gampang gampang susah. Iya, karena ngomongnya memang gampang, tapi melakukannya itu yang susah. Kita manusia yang kadang punya banyak emosi sekaligus sampah emosi, yang butuh dikeluarkan saat itu juga atau lain waktu. Nah, kebanyakan kita lupa mengeluarkannya pada saat dan tempat yang kurang tepat. Apalagi jika ditunjang oleh karakter asli kita. Jadilah kita dikenal sebagai si sumbu pendek, gampang meleduk, dan panasan. Mendingan kalau Cuma dianggap baperan, nah kalau dianggap punya karakter senggol-bacok kan susah?

Zaman dulu, sebelum sosial media marak dan mengalahkan media-media lain, sikap panasan seperti yang saya gambarkan di atas tadi saja sering bikin repot, dikaitkan dengan hobinya memancing. Memancingnya bukan memancing ikan pula, tapi memancing kerusuhan atau memancing keributan. Apalagi zaman sekarang dimana sedikit-sedikit orang menggunakan sosial media, cari berita di sosial media, belajar masak hingga belajar agama di sosial media. Saya tidak tahu ya kalau ada orang yang belajar berenang dan mengendarai mobil/motor juga dari osial media, soalnya menurut saya, kedua ilmu tadi tidak bisa hanya dibaca, tapi harus dipraktekkan. Eh iya, ada Youtube ya. Bisa kan, belajar renang atau nyetir di Youtube?

Sekarang ini, apapun yang kita cari bertebaran di Google, Facebook, Twitter, Instagram, Path, Youtube, hingga Smule, dan Snapchat. Ilmu terasa semakin ‘murah’ dan mudah didapat. Jangan-jangan beberapa tahun lagi, profesi guru dan dosen semakin tidak diminati. Haduuuh….

Sebagai konsekuensinya, banyak hal yang sebetulnya remeh temeh tidak penting, cepat menjadi viral. Demikian pula, urusan rumah tangga orang (terutama figure public), kasus-kasus yang harusnya ditutupi, bahkan skandal antarnegara pun jadi ramai di ranah public dibicarakan seperti sedang ngopi dan ngemil gorengan di warteg. Semua orang berkomentar, menyetatus, dan mengeksiskan diri di sosial media, seakan tanpa filter. Tidak heran banyak seleb FB, selebtwit dan selebgram lahir hampir tiap hari. Media sosial juga ternyata menjanjikan bunga-bunga popularitas meski tak lama sifatnya.

Sebagai akibat selanjutnya adalah, di beberapa sisi orang makin toleran, sementara di sisi sebaliknya, banyak juga yang makin tidak toleran. Misalnya, dari kasus salah satu selebgram belum lama ini yang terkenal dengan hesteknya #relationshipgoals , anak anak muda kita seakan diajari untuk toleran terhadap gaya pacaran bebas, gaya hidup pesta setiap waktu, dan dramatisasi ala remaja putus cinta yang berlebihan. Sementara di sisi lain, banyaknya perang status dan perang twit tentang perbedaan pandangan dalam beragama dan berbangsa, yang dilakukan oleh seleb Facebook dan selebtwit berfollowe banyak, seringnya berujung saling fitnah, hamburan cacian dan makian, serta suasana panas di linimasa. Belum lagi yang saling mengadukan ke polisi. Haters dari kedua kubupun bebas melakukan apapun di medsos mereka.

Saya yakin, bukan ini yang diinginkan. Bukan ini bermedia sosial yang cerdas dan bijak. Ya memang kalau kita mau beres untuk sementara waktu, tinggal unfollow, unfriend, atau block sekalian akun-akun panasan itu. Tapi itu sebetulnya belum cukup. Bagaimana dengan orang lain yang mungkin tidak enak untuk melakukan itu, atau tidak mengerti?

Jadi, sebenarnya sensor mandiri kita dulu yang harus ditegakkan. Sensor untuk bijak memilih teman di dunia maya, bijak untuk membaca dan menyaring status/twit/foto, bijak untuk memposting status/twit/foto/blogpost/video. Jangan memposting atau komen dalam keadaan marah, bête, baper, dan tidak nyaman. Selalu niatkan sosial media kita untuk kebaikan dan hanya menyebarkan kebaikan dalam kesejukan. Jangan mudah terpancing. Dan… jangan menyebarkan sebuah info tanpa ilmu dan dasar yang kuat.

Paling penting lagi adalah mengajarkan orang-orang sekeliling kita, termasuk anak anak kita yang mungkin sudah mulai melek sosmed, untuk beragama dan berakhlak sejuk, damai, dan tidak panasan. Jangan biarkan mereka hanya belajar pada sosial media dan dunia maya. Mereka tetap harus mendapatkan pendidikan pembangunan karakter dari kita, orang tuanya. Artinya, mulai dari kita sendiri. Jika kita belum mampu beragama dengan bijak, jangan gegabah ngumpulin follower di media massa dulu, belajar dulu. Belajar agama itu kan harus sabaar, tidak bisa langsung jadi ustadz/ustadzah, ada proses panjang, terutama proses internalisasi di dalam diri. Orang tua sekaligus pengguna sosmed yang panasan dan gampang terpancing, akan menularkan sikap tersebut kepada anak-anak dan followernya. Mau dibawa Indonesia kita? Mau perang terus, rusuh terus, ribut terus?

Yuk, dengan sabar dan bijak, perlahan namun jelas, terangkan apa itu berbeda, bagaimana berbeda, mengapa ada perbedaan, dan bagaimana menyikapi perbedaan tanpa memancing keributan. Yuk, mulai dari diri kita, anak-anak kita, dan follower kita. Saya sih yakin, tidak ada agama yang mengajarkan kekerasan kepada penganutnya. Ayo, beragama dan berakhlak budi yang pas, yang bikin aman dan nyaman diri kita dan orang lain. Insha Allah, pahala kebaikan terlimpah untuk kita.

Foto Paskib SMAN 5 Depok (dokpri)
Foto Paskib SMAN 5 Depok (dokpri)
Indonesia gemilang, indah dalam perbedaan dan persamaan :) 

VIDEO PILIHAN