Senja Guzel
Senja Guzel learn-to-be writer.

Memperhatikan dan belajar.

Selanjutnya

Tutup

Cerpen Pilihan

"Mind Trick", Sebuah Solusi Praktis

9 November 2018   23:41 Diperbarui: 9 November 2018   23:44 234 1 0
"Mind Trick", Sebuah Solusi Praktis
cr: tripadvisor

"... Thanks banget, Pak"

Saya mengakhiri pembicaaan telepon. Situasi sudah lumayan terkendali. Beruntung saya masih dapat sinyal untuk menggunakan ponsel dan lokasi ini masih lumayan dekat dengan kota.

Barusan saya menghubungi penjaga hutan. Sebelumnya saya telah menghubungi pihak penginapan. Saya minta tolong dijemput dan dicarikan mobil derek untuk menderek sebuah mini bus. Pihak penginapan menyanggupi, namun karena ada pohon tumbang di tengah jalan, mungkin sekitar dua jam lagi baru sampai.

Singkatnya, kami ada di hutan bagian timur Indonesia. Setelah menikmati indahnya beragam objek wisata dan menjelajah hingga pukul 5 sore, kami akhirnya kembali pulang ke penginapan.

Sekitar 40 menit melaju, mendadak mobil berhenti. Pak Her, supir kami, keluar untuk melihatnya. Saya menyesali Pak Her yang tidak mengecek dulu mobilnya sebelum pergi. Tapi apa boleh buat, yang sudah terjadi maka terjadilah.

Setelah keluar mobil untuk menelepon dan mengecek kondisi, saya kembali masuk. Kevin menangis. Tangan Bu Prita, ibunya, dipeluknya erat, takut dengan suara - suara binatang nokturnal yang mulai bersiap melakukan aktivitasnya.

Saya jelaskan kondisinya dan bilang kalau saya sudah meminta bantuan.

Kanaya, memasang wajah kalut. "Hari makin gelap!" keluhnya. Anggi, hanya membalas ringan, "cuma gelap doang, takut... cemen!"

Pak Lukman dan Bu Prita tertawa kecil. "Tuh, kakak ini takut Kev, kamu harus bisa ngelindungin kak Kanaya!"

Kanaya tersenyum malu. Kemudian Anggi menyahut, "masa kalah sama Kevin, Nay?". Anggi menambahkan, "di situasi begini kalo lu aja takut gitu gimana anak kecil yang harusnya bergantung sama orang dewasa..."

Anggi mengeluarkan sebatang cokelat dari tasnya. Ia mematahkannya menjadi beberapa bagian dan membagikannya ke orang - orang di dalam mobil. "Katanya cokelat bisa bikin rileks. Mending kita makan dulu" katanya seraya memberikan potongan paling besar untuk Kevin agar berhenti menangis.

Ketika saya keluar untuk kembali mengecek kondisi, Pak Lukman mengikuti saya. Beliau kemudian memasang wajah cemas.

"Mbak, Fred belum balik lho..." katanya. Fred menolak untuk ditemani karena ia merasa biasa berada ditengah hutan seperti ini.

Fred adalah ahli biologi. Katanya, beliau sempat menetap di Kalimantan selama beberapa tahun makanya bahasa Indonesianya cukup fasih. Setelah tugas riset di hutan hujan  Indonesia usai, Fred pulang ke negaranya dan akhirnya kembali lagi ke Indonesia sebagai turis.

"Bantu saya cari Fred, Pak..." pinta saya ke Pak Lukman.

Saya infokan ke semua kalau saya dan Pak Lukman akan mencari Fred. Pak Lukman memberikan inhaler, obat asma Kevin, ke istrinya. Mereka selalu siap membawanya untuk jaga - jaga kalau Kevin kambuh mendadak.

Saya menghampiri Pak Her sebelum mulai mencari. "Pak,di dalem ada dua kotak makan, Bapak makan aja dulu yang satunya sambil istirahat sekalian." Saya takut penyakit jantungnya kambuh. Kevin juga bisa ikut kambuh asmanya. Harus tetap tenang dan terkendali! pikir saya.

Fiuuuu!

Ada bunyi peluit!

Saya dan Pak Lukman segera mencari arah sumber suara. Kami telusuri dengan hati - hati dan berteriak memanggill Fred.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3