Mohon tunggu...
IDRIS APANDI
IDRIS APANDI Mohon Tunggu... Penulis - Penikmat bacaan dan tulisan

Pemelajar sepanjang hayat.

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Artikel Utama

Ada Pendidikan Karakter di Bandara Husein Sastranegara, Bandung

23 September 2017   11:26 Diperbarui: 23 September 2017   20:33 3202
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Jumat, 22 September 2017 saya kembali menginjakkan kaki di Bandara Husein Sastranegara, Bandung setelah beberapa hari bertugas dari luar daerah. Sebelum keluar dari bandara, saya dan juga banyak penumpang lainnya masuk dulu ke toilet untuk buang air. Seperti biasa, di depan toilet ada petugas yang membersihkan toilet. Dia tidak bosan-bosan mengepel lantai toilet. Tiap ada jejak kaki, dia langsung membersihkannya, karena memang tugasnya demikian.

Sesuai SOP yang telah dibuat, toilet memang harus bersih, karena hal tersebut dari bagian pelayanan prima demi kepuasan pelanggan. Selain toilet yang bersih, ada yang baru ruang toilet Bandara Husein Sastranegara, yaitu terdapatnya tulisan-tulisan peribahasa Sunda yang menempel pada dinding toilet. Peribahasa tersebut selain disajikan dalam bentuk huruf dan Bahasa Sunda, juga disertai dengan artinya dalam Bahasa Indonesia.

Sebagai tempat umum yang banyak dikunjungi oleh orang-orang baik dari dalam dari dalam negeri maupun dari luar negeri. Bagi orang Sunda, tulisan-tulisan yang menempel di dinding pun bisa dijadikan sarana untuk mengingatkan kembali filosofi kehidupan suku Sunda, dan bagi yang bukan orang sunda, tulisan-tulisan tersebut sebagai sarana untuk memperkenalkan karakter suku sunda.

Tulisan-tulisan yang menempel pada dinding toilet tersebut antara lain:

"Tungkul ka jukut, tanggah ka sadapan" yang artinya: fokus pada pekerjaan yang dihadapi, tidak tergoda oleh hal-hal lain.

"Nt taraj, nincak hambalan" yang artinya: mengerjakan sesuatu sesuai dengan prosedur dan sistem yang teratur.

"Caina hrang, laukna benang" yang artinya: dapat menyelesaikan permasalahan tanpa pertentangan atau pihak yang dirugikan, atau istilahnya win-win solution.

"Landung kandungan, lar aisan" yang artinya: segala sesuatu dipertimbangkan, selalu hati-hati dalam memutuskan suatu perkara.

"Ka cai jadi saleuwi, ka darat jadi salebak" yang artinya seia sekata, hidup rukun saling menghormati.

Selain peribahasa-peribahasa di atas, masih banyak peribahasa Sunda yang memberikan pelajaran hidup, tetapi mungkin hanya beberapa peribahasa yang dipilih oleh pengelola bandara.

Setelah keluar pintu bandara, sambil menunggu keluarga yang menjemput, saya pun berjalan-jalan dan melihat-lihat di sekitar terminal kedatangan. Pada dinding tembok ada lukisan atau grafiti indah yang bertuliskan, "Pada saat engkau terbang tinggi di angkasa raya, semua berada di bawahmu. Akan tetapi, tempatkanlah hatimu di bawah mereka semua." Dan pada bagian bawahnya tertulis Marsekal Soerjadi Soerjadarma.

Peribahasa di atas memberikan pelajaran kepada yang membaca agar memiliki sifat rendah hati, jangan sombong, walau memiliki jabatan, gelar, dan pangkat yang tinggi, karena hal tersebut hanya titipan dari Tuhan. Selain itu, ketika kita naik pesawat, berada tinggi di angkasa, suau saat akan turun, kembali ke bumi. Artinya, ketika kita berada di atas, jangan lupa bahwa suatu saat kita akan turun, kembali kepada kondisi semula.

Pada grafiti tersebut terdapat lukisan Husein Sastranegara, pahlawan nasional (1919-1946), salah satu perintis lahirnya TNI AU. Hal ini memberikan pesan bahwa kita sebagai Bangsa Indonesia harus menghormati jasa-jasa pahlawan dan memiliki rasa cinta tanah air. Selain itu, pelajaran yang dapat diambil adalah bahwa orang yang berjasa, banyak memberikan manfaat untuk masyarakat akan dikenang. Namanya akan ditulis dengan tinta dalam sejarah.

Dok. Pribadi.
Dok. Pribadi.
img-20170922-110433-59c5e20a9002c14f8356d2f2.jpg
img-20170922-110433-59c5e20a9002c14f8356d2f2.jpg
img-20170922-110424-59c5e21da0d5d03c6b671652.jpg
img-20170922-110424-59c5e21da0d5d03c6b671652.jpg
Selain tulisan pada dinding toilet terminal kedatangan dan juga grafiti yang ikut memperindah Bandara Husein Sastranegara, ada nilai-nilai pendidikan karakter yang dapat dijadikan pedoman. Misalnya antisipatif, disiplin, ketertiban, menaati aturan, menjaga kebersihan, saling menghargai, bersabar, berdoa sebelum berangkat, dan sebagainya.

Berdasarkan hal yang saya uraikan saya di atas, nilai-nilai pendidikan karakter dapat kita temui di mana saja, termasuk di tempat-tempat umum atau dalam perjalanan. Bukan hanya sekedar taveling,tetapi merenungkan setiap yang kita lihat atau kita jumpai, dan menjadikannya sebagai pelajaran. Karena hakekatnya, bagi manusia-manusia yang berpikir, pelajaran dapat didapatkan di mana saja, kapan saja, dan dari siapa saja.

Bandara Husein Sastranegara yang merupakan salah satu pintu masuk dan keluar dari Bandung, dan juga salah satu ikon kebanggan Jawa Barat yang semakin ditata dengan baik, semoga semakin membuat orang-orang yang datang ke sana nyaman, betah, dan memiliki kesan yang positif terhadap pelayanannya.

Oleh:
IDRIS APANDI
(Penulis Buku Revolusi Mental Berbasis Pendidikan Karakter, Buku Gerakan Literasi Sekolah dan Penguatan Pendidikan Karakter, dan Ketua KPLJ)

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Humaniora Selengkapnya
Lihat Humaniora Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun