Mohon tunggu...
IDRIS APANDI
IDRIS APANDI Mohon Tunggu... Penulis - Penikmat bacaan dan tulisan

Pemelajar sepanjang hayat.

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Pilihan

Makna Menulis dalam Berbagai Sudut Pandang

15 April 2017   00:38 Diperbarui: 15 April 2017   10:00 515
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

MAKNA MENULIS DALAM BERBAGAI SUDUT PANDANG

Oleh:

IDRIS APANDI

(Widyaiswara LPMP Jawa Barat, Ketua Komunitas Pegiat Literasi Jabar/ KPLJ)

Malam ini, di wall FB, Saya menulis status sederhana, yaitu, “menulis adalah…” dan ternyata cukup banyak yang memberikan jempol dan komentar atas status Saya tersebut. Jempol dan komentar merupakan sebuah perhatian dan respon nyata terhadap status Saya dari para pembaca.

Saya tergelitik dengan beragam komentar yang muncul, antara lain; menulis adalah mengukir sejarah. Menulis itu mencurahkan perasaan yang ada di hati dan pikiran melalui tulisan. Menulis itu memindahkan obrolan ke dalam tulisan. Menulis itu mencerdaskan. Menulis itu mengasyikkan. Menulis itu bermain dengan imajinasi. Menulis itu menumpahkan pengalaman dan mampu menginspirasi.

Selanjutnya, menulis adalah seni merangkai kata-kata dan memerlukan keterampilan khusus untuk melakukannya. Menulis itu malas di awal, tapi kalau telah dijalani mengasyikkan. Menulis itu “sesuatu banget” sakingsulitnya untuk menggambarkannya. Menulis itu hiburan. Menulis itu rekreasi. Menulis itu susah. Menulis itu indah. Menulis  itu keren. Menulis itu hebat. Menulis itu penasaran, dan sebagainya.

Menurut Saya, beragam komentar tersebut semuanya benar, karena sebuah komentar biasanya dipengaruhi oleh pemahaman dan pengalaman sang pemberi komentator. Oleh karena itu, sikap yang harus dikedepankan adalah saling menghargai dan menghormati terhadap setiap komentar agar tidak berdampak buruk terhadap masing-masing pihak.

Menulis itu menyenangkan bagi yang memang telah terbiasa, terampil, atau hobi menulis. Menulis itu sulit bagi yang masih dihantui rasa takut dan sebenarnya belum benar-benar serius mencobanya. Menulis itu malas bagi orang yang tidak mau keluar dari zona nyamannya. Menulis itu perjuangan bagi yang saat ini berjuang untuk mampu menulis. Menulis itu tantangan bagi yang sedang menghadapi tantangan menulis sebuah tulisan atau buku. Menulis itu mengasyikkan bagi orang yang menikmati aktivitas tersebut.

Menulis itu penasaran karena sejak lama ingin menulis, tapi dengan saat ini belum juga dilakukan. Menulis itu keren karena hal tersebut baik untuk dilakukan oleh seorang manusia. Menulis itu mencerdaskan karena tulisan dapat menjadi sarana menambah wawasan. Menulis itu adalah sedekah karena melalui tulisan seseorang dalam berbagi ilmu dan pengalaman.

Menulis itu adalah perjuangan karena memperjuangkan idealisme dan cita-citanya untuk mengubah suatu situasi yang tidak sesuai dengan nuraninya. Menulis itu prestasi karena sebuah karya tulis dapat menjadi simbol prestasi seseorang. Menulis itu indah karena diawali sebuah usaha yang susah payah, ketika tulisan tersebut selesai, menjadi akhir yang indah bagi sang penulis.

Menulis adalah mengukir jejak sejarah, karena dengan menulis dia meninggalkan warisan pemikiran kepada generasi berikutnya. Penulisnya sudah tiada, tetapi pemikirannya tetap lestari dan abadi. Menulis adalah ibadah, karena menulis bisa menjadi sarana untuk amar makruf nahyi munkar,mengajak orang kepada kabaikan, dan melarang kepada keburukan.

Beragam makna tersebut bagi Saya menjadi bahan renungan bahwa menulis merupakan aktivitas yang unik dan memiliki beragam tujuan. Menulis sebenarnya merupakan aktivitas yang sangat mendasar. Sejak kecil seorang anak diperkenalkan huruf, lalu belajar membaca, dan berikutnya belajar menulis kata, lalu merangkai menjadi kalimat, kemudian menjadi sebuah paragraf, sampai akhirnya menjadi sebuah karangan. Hal tersebut tentunya memerlukan proses, perlu dilakukan secara bertahap.

Jika ada orang ada yang mengatakan tidak bisa menulis, Saya kira itu tidak sepenuhnya benar, karena dia minimal menulis nama lengkap atau alamat rumahnya. Hanya yang dimaksud oleh dia adalah tidak dapat menulis dalam konteks yang lebih luas, yaitu menulis sebuah artikel atau buku.

“Buta huruf” zaman sekarang mungkin sudah bukan lagi diartikan tidak dapat menulis kata atau kalimat pendek, tetapi belum dapat menulis artikel atau buku. Jika demikian, maka Saya kita kira banyak kalangan berpendidikan memiliki tugas  untuk membebaskan dirinya dari “buta huruf”, menjadi manusia yang literat dan terampil menulis.

Apakah setiap orang berpendidikan harus menjadi penulis dalam artian sebagai profesi? Tentu juga tidak, karena semua punya passion dan pilihan di bidang masing-masing. Walau demikian, alangkah indahnya jika setiap pekerjaan atau profesi apapun dilengkapi dengan kemampuan menulis karena dengan menulis, dia bisa menyebarkan ilmu dan pengalamannya ke khalayak luas.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Humaniora Selengkapnya
Lihat Humaniora Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun