Mohon tunggu...
Idei Khurnia Swasti
Idei Khurnia Swasti Mohon Tunggu... Dosen - a Life Learner - Psikolog Klinis

Mental health enthusiast dengan fokus pada human well-being, social support, dan positive communication.

Selanjutnya

Tutup

Lyfe Artikel Utama

Mindfulness vs Roller Coaster "Overthinking" di Kepala Kita

23 Januari 2022   09:09 Diperbarui: 25 Januari 2022   16:05 1124
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Bagikan ide kreativitasmu dalam bentuk konten di Kompasiana | Sumber gambar: Freepik

Disclaimer dulu ah. Sebenarnya, saya belum pernah naik roller coaster sih, jadi saya amat sangat tidak kompeten untuk memberikan testimoni tentang betapa mualnya jungkir balik di atas sana. 

Well, saya cuma bisa berkomentar dari sudut pandang PENGAMAT aja ya, setelah saya mendengar dan melihat pengalaman teman-teman saya di wahana itu.

Ini nih.

Tidak jarang dalam kehidupan sehari-hari kita, kita terlalu banyak 'menyerap' informasi baik menggunakan indera penglihatan (seperti melihat, membaca) atau indera pendengaran (seperti mendengarkan cerita atau curhatan seseorang) yang kemudian kita timbun sampai overload di kepala kita. Kondisi ini disebut sensory overload.

Kadang malah jadi bumerang untuk diri sendiri. Baru ngeliat orang lain yg ngejalanin eh tapi sendirinya sudah ketakutan, sudah cemas duluan, sudah langsung menolak dan menutup segala kemungkinan.

Ada quote (entah dari mana, saya lupa hehe), "Manfaatkan keberuntungan pemula, selalu ada pengalaman pertama untuk semua hal", yang challenging banget untuk coba diterapkan. 

Iya, saya sepakat. Tapi kalau ga dicoba yaaaa..tetep aja bakalan ketakutan sendiri akibat overthinking-nya, ya ga sih?

Kata saya sih, meskipun berat, overthinking itu harus dilawan. Seperti kalau kita lihat orang naik roller coaster sambil dilemesin aja, santuy aja, ikutin aja, eh tahu-tahu sudah sampai di ujung. Udah selesai. Malahan orang itu bisa ngerasa happy dan lega. 

Kok bisa?

Sepertinya, karena dia berfokus pada sensasi yang diterima saat berada di atas sana dan menepiskan pikiran "jangan-jangan nanti begini begitu" yang memunculkan cemas dan takut. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
Mohon tunggu...

Lihat Konten Lyfe Selengkapnya
Lihat Lyfe Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun