Mohon tunggu...
I Gede Sutarya
I Gede Sutarya Mohon Tunggu... Dosen - Penulis dan akademisi pada Universitas Hindu Negeri I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar

Lahir di Bangli, 8 November 1972 dari keluarga guru. Pendidikan SD sampai SMA di tempat kelahirannya Bangli. Menempuh Diploma 4 Pariwisata di Universitas Udayana selesai tahun 1997, S2 pada Teologi Hindu di IHDN Denpasar selesai tahun 2007, dan S3 (Doktor Pariwisata) di Universitas Udayana selesai tahun 2016.

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Pilihan

Mudik, Potensi Wisata Diaspora

1 Mei 2022   14:02 Diperbarui: 1 Mei 2022   14:07 131 5 1
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Lihat foto
Sembahyang ke tempat suci keluarga (klan) adalah salah satu aktivitas wisata diaspora (dokpri)

Setiap menjelang lebaran, orang-orang Jawa khususnya melakukan mudik. Mereka pulang ke kampung orang tua untuk bertemu orang tua, saudara, dan teman untuk bermaafan. Tradisi mudik sebenarnya tradisi asli Nusantara yang menghormati leluhur. Mudik merupakan perwujudan dari hormat kepada leluhur, baik yang masih hidup (orang tua) maupun yang sudah meninggal. Karena itu, mudik juga kerap menjadi ziarah ke kuburan orang tua (leluhur). Contohnya  warga Desa Santapan, Ogan Hilir , Sumatra menjelang lebaran selalu melakukan ziarah talang ke kuburan untuk menghormati leluhur (Andriani dkk, 2021).

Pada masyarakat non-Islam seperti Bali (Hindu), mudik dilakukan setiap enam bulan sekali ketika terjadi upacara pada tempat suci leluhur. Pada saat upacara itu, mereka berkumpul bersama keluarga besar untuk melakukan persembahyangan. Tradisi ini juga terjadi pada masyarakat Hindu di India. Masyarakat Hindu di India memiliki kula devata (dewa klan yang berasosiasi dengan leluhur) yang memiliki tempat suci di desa-desa tua di India, sehingga mereka merasa perlu untuk datang bersembahyang ke tempat tersebut.

Pada masyarakat India, tradisi mudik ke tempat-tempat suci kula dewata ini menjadi wisata diaspora, sebab keturunan India tersebar di seluruh dunia. Keturunan-keturunan India menjadi potensi wisatawan diaspora yang berkunjung ke daerah asal-usul leluhurnya. Wisatawan diaspora ini, paling getol digarap Israel yang merupakan negara Yahudi. Orang-orang Yahudi di seluruh dunia memiliki kerinduan untuk mengunjungi tanah leluhurnya di Israel. Kerinduan ini menjadi pasar wisata diaspora.

Negara-negara Afrika juga menggarap wisatawan diaspora ini, sebab pada era perbudakan pada sekitar abad ke-17-18 Masehi, banyak orang-orang Afrika dijual menjadi budak di Amerika dan wilayah lainnya. Keturunan mereka yang kini sebagian sudah sukses, ingin mengunjungi tanah leluhur mereka. Karena itu, banyak pelabuhan-pelabuhan Afrika yang dulu menjadi pintu masuk penjualan budak menjadi destinasi wisata diaspora, untuk mengenang perdagangan budak di masa lalu.

Indonesia juga memiliki diaspora di mana-mana di seluruh dunia. Jawa misalnya memiliki diaspora di Suriname, Amerika Selatan. Orang-orang Jawa ini sudah tentu memiliki kerinduan untuk berkunjung ke tanah-tanah leluhurnya. Karena itu, mereka bisa menjadi sasaran wisatawan diaspora. Selain orang-orang Jawa, orang-orang Sumatra yang gemar merantau juga memiliki diaspora di mana-mana di seluruh dunia. Mereka itu menjadi sasaran wisatawan diaspora di kemudian hari.

Pasar wisatawan diaspora ini adalah pasar wisata yang tak ada penggantinya. Karena diaspora Jawa misalnya, pasti akan ingin berkunjung ke Jawa. Hal ini berbeda dengan wisatawan budaya atau alam, yang memiliki pengganti di wilayah lainnya. Misalnya Bali, memiliki pengganti Kamboja atau Thailand, yang memiliki kultur dan alam yang mirip. Karena itu, penting bagi pemerintah Indonesia untuk menggarap wisata diaspora ini.

Berdasarkan data, penduduk Suriname sekitar 534 ribu. Penduduk dari suku Jawa sekitar 15 persen atau sekitar 80 ribu (tirto.id, 2022). Mereka selalu berusaha untuk mencari keluarganya di Jawa, tetapi mereka mengalami kesulitan untuk itu. Karena nama-nama mereka telah diubah kolonial Belanda sehingga mereka tidak ada keinginan pulang (Kompas.com, 1/4/2020). Kejadian ini mirip dengan orang-orang Bali di Batavia, yang nama-nama mereka sudah diubah sehingga mereka tidak bisa lagi mencari keluarganya di Bali. Orang-orang Afrika atau India juga diperlakukan yang sama, sehingga mereka tidak bisa lagi menelusuri jejak leluhurnya.

Akan tetapi, pada saat ini, mereka menggunakan media sosial untuk mencari keluarga mereka. Cerita-cerita orang-orang tua tentang keluarga yang hilang di masa lalu, tersambung sekali sehingga sebagian dari mereka dapat menemukan keluarganya di daerah asal. Penemuan mereka mendorong kunjungan ke keluarga asal untuk berkenalan, atau untuk mengunjungi kuburan-kuburan leluhur di masa lalu.

Indonesia (Jawa) juga memiliki kuburan tokoh-tokoh masa lalu yang terkenal seperti para kyayi atau raja. Tokoh-tokoh ini pasti memiliki hubungan dengan para diaspora ini sehingga bisa menjadi destinasi wisata diaspora. Di dalamnya termasuk candi-candi yang dibangun para raja di masa lalu, yang memiliki catatan sebagai stana leluhur Nusantara. Karena itu, candi-candi ini bisa menjadi destinasi wisata diaspora sambil mempelajari sejarah kejayaan leluhur.

Diaspora ini tidak hanya berlangsung di masa perbudakan dulu. Pada masa kemerdekaan Indonesia pun, banyak orang Indonesia yang mencari pekerjaan di luar negeri. Mereka ini sebagian menetap dan berkeluarga di negara-negara tersebut. Mereka ini juga disebut diaspora yang akan menunjang perkembangan wisata diaspora. Karena itu, tradisi mudik akan menjadi bisnis pariwisata yang menguntungkan jika digarap dengan baik. Apalagi jika mereka kemudian ikut mengajak teman-temannya untuk berkunjung ke Indonesia. Kedatangan mereka ini akan menyemarakkan pariwisata Indonesia di masa mendatang.

Mohon tunggu...

Lihat Konten Sosbud Selengkapnya
Lihat Sosbud Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!

Video Pilihan

LAPORKAN KONTEN
Alasan