Mohon tunggu...
Djamaluddin Husita
Djamaluddin Husita Mohon Tunggu... Lainnya - Memahami

Blogger, Ayah 3 Putra dan 1 Putri. Ingin menyekolahkan anak-anak setinggi yang mereka mau. Mendorong mereka suka membaca dan menulis (Generasi muda harus diarahkan untuk jadi diri sendiri yang berkarakter).

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Artikel Utama

Duka Anak-anak Palestina Belum Akan Berakhir

9 Desember 2017   12:21 Diperbarui: 10 Desember 2017   12:48 5837
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Bagikan ide kreativitasmu dalam bentuk konten di Kompasiana | Sumber gambar: Freepik

Begitu pula pada saat pecah perang dengan persenjataan yang sangat jauh berbeda antara Israel dan orang-orang palestina. Pasti pada saat mencari Hamas kelompok garis keras Palestina yang melawan ketidakadilan Israel terjadi penyisiran. Kita dapat merasakan apa yang terjadi. Bahkan kekerasan secara nyata dilakukan di depan anak-anak. Bahkan pasti ada anak-anak yang dijadikan objek penyiksaan.

Akibat dari perang, apakah mereka ikut bertempur atau tidak, tetap saja banyak korban yang gugur. Tempat tinggal hancur. Tentu saja anak-anak kehilangan orang tua mereka. Kehilangan tempat tinggal tempat bermain-main mereka.

Bukan hanya itu saja anak-anak Palestina merasakan hal yang tidak wajar. Mungkin, karena melihat ketidakberdayaan yang mereka saksikan tidak kurang dari mereka, meskipun masih berumur anak-anak, ikut turun tangan berjuang mempertahankan tanah air dari serobotan Israel.

Maka lihatlah, yang melakukan intifadah itu juga anak-anak. Saya yakin mereka tidak ada pilihan lain kecuali harus ikut berjuang dengan tujuan membebaskan tanah kelahirannya dari Israel. Dari media kita lihat, bukan hanya anak laki-laki tetapi juga anak perempuan tanpa rasa takut, meski berhadapan dengan popor senjata, mereka melawan dengan suara  yang tinggi dihadapan prajurit Israel.

Bukan lagi sebuah rahasia, akibat dari itu, tidak sedikit anak-anak Palestina yang diborgol, di tahan dan harus mendekam dalam penjara serta ada yang ditembak mati. Link

Menurut informasi Jejaringnya, Gerakan Buruh untuk Membela Anak-Palestina Oktober 2017 menyatakan bahwa lebih dari 12 ribu anak-anak Palestina telah ditangkap oleh Israel sejak tahun 2000. Pada Agustus 2017, ada 331 anak di bawah umur di penjara Israel.

Selain itu, lebih 80  persen anak-anak yang dipenjarakan menghadapi penyiksaan fisik selama penahanan dan interogasi. Dalam penjara, anak-anak Palestina menghadapi perlakuan buruk. Ketika anak-anak ditangkap, kata kelompok tersebut, mereka dibawa untuk diinterogasi dengan mata tertutup dan tangan serta kaki diborgol dan mereka tak bisa tidur seperti orang normal.

Belum Akan Berakhir

Agaknya penderitaan anak-anak Palestina belum akan berakhir. Adalah Presiden Amerika Serikat Donald Trump  beberapa hari lalu membuat pernyataan pengakuan Yerusalem menjadi Ibu Kota Israel yang sebelumnya di Tel Aviv. Pernyataan dan sikap Amerika Serikat ini dianggap kontroversial karena bertentangan dengan berbagai perjanjian Internasional.

Apa yang terjadi saat ini? Berbagai media memperlihatkan terjadinya peningkatan instalasi kekerasan di Yerusalem. Warga Palestina termasuk anak muda melakukan gerakan intifada melawan tentera Israel di tempat-tempat blokade. Menurut berita, Israel dengan persenjataan canggih membalas melalui serangan udara yang mengakibat jatuh korban luka-luka warga Palestina.

Menurut pengamat dunia, apa yang dilakukan Trump akan memulai babak baru konflik di Palestina. Artinya, konflik-konflik dan peperangan antara Pejuang Palestina dan Israel akan terus terjadi dan otomatis sulit untuk diperoleh jalan damai. Meskipun, Israel didukung penuh Amerika Serikat, namun pejuang Palestina tetap akan berjuang terus mempertahankan haknya.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Humaniora Selengkapnya
Lihat Humaniora Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun