Mohon tunggu...
Den Ciput
Den Ciput Mohon Tunggu... I'm a writer...

Just Ordinary man, with the Xtra ordinary reason to life. And i'm noone without God.. http://ceritacipoet.blogspot.com

Selanjutnya

Tutup

Cerpen

Balada si Karin

7 Oktober 2019   02:37 Diperbarui: 7 Oktober 2019   15:05 139 3 0 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Balada si Karin
Ilustrasi. Sumber : vectorstock

Alan punya teman sekampus. Banyak kan? Hush..bukan itu maksudnya. Maksudnya, Alan ada teman di kampus, seorang cewek, pendiam, jutek, misterius, tapi manis dan cantik. Macan deh pokoknya. Namanya Karin. Walau cantik, tak ada satu cowok pun berani mendekat. Tak satupun!
Karena memang begitulah. Iya begitu itu, judes nggak ketulungan. Tapi tak ada kesan bahwa Karin jual mahal demi meninggikan mutu atau menaikkan posisi tawar agar dapat cowok berkualitas misalnya. Karin galak ya memang galak. Tak ada alasan apapun.


Pernah satu ketika pas di kantin, Alan tak sengaja nyenggol lengan Karin sewaktu Alan jalan mau keluar, tanpa di duga Alan di damprat habis-habisan.
" Kalau jalan liat-liat dong, senggol-senggol, apaan sih? Situ mau cari kesempatan?" Mata Karin melotot kayak biji matanya mau keluar dari kelopak. Alan Cuma bisa diam memandangi Karin dengan penuh rasa bersalah tanpa bisa berucap apapun.
Alan berharap bahwa Karin bisa memaafkan tanpa Alan perlu berucap. Cukup dengan pandangan mata saja. Tapi apa yang terjadi?
" Apa lihat-lihat? Nggak seneng loe!?" Suara Karin makin meninggi. Muka Alan memerah malu. Hampir seisi kantin diem, mendadak kantin sunyi. Seolah malam hari ditengah hutan, yang terdengar hanya," kriikkk...krikk..kriikkk" Suara binatang malam yang di dominasi jangkrik, bos!

" Sudah...sudah, kesenggol gitu aja kok rame. Nggak berkurang cantiknya ini kan?" Gio menengahi.
Tapi, " Loe mau belain dia? Mentang-mentang loe kroninya, gitu?"
" Kroni..kroni, kayak ORBA, Orde Bubar, orde gak kepakai. Masalah senggolan aja kok bawa-bawa kroni, " Gio tak mau kalah.
" Owwh....jadi loe ngajakin ribut yeee?" Karin mangkin tancap gas.

Gio gelagapan. Kini Gio harus berperang di perang yang bukan perangnya. Menghadapi monster cantik.

Alan yang tadi menyesal kini malah pengin ngakak. Lagian ngapain sih Gio ikutan. Belain sih belain, tapi lihat dong siapa musuhnya, bagaimana cara menaklukkannya.

Soal ginian Alan bolehlah Jumawa. Paling bisa nundukin hati makhluk hawa.
Tapi untuk yang satu ini Alan perlu cari strategi yang pas. Agar semua terselesaikan dengan baik. Belum juga strategi ditemukan muncul Gio memperkeruh suasana. Kacau ..

Alan menarik tangan Gio." Pada mau kabur kemana loe? Segitu doang kah mental kalian?" Karin hampir mengejar dua cecunguk penghuni kampus yang bengal itu. Tapi atiek mencegah.

Alan membalikkan badan sambil mengerling ke arah mantannya. Yang dilihat Cuma diam mendengus.

" Gue heran sama tuh cewek, masak gitu aja bisa murka kayak Firaun yang hartanya di korupsi para begundalnya, " Serapah Gio pas mereka sudah lumayan jauh dari medan pertempuran.
Mereka duduk berdua, tapi bukannya asyik ngobrol. Malah pada asyik main gadget, kejadian selnjut ada suara-suara permainan dari gadget mereka berdua. Begitulah orang jaman sekarang, duduk berdua bukanya ngobrol, malah asyik dengan dunia masing-masing. Khas manusia kekinian.


" Bro.." Alan buka suara.
" Napa? " Gio nyahut ogah-ogahan.
" Nurut loe Karin tuh normal nggak sih?"
" Yeee..mana gua tahu. Kok tanya ke gua sih? Lagian normal atau gak kan bukan urusan kita, " Sergah Gio.

Suasana sepi lagi. Mereka kusyuk dengan pikiran masing-masing.
Alan tak habis pikir dengan kejadian barusan yang dialami. Cuma senggolan dan jadi rame. Apa masalah tuh cewek. Sebenernya tadi Alan hendak meminta maaf secara lisan, tapi Gio mengacaukan segalanya. Niat Gio sih bagus, membela Alan. Tapi caranya aja yang salah, cenderung menyerang balik.
Mending orang biasa, ini manusia 'luar biasa', luar biasa galak dan jutek. Pokoknya di kampus ini noone like Karin. Titik. Gitu aja.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
  5. 5
  6. 6
  7. 7
  8. 8
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x