Mohon tunggu...
Edukasi

Dampak Perubahan Gaya Industri Revolusi 4.0

7 Mei 2019   02:51 Diperbarui: 7 Mei 2019   03:02 0 0 0 Mohon Tunggu...

Seiring bertambahnya umur bumi dan berkembangnya berbagai teknologi muncul sebuah gagasan baru yaitu revolusi 4.0. Kehadiran revolusi industri ini tidak dapat dielakkan dari kehidupan manusia. Meskipun konsepnya masih belum tersebar luas, namun diperkirakan berpotensi merubah berbagai aspek kehidupan manusia. 

Ciri mendasar dari model Industri 4.0 adalah kombinasi dari beberapa perkembangan teknologi terbaru seperti sistem, teknologi informasi dan komunikasi, jaringan komunikasi, big data dan cloud computing, simulasi serta peralatan yang dikembangkan untuk kemudahan interaksi manusia dengan komputer. 

Konsep industri 4.0 menjanjikan keuntungan bagi perusahaan yang bergerak dalam bidang manufaktur. Seperti adanya fleksibilitas proses produksi, peningkatan kualitas produk, kecepatan dalam proses produsi maupun pengiriman produk, pengambilan keputusan berdasarkan data, dan kedekatan dengan pelanggan lebih baik.

Revolusi industri 4.0 pertama kali diperkenalkan oleh seorang pakar ekonomi dunia berasal dari jerman, pendiri sekaligus menjabat sebagai ketua Word Economic Forum (WEF). 

Dalam buku karangan beliau yang berjudul "The Fourth Industrial Revolution" disebutkan bahwa dunia telah mengalami empat proses tahapan revolusi, yaitu, pertama revolusi industri 1.0 yang terjadi pada abad 18 dimana ditemukan mesin uap untuk membantu proses produksi. 

Kedua,  revolusi industri 2.0 yang terjadi pada abad 19-20 dengan adanya pemakaian listrik sehingga pada fase ini banyak ditemukan berbagai penemuan, seperti lampu, televisi, mesin telegraf dan lain sebagainya

Ketiga, muncul revolusi industri 3.0 yang ditandai dengan adanya pemakaian computer sebagai alat untuk mempermudah pekerjaan, mengubah pola relasi dan komunikasi masyarakat kontemporer, revolusi ini mengedepankan sisi real time. 

Keempat, adanya terobosan  revolusi 4.0 yang dimulai pada tahun 2010 an melalui rekaya intelegensia dan internet of thing. Dalam revolusi industry ini segala bentuk teknologi komunikasi dimanfaatkan sepenuhnya dalam penggunaanya. Revolusi industri 4.0 banyak mengalami perubahan besar, tidak hanya terkait proses produksi tetapi juga mempengaruhi rantai industri sendiri.

Bersaing dalam dunia global melalui percepatan implementasi industri 4.0. Angela Merkel (2014, dalam Prasetyo dan Sutopo, 2018) berpendapat bahwa Industri 4.0 adalah transformasi komprehensif dari keseluruhan aspek produksi di industri melalui penggabungan teknologi digital dan internet dengan industri konvensional. Schlechtendahl, dkk (2015, dalam Ibid). 

Sehingga saat ini, kementerian industry giat  merancang roadmap dari industry 4.0 dimana roadmap tersebut terbagi menjadi lima bagian: tekstil, otomotif, elektronik, kimia, makanan dan minuman. Lima hal ini yang akan menjadi fokus implementasi dalam mencapai industri 4.0. melalui kerjasama antara berbagai elemen pemerintah seperti kementerian industry, kementerian ketenagakerjaan, dan kementerian Pendidikan dan budaya bersinergi dalam mengupayakan proses adapatasi menghadapi revolusi industry 4.0 dengan meningkatkan sumber daya manusia melalui metode link and match antara Pendidikan dengan industri.

Saat ini, kementerian perindustrian telah mencanangkan empat langkah strategis dalam menghadapi revolusi industri 4.0. Pertama, mendorong dan memotivasi tenaga kerja di Indonesia untuk selalu meningkatkan kuantitas dan keterampilannya, terutama dalam penggunaan teknologi internet dalam bidang industry. 

Kedua, memacu produktivitas dan daya saing bagi industri kecil dan menengah agar mencapai level ekspor dengan memanfaatkan teknologi digital. Ketiga,  pemanfaatan digital dalam pengunaan big data, autonomous, cloud, cybersecurity dan lain sebagainya secara maksimal. Keempat, pengembangan star up melalui fasilitas inkubasi bisnis dengan harapan banyak wirausaha di Indonesia menggunakan teknologi internet. Hal ini diharapkan para bisnis terdorong dalam meningkatkan inovasi berbasis teknologi.

Revolusi industri 4.0 memberikan banyak peluang bagi industri terutama manufaktur untuk meubah gaya produksinya. Hal ini karena semakin mudahnya dalam mengakses teknologi informasi secara mendetail sehingga mempermudah dalam pengambilan keputusan dan proses produksi. 

Pada bukan maret 2017 survei McKinsey mencatat bahwa 300 pemimpin perusahaan di Asia Tenggara sebanyak 9 dari 10 responden percaya terhadap efisiensi dan efektivitas dari industri 4.0. dengan adanya perubahan gaya dalam produksi di sektor industri terhadap revolusi 4.0 akan menguntungkan dan memberikan banyak manfaat terutama disektor swasta. Karena produsen nantinya akan mengoptimalkan dan menyederhanakan rantai suplainya. 

Disisi lain, adanya revolusi industri 4.0 akan  memberikan dampak terbukanya peluang pasar baru bagi UKM penyedia teknologi seperti robotic dan 3D printing. Bagi negara maju seperti Amerika atau Jerman, adanya revolusi industri 4.0 akan mendongkrak daya saing dalam infrasturktur. Dan untuk negara berkembang seperti Indonesia diharapkan dengan adanya industri 4.0 akan mengurangi rantai suplai produksi agar lebih efektif dan efisien.

Akan tetapi, dari konsep yang dijelaskan dalam revolusi industri 4.0 tidak menutup kemungkinan adanya dampak negatif. Dalam hal ini pemerintah harus siaga dan tanggap terhadap dampak negatif yang melekat pada industri 4.0 seperti disruptive technology. 

Dampak negatif disruptive technology berbahaya dan dapat mematikan usaha  bagi industri tradisional. Sehingga pemerintah perlu mengkaji ulang akan konsep industri 4.0 tersebut. Tidak hanya itu, industri 4.0 juga memiliki dampak negatif terhadap penciptaan lapangan pekerjaan. Di kawasan Asia Tenggara negara yang telah mememnuhi  kriteria dan siap dalam mengadapi era industri 4.0 adalah hanya Singapura. 

Berangkat dari dampak negatif ini, apabila pemerintah telah menetapkan untuk beradaptasi menggunakan revolusi industri 4.0 maka juga harus memikirkan jangka jauh akan keberlangsungannya. Pemerintah tidak selayaknya menggunakan industri 4.0 hanya akan menjadi beban dan tidak memanfaatkannya secara optimal.

Selain itu, ancaman lain dari adanya revolusi industri 4.0 adalah perubahan kondisi tempat kerja. Dengan karakterikstik industri 4.0 adalah teknologi dan mesin canggih akan membuat semakin murah dan pekerja hanya fokus kepada sedikit pekerjaan. 

Menurut parlemen Eropa, peran-peran pekerja akan berubah meliputi konten, proses dan lingkungan. Sehingga Para pekerja yang dibutuhkan adalah mereka yang lebih menunjukkan sikap inisiatif, kemandirian pengelolaan, dan memiliki keterampilan komunikasi yang baik. Untuk hal-hal tersebut, menjadi penting untuk menerapkan desain kerja yang partisipatif dan pengukuran pembelajaran terus menerus (Kagermann, 2013). 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2