Mohon tunggu...
Ety Supriyatin
Ety Supriyatin Mohon Tunggu... Lainnya - Pembaca

Menulis apa yang dilihat, didengar, dan dirasakan. ■JUST BE MYSELF■

Selanjutnya

Tutup

Puisi Pilihan

Lonceng Terakhir

23 Desember 2022   17:28 Diperbarui: 23 Desember 2022   17:54 194
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Puisi. Sumber ilustrasi: PEXELS/icon0.com


Aku tak berani temui dirimu saat lonceng terakhir berbunyi

Detik-detik menjelang kepergian yang seolah tak berujung

Alampun turut berduka, langit menangis

Segalanya tak berarti lagi dan hanya sampai di sini

Di sudut jalan ini tatkala mentari menyelinap dibalik pepohonan

Mentaripun mengucapkan selamat tinggal

Sudut jalan ini menjadi saksi bisu

Saat angin mulai menyapa tubuhmu kemudian berlalu

Bersama tenggelamnya mentari menjemput senja

Salam perpisahan terucap darinya
untuk kembali esok pagi

Baca juga: Monolog Pagi

Begitu pun kuucapkan selamat jalan

Dan berharap untuk kembali lagi

Mohon tunggu...

Lihat Konten Puisi Selengkapnya
Lihat Puisi Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun