Mohon tunggu...
Yuhesti Mora
Yuhesti Mora Mohon Tunggu... Dosen - Pecinta Science dan Fiksi. Fans berat Haruki Murakami...

Menulis karena ingin menulis. Hanya sesederhana itu kok.

Selanjutnya

Tutup

Cerpen

Menyeberang

3 Januari 2019   04:16 Diperbarui: 3 Januari 2019   04:22 137
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Cerpen. Sumber ilustrasi: Unsplash

Sebuah keluarga yang lain---di seberang, malam-malam sibuk dengan urusannya masing-masing. Ayah sedang lembur di kantor, ibu sedang menyelesaikan proposal yang hendak dibawanya ke kantornya yang terlihat seperti perpustakaan pribadi, tetapi buku-buku di dalam lemari kaca itu tidak sekalipun dibaca. Satu dari dua anaknya sedang belajar matematika di kamarnya dan satunya lagi sedang keluar bersama beberapa orang teman yang menjemputnya tadi. Entah tujuannya ke mana. 

Tidak seorang pun ingin tahu apa yang sedang dikerjakan masing-masing. Tidak seorang pun yang merasa itu perlu. Masing-masing mencari dan punya tujuannya sendiri. Barangkali kata gotong-royong di sisi ini lebih akrab di sebut sebagai "kerja tim". Dan karena "tim" lebih akrab di dengar di kantor-kantor, mereka tidak mengenal kata "tim" di rumah. Rumah hanya tentang "tempat" bukan orang-orang yang tinggal di dalamnya.

Di sebuah jalan, seorang anak yang pergi bersama teman-temannya tadi terlihat sendiri. Tidak tahu kemanakah gerangan teman-temannya yang membawanya keluar tadi. Bisa saja dia yang meninggalkan atau malah yang ditinggalkan. 

Saat itu pukul dua lewat sepuluh menit. Ia mengikuti ke mana saja langkah kaki hendak membawanya. Ia merasakan sesuatu. Perasaan yang sama ketika ia mencecap secangkir teh yang seharusnya terasa manis tetapi malah asin.. Dia membayangkan setiap manusia di dunia ini melupakan siapa dirinya selepas bangun tidur. 

Oleh karena itu, setiap pagi dibayangkannya mereka berkata pada dirinya sendiri di depan cermin, bahwa aku adalah seorang guru, aku adalah seorang fisikawan, aku adalah seorang presiden, aku adalah seorang ibu, aku adalah seorang anak, aku adalah seorang mahasiswa, dan sebagainya dan sebagainya.

Di antara orang-orang yang berhasil meyakinkan diri mereka sebagai seseorang, entah itu seorang guru, seorang mahasiswa, seorang presiden, seorang penulis dan sebagainya. Ada orang-orang yang tidak peduli siapa mereka sebenarnya dan terus saja menikmati ketidaktahuan tersebut dan memilih hidup sebagai mesin. 

Menurutnya itu jauh lebih baik dibandingkan orang-orang yang ingin tahu siapa diri mereka, tetapi tidak bisa memutuskan apa pun. Di hadapan cermin, di setiap pagi, ia melihat tatapannya sendiri yang kosong, sekosong pikirannya saat berada di jalan itu sendirian.

Beberapa waktu kemudian, entah pada langkah ke berapa, ia sampai pada suatu tepian sungai dan berhenti tepat selangkah dari air yang mengalir itu. Dari tempat ia berdiri, ia melihat sisi sungai yang lain. Ia tahu kehidupan macam apa yang ada di sana. Dulu, sepasang suami-istri yang pernah bekerja di rumahnya sebagai supir dan pembantu bercerita tentang banyak hal tentang kehidupan seberang. Apa kabar mereka, sekarang?

Di sisi yang lain itu, ada seorang anak dari sebuah keluarga yang bermimpi untuk menyeberang sungai tersebut. Ia sedang berdiri, terus menerus meyakinkan dirinya untuk menyeberang. Aku harus menyeberang. Aku harus menyeberang. Ulangnya entah sampai berapa kali. Entah sudah sejak kapan ritual itu  sudah dilakukannya.

Kedua orang ini sama-sama berdiri di tepi sungai yang sama tetapi saling berlawanan. Mereka berdiri di sana, tetapi pikirannya sama-sama tidak berada di sana, melayang ke seberang sungai satunya lagi. Keduanya saling berhadapan tetapi tidak saling melihat satu sama lain. Pandangannya saling terpaut tetapi yang mereka lihat adalah dirinya sendiri di kejauhan. Sama-sama memanjatkan harapan tetapi dengan arah tujuan yang saling berlawanan.

Aku ingin menyeberang, keduanya menggumam serentak.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Cerpen Selengkapnya
Lihat Cerpen Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun