Mohon tunggu...
Y. Edward Horas S.
Y. Edward Horas S. Mohon Tunggu... Cerpenis.

Penulis Buku Antologi Cerpen Juang (YPTD, 2020), Kucing Kakak (guepedia, 2021), Tiga Rahasia pada Suatu Malam Menjelang Pernikahan (guepedia, 2021), Dua Jempol Kaki di Bawah Gorden (guepedia, 2021), dan Pelajaran Malam Pertama (guepedia, 2021).

Selanjutnya

Tutup

Bahasa Pilihan

Kehebatan Kata "Kita" dalam Berbahasa

23 April 2021   10:34 Diperbarui: 23 April 2021   11:35 185 14 4 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Kehebatan Kata "Kita" dalam Berbahasa
Sumber: unsplash.com

Mengapa orangtua kita semakin tua semakin itu-itu saja yang diceritakan? Kisah tentang kakek dan nenek, para paman dan bibi, dan anak-anaknya yang pernah kita dengar, terus dikisahkan dengan begitu semangat? Apakah tidak ada hal lain di pikirannya? Sesekali kita sebagai anak juga ingin mendengar hal baru darinya.

Pernahkah kita bosan meluangkan waktu untuk mendengar ceritanya, sementara mereka sangat gembira dengan pengulangan-pengulangan itu? Pernahkah kita ingin di tengah jalan, menghentikan begitu saja dan mengambil alih pembicaraan dengan cerita yang sudah kita siapkan? Pernahkah pula itu tidak terjadi karena kita tidak tega memutusnya bicara?

Lantas, apa yang kita lakukan waktu itu? Apakah kita tetap duduk diam dan mendengarkan baik-baik? Apakah kita tinggal pergi saat mereka masih bercerita? Atau, kita memilih bermain gawai? Tentu, kita punya kisah dan cara masing-masing, untuk memberantas kebosanan itu.

Tetapi, kita tidak pernah tahu alasan tepat mereka terus bercerita kisah berulang, karena kita belum tua. Yang pasti, dengan tetap rela memberi waktu, memperlihatkan perhatian, sesekali tanggapan, kita sudah menyenangkan orangtua. Kita juga telah menghormatinya. Orangtua pasti suka bila ceritanya didengarkan. Bukankah kita ketika tua nanti juga berharap seperti itu?

Bahasa adalah soal rasa. Orang bisa tersentuh perasaannya, dapat tercerahkan pikirannya, menjadi terhibur dukanya, karena keindahan bahasa. Lewat bahasa yang tepat, semua pesan berhasil disampaikan sempurna.

Dalam berbahasa, pasti kita memakai kata ganti orang, entah pertama, kedua, atau ketiga. Pertama terdiri dari saya, aku, daku. Kedua, berupa kamu, anda, engkau, saudara. Ketiga, berwujud ia, dia, mereka.

Semua bisa kita pilih sesuka hati ketika berbahasa, baik lisan berbentuk ucapan maupun tulisan di atas kertas. Pernahkah kita rasa, ada tingkatan penghormatan dalam setiap kata ganti itu?

Semisal, untuk membicarakan orang ketiga, yang tertinggi kedudukannya adalah "beliau". Bila orang kedua, "anda" dan "saudara". Sementara "kamu" terasa agak kasar.

Pernahkah Anda menggunakan kata "kamu" saat berbicara dengan orangtua dan atasan?

"Kamu sudah makan, Pak?"

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x