Mohon tunggu...
Y. Edward Horas S.
Y. Edward Horas S. Mohon Tunggu... Pemenang Kompetisi Aparatur Menulis Kategori Artikel Terfavorit Tahun 2020. Seorang Babu Rakyat yang selalu rindu untuk menghijaukan bumi. Dia ini, merupakan pribadi yang terus belajar menjadi orang bijak.

Intisari dari kehidupan adalah Berbagi.

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Artikel Utama

Candu Dopamin dari Tombol Like

4 Juli 2020   14:23 Diperbarui: 6 Juli 2020   05:49 1276 15 5 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Candu Dopamin dari Tombol Like
ilustrasi mengumpulkan jumlah like pada media sosial. (sumber: shutterstock via kompas.com)

Tulisan ini merupakan kelanjutan cerita dari tulisan Ketika Komentar Lebih Penting daripada Konten. Masih seputar menyoroti fenomena yang sedang merebak akhir-akhir ini.

Dalam tulisan tersebut, telah dikupas penyebab sebuah konten menjadi viral, salah satunya karena likeMemang hanya sebuah tombol, tetapi memiliki pengaruh yang sangat besar. Khususnya bagi konten kreator, si pembuat konten.

Ketika dilihat dari sisi penikmat konten, penulis yakin, banyak juga yang memencet tombol ini tidak karena suka dengan kontennya, tetapi hanya sekedar karena pertemanan, atau dimintakan bantuan untuk menenarkan konten. Ya, hitung-hitung bantu orang, "begitu pikir merekaKemungkinan besar bahkan mereka tidak tahu apa isi kontennyaBoro-boro suka, buka kontennya aja kagak. Tombol like pun sudah mulai bergeser artinya.

Dopamin karena Like

Bagi konten kreator, tombol like menjadi pusat perhatian. Dari hari semenjak konten tersiar ke publik, beralih kepada hari-hari berikutnya, pertambahan akan jumlah like pasti tidak pernah lepas dari pantauan. Selalu dipentelengi, dan bergumam dalam hati,"laku kagak nih karya gw?"

Mengapa mereka seperti "tergila-gila" dengan tombol like? Hal ini karena viral yang disebabkan likebisa mendatangkan banyak manfaat, dari ketenaran, mempunyai banyak teman, dan terutama memperkaya pundi-pundi bagi mereka. 

Ilustrasi kecanduan. (Sumber: jurnal123.com)
Ilustrasi kecanduan. (Sumber: jurnal123.com)

Di saat inilah, hormon dopamin yang dipicu dari pertambahan massal tombol like mulai diproduksi oleh tubuh. Hormon dopamin, salah satu hormon kebahagiaan, yang membuat kita senang dan bahagia dalam menjalani kehidupan. 

Iya, siapa sih yang tidak bahagia menjadi orang tenar dan kaya? Sepertinya nihil. Penulis pun tidak munafik. Dan karena manfaat inilah, maka banyak yang suka dengan banyaknya like, bahkan sampai kecanduan. Kecanduan dopamin.

Fenomena pun Terjadi

Mirisnya, alih-alih mengembangkan kreatifitas dalam konten, perjuangan dalam mencari like ini menjadi lebih dipentingkan. "Yang penting viral," mungkin pikir mereka. Mulailah terjadi pergeseran, dari konten yang ada manfaatnya, menjadi kurang bermanfaat, bahkan tidak bermanfaat. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x