Mohon tunggu...
Hara Nirankara
Hara Nirankara Mohon Tunggu... Penulis - Penulis Buku
Akun Diblokir

Akun ini diblokir karena melanggar Syarat dan Ketentuan Kompasiana.
Untuk informasi lebih lanjut Anda dapat menghubungi kami melalui fitur bantuan.

Penulis Buku | Digital Creator | Member of Lingkar Kajian Kota Pekalongan -Kadang seperti anak kecil-

Selanjutnya

Tutup

Ilmu Sosbud Pilihan

Korban G30S PKI, Antara Menuntut dan Melupakan

14 November 2020   14:34 Diperbarui: 14 November 2020   16:40 209
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Carol Goldstein/Keystone/Getty Images

Terkadang lucu, ketika banyak orang ketakutan melihat simbol Komunis, panik ketika melihat gambar atau foto Karl Marx, bendera Soviet Union atau apapun yang berkaitan dengan ideologi kiri. Cerita lama yang masih beredar hingga sekarang, yang katanya merupakan tragedi paling kejam, paling kelam, tindak kejahatan yang dilakukan oleh orang-orang PKI bahkan sampai dibuatkan film "fiksi" yang selalu diputar setiap tahun ketika masa Orde Baru berkuasa. Bahkan, seingat Saya pemutaran film G30S PKI pernah ditayangkan ulang pada tahun 2017.

Jika berbicara masalah propaganda, film merupakan salah satu media yang paling banyak dipakai oleh orang-orang yang berkepentingan. Melalui film bergenre dokumenter dan biografi, banyak banyak pesan-pesan yang "diselewengkan" untuk mempengaruhi persepsi penontonnya. Penyelewenengan itu biasanya diambil melalui sudut pandang dari salah satu narasumber ketika melakukan riset sebelum pembuatan film. Sederhananya begini, misalkan pada sebuah kota terjadi genosida. Pihak rumah produksi lalu mencari narasumber yang menyaksikan langsung kejadian itu, untuk keperluan penyusunan alur, plot, dlsb.

Misalkan narasumber sudah ketemu dan ternyata narasumber adalah orang yang pro (misal) dengan genosida, maka propaganda yang dilakukan melalui film adalah dengan menghadirkan sudut pandang dari orang yang pro terhadap genosida.

Memang sah-sah saja mengambil sudut pandang yang seperti itu. Namun, persepsi penonton akan terpengaruh sehingga membenarkan isi dari film itu. Padahal, bisa saja sudut pandang yang dikemukakan dalam film itu merupakan sudut pandang yang salah atau tidak benar.

Memang sulit, ketika sudah bersinggungan dengan yang namanya Hak Asasi Manusia. Para anggota PKI dan Eks Tapol 1965 menuntut keadilan atas peristiwa pembantaian tersebut. Namun, para korban yang katanya dibunuh oleh anggota PKI juga membela diri atas nama Hak Asasi Manusia. Sehingga untuk mengurai sejarah kelam yang pernah terjadi, akan berjalan sangat alot jika kedua kubu sama-sama menuntut perlindungan hak. Inilah yang Saya maksud dari propaganda melalui film G30S PKI.

Pelarangan penyebaran simbol-simbol yang berkaitan dengan paham kiri hingga kini masih berlaku, yang justru semakin mempersempit ruang literasi yang ada di Indonesia. Mereka yang membahas, berdiskusi, memiliki, hingga memakai atribut yang berbau kiri dan PKI diberantas, diciduk. Banyak sekali buku-buku kiri yang disita kemudian dibakar.

Puluhan hingga ratusan buku yang menguak propaganda Orde Baru atas tragedi G30S 1965, telah banyak terbit namun keberadaannya hingga kini masih sulit untuk diakses. Buku-buku itu ditulis oleh para saksi pada masa itu, salah satunya sastrawan senior Pramoedya Ananta Toer. Belasan dokumen juga telah dipublikasikan oleh Badan Intelijen Amerika (sebagai pihak yang diuntungkan atas G30S PKI) maupun arsip yang ada di Den Haag Belanda. Namun banyaknya bukti, arsip/dokumen, kesaksian hingga sudut pandang pada peristiwa tersebut nyatanya tidak mampu untuk menguak sejarah kelam G30S PKI "secara total".

Buku-buku seputar tragedi G30S 1965, buku politik, buku esai, buku sastra, novel, puisi hingga buku lawakan bernuansa satire telah memberi banyak "gambaran" betapa "fiksi"-nya peristiwa tersebut. Langkah di pengadilan internasional yang dilakukan beberapa tahun yang lalu pun, juga gagal dalam langkah pelurusan sejarah. 

Bahkan untuk sekedar diskusi ringan yang dilakukan oleh kawan-kawan aktivis, LSM dan mahasiswa nyatanya mendapatkan respon yang negatif dari aparat negara berupa larangan hingga kriminalisasi. Coba bandingkan dengan jumlah buku atau referensi yang berada di kubu Orde Baru? jumlahnya kalah jauh dengan buku-buku yang menguak tabir kelam bangsa ini, yang justru menyalahkan Orde Baru atas G30S PKI.

Bahkan, jika kita bersedia untuk membaca polanya, kudeta yang diterima oleh Soekarno juga diterima/dialami oleh pemimpin kiri dari seluruh belahan dunia. Mereka (pemimpin kiri) selalu saja dikudeta oleh kubu kanan (militer), yang akhirnya membuat Amerika Serikat bisa leluasa masuk ke negara-negara itu. Vietnam, Thailand, Kuba, Venezuela, adalah beberapa contoh negara yang mengalami kudeta dari pihak militer.

Ketika saya membahas atau membuat artikel tentang G30S PKI, Tragedi Santa Cruz, Tragedi Banyuwangi, Tragedi Situbondo dan mempublikasi beberapa arsip yang Saya terima terkait Eks Tapol maupun peristiwa pelanggaran HAM lainnya, Saya selalu saja dituduh sebagai "orang yang memprovokasi", dituduh sebagai antek PKI, dituduh sebagai keturunan PKI. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Ilmu Sosbud Selengkapnya
Lihat Ilmu Sosbud Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun