Mohon tunggu...
Hara Nirankara
Hara Nirankara Mohon Tunggu... Penulis - Penulis Buku
Akun Diblokir

Akun ini diblokir karena melanggar Syarat dan Ketentuan Kompasiana.
Untuk informasi lebih lanjut Anda dapat menghubungi kami melalui fitur bantuan.

Penulis Buku | Digital Creator | Member of Lingkar Kajian Kota Pekalongan -Kadang seperti anak kecil-

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Pilihan

Khilafah dan Komunis

2 Agustus 2019   14:45 Diperbarui: 2 Agustus 2019   14:52 3939
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Image by Hara Nirankara

Ada hal yang tiba-tiba muncul di pikiran ketika saya sedang saling berbalas komentar kemarin. Kalau tidak salah ada di lapaknya tirto, membahas masalah Khilafah. Lawan bicara saya berkata bahwa Khilafah suatu saat akan tegak, dan orang itu dan orang-orang yang diklaim [umat Islam] merindukan Khilafah serta sedang mempraktekkannya sedikit demi sedikit. Lalu saya menanggapi, "sistem yang kuno nan usang. Jika yang kuno nan usang tetap dipertahankan di abad modern seperti sekarang ini, akan ada banyak orang yang menolak."

Perihal 'kuno nan usang' ini sama seperti statment saya tentang SosUtop dulu. Penganut Sosialis akan selamanya dianggap sebagai sebuag backward jika memaksakan paham itu di jaman yang modern ini. Penganut Sosialisme harus bisa membedah paham mereka, membuang yang sudah tidak lagi relevan dengan perkembangan jaman. Penganut Sosialisme juga harus bisa memodernisasi Sosialisme itu sendiri, dipadukan dengan kultur budaya serta adat dan istiadat di negaranya. Jika penganut Sosialisme di seluruh dunia memaksakan paham itu seperti aslinya, percuma. Kenapa saya bilang percuma? Tensi politik, kultur, demo/geografis/psikologis di tiap negara berbeda dengan yang ada di Soviet.

Hal di atas sama dengan Islam. Jika ingin Islam berkembang dan diterima di sebuah negara, ya Islam harus mengikuti apa yang ada di negara itu. Di Indonesia, misalnya. Pemakian hijab, burqa, sorban, serta gamis, dianggap tidak pas mengingat iklim yang ada di Indonesia berbeda dengan iklim yang ada di Timur Tengah. Orang-orang jazirah arab menggunakan hijab, cadar, niqab, sorban, gamis, ya karena memang di sana iklimnya panas. Mana ada orang Jazirah Jrab menggunakan pakaian tebal? Memangnya sedang musim dingin?

Orang-orang di Jazirah Arab menggunakan cadar, niqab, hijab, sorban, ya karena untuk melindungi wajah, pernafasan, serta rambut dari debu dan pasir. Ini perihal budaya, keadaan negara yang bersangkutan. Sebuah paham dan agama akan dikatakan balance serta cocok jika paham dan agama itu dapat menyesuaikan diri dengan keadaan yang ada di daerah/negara lain. Coba lihat, KFC saja untuk memasarkan produknya, harus mengikuti selera orang Indonesia. logika simple seperti ini seharusnya mudah diterima oleh mereka yang mempertahankan egonya masing-masing ketika sedang berdebat.

Sekarang kita bahas masalah Khilafah dan Komunis. Dua Ideologi tersebut ditolak oleh negara ini karena bertentangan dengan Pancasila [katanya]. Tapi saya tidak akan membahas masalah 'bertentangan' itu. Saya akan membahas yang sudah saya sebutkan di awal esai. Yaitu hal yang tiba-tiba muncul di pikiran ketika sedang berbalas komentar.

Selama ini kita tahu bahwa orang-orang yang menganut/menginginkan Khilafah tegak di Indonesia, sangat benci bahkan terkesan anti kepada Komunis. Antara Khilafah dan Komunis itu sama saja. Keduanya sama-sama ditolak oleh Pemerintah Indonesia karena dinilai bertentangan dengan Pancasila. Tapi, ketika ada sebuah pembahasan yang membawa tema Khilafah, penganut Khilafah dengan bangganya mengatakan bahwa suatu saat Khilafah akan bangkit dengan sendirinya, termasuk di Indonesia. mereka memaprakan pendapat secara histori lengkap dengan ayat serta hadistnya. Menjelaskan Khilafah secara teori dan mitas [ramalan, Imam Mahdi], lalu seenaknya membawa-bawa Komunis ke dalam diskusi. Padahal seharusnya mereka tahu, tidak ada gunanya menyeret Komunis. La wong keduanya sama-sama dilarang, kok.

Persamaan Khilafah dan Komuis yang kedua adalah, kedua paham itu sama-sama usang, kuno. Tidak akan berhasil jika penganut kedua paham itu memaksakan paham yang dianutnya kepada masyarakat yang pemikirannya sudah modern. Lihatlah Cuba, Venezuela. Kedua negara itu mendeklarasikan diri sebagai Negara Komunis dan Negara Sosialis.

Kenapa kedua negara itu akhirnya kollaps dan berpindah haluan? Karena mereka masih memaksakan paham kuno nan usang itu di abad yang modern. Sedangkan China, mereka masih tetap Komunis dengan membuka negaranya [sebutan Negara Tirai Bambu]. Kita semua  tahu, China adalah pemodal besar selain Amerika Serikat.

China yang pada akhirnya menjadi pemodal [penghisap] walau tetap menjalankan Komunis, masih bisa bertahan hingga saat ini dan semakin maju karena apa? Karena mereka paham, negara mereka butuh pemasukan untuk tetap mensejahterakan rakyatnya. Tapi jika mereka terus mensejahterakan rakyat tanpa menggali potensi serta melihat peluang untuk income, ya China akan mengikuti Cuba serta Venezuela.

Inilah yang saya maksud bahwa sebuah paham/sistem harus mengikuti perkembangan jaman guna eksistensinya. Harus mengikuti kultur atau apapun yang ada di negara itu jika ingin berhasil menarik banyak penganut. Teori Karl Mark, Stalin, Lenin, Mao, dan pentolan dari masing-masing negara hanya berlaku pada masa itu. Karena mereka memikirkan untuk menyelesaikan permasalahan yang sedang terjadi pada masa itu. Bukan masa sekarang, dan masa yang akan datang. Saya bukan penganut Kapitalisme. Tapi bukan berarti saya tidak butuh income dengan menjadi Wirausahawan. Bukan pula anti terhadap produk impor karena terkadang ada produk yang tidak bisa diproduksi oleh dalam negeri. Atau jika pun ada, kualitasnya jauh di bawah produk impor. Jika saya berhaluan kiri, memangnya kenapa? Berhaluan kiri bukan berarti anti terhadap kanan.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Humaniora Selengkapnya
Lihat Humaniora Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun