Mohon tunggu...
Matrimony Lesmana
Matrimony Lesmana Mohon Tunggu... Ilmuwan - Tukang Sosiologi Budaya

dengan ikhlas dan senang hati menyerukan bahwa perbedaan sosial budaya sama sekali bukan alasan pemisahan masyarakat;

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Artikel Utama

Pribumi, Motif Sosial Politik di Balik Makna Kata

23 Januari 2020   09:00 Diperbarui: 29 Januari 2020   16:42 709
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Bagikan ide kreativitasmu dalam bentuk konten di Kompasiana | Sumber gambar: Freepik

Mendekati Hari Raya Imlek tanggal 25 Januari tahun ini, pikiran seringkali terbawa pada satu ganjalan sosial terhadap orang-orang Indonesia yang merayakannya. 

Semestinya ganjalan itu kini sudah tidak ada lagi di muka bumi Indonesia. Namun sangat disayangkan, bahwa ia hingga kini tetap menjadi duri dalam daging.

Ganjalan itu bergema dari seruan sosial dengan kata 'pribumi'.

Terutama di masa sekarang, penyuaraan istilah ini sebagian besar bertujuan negatif, karena sering kali memperuncing perpecahan sosial.

Tulisan berikut ini khusus ditujukan untuk mengargumentasi istilah 'pribumi', dengan mengembalikannya ke makna asli. Kemudian darinya ditarik kesimpulan terhadap motif sosial, tentunya juga motif politik, ketika istilah itu digunakan pertama kali.

Rujukan Makna Kata

Dari bunyinya sudah dapat dikira bahwa istilah ini berasal dari bahasa Sanskerta atau Jawa Kuna.

Maka dari itu pendekatan kebahasaan di sini menggunakan satu kamus Sanskerta dari Sir Monier Monier-Williams versi online; leksikon standar kajian-kajian sanskerta.

Di samping itu, digunakan kamus Jawa Kuna Indonesia dari P.J. Zoetmulder keluaran PT Gramedia Pustaka Utama.

Metode yang digunakan adalah kajian tata bahasa Sanskerta terhadap kata majemuk (komposita) determinatif, antara tatpuruSa dan karmadhAraya.

Kajian ini merujuk pada buku tata bahasa Sanskerta karya Adolf Friedrich Stenzler (Elementarbuch der Sanskrit-Sprache, 1980), dengan perbandingan pada buku tata bahasa Sanskerta karya Manfred Mayrhofer (Sanskrit-Grammatik,1978).

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
  5. 5
  6. 6
Mohon tunggu...

Lihat Konten Sosbud Selengkapnya
Lihat Sosbud Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun