Mohon tunggu...
Matrimony Lesmana
Matrimony Lesmana Mohon Tunggu... Tukang Sosiologi Budaya

dengan ikhlas dan senang hati menyerukan bahwa perbedaan sosial budaya sama sekali bukan alasan pemisahan masyarakat; Doktorand di Lehrstuhl für Südostasienstudien Universität Passau

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Pilihan

Bullying; (1) Benarkah Hanya Karena Iri Hati?

9 Desember 2019   09:00 Diperbarui: 9 Desember 2019   15:02 248 2 0 Mohon Tunggu...
Bullying; (1) Benarkah Hanya Karena Iri Hati?
(sumber: https://nasional.kompas.com/)

Akhir minggu lalu Mas Menteri Pendidikan dan Kebudayaan mengeluarkan tanggapan terhadap 'rapor merah' tes PISA Indonesia. Tanggapannya diuraikan ke dalam sepuluh poin. Dan pada poin ke enam beliau memberikan perhatian khusus terhadap fenomena bullying. Fenomena inilah topik yang akan dikemukakan kali ini.

Banyak yang mengira, bahwa bullying ini berdiri di atas perasaan iri hati, karena alasan kecemburuan sosial antar siswa di satu sekolah. Bisa jadi, tapi ternyata itu bukan satu-satunya faktor pendukung aksi ini.

Patut untuk diketahui bersama, bahwa bullying membuka konsekuensi gangguan kejiwaan selebar-lebarnya. Tidak hanya saat korban masih anak-anak, tapi juga di kemudian hari. Bullying pada masa kecil tercatat sering masih meninggalkan bekas hingga korban telah berumur dewasa.

Memang topik ini seringnya didiskusikan di ranah psikologi. Hanya saja fenomena ini ternyata tidak lepas dari sisi kehidupan bermasyarakat. Karenanya sudut pandang sosiologis menjadi esensial. Terutama untuk mengenali latarbelakang sosial serta faktor pendukungnya dan apa motivasi di balik aksi ini.

Dalam lingkungan sekolah bullying akan lebih sering terjadi dalam hubungan antar siswa dan antar tingkatan kelas. Hal ini disuburkan oleh dinamisnya status senioritas di antara para siswa. Maksudnya, status sebagai rujukan kepada siapa rasa segan ditujukan dan ditunjukan selalu berpindah tangan seiring dengan kenaikan kelas dan kelulusan sekolah. Tentu saja tidak tertutup kemungkinan untuk terjadi antar guru dan siswa, namun tulisan ini ingin lebih mengkerucut pada titik-berat di hubungan sosial antar siswa.

Di sekolah dalam prakteknya, bullying sangat jarang dijalankan oleh satu orang pelaku, walaupun sangat mungkin aksi ini diprakarsai oleh satu orang. Aksi ini cenderung dijalankan berkelompok. Menariknya pula aksi ini dijalankan di dalam kelompoknya sendiri di dalam satu lingkungan sekolah.

Kalau dilihat dari aktor yang terlibat dalam aksi ini, terbagi ke dalam dua kelompok, yaitu 'mereka yang menjalankan aksi' dan 'mereka yang tidak menjalankan aksi', dan bukan 'yang membully' dan 'yang dibully'. Mengapa dibagi demikian? Penjelasannya akan diuraikan lebih jauh pada akhir tulisan ini.

Dari kenyataan bahwa aksi ini adalah aksi kelompok, maka dapat dipastikan ada usaha memilah-milah siswa lain untuk dipengaruhi dengan paham dan pikiran tertentu sebelum aksi dijalankan. Siswa-siswa tersaring dan lalu terpapar paham atau pikiran di atas selalu mereka dengan kemungkinan paling besar untuk sepakat membully, mereka dengan hasrat menikmati status 'disegani'.

Peristiwa ini sering dijelaskan dengan prinsip inclusion-exclusion dan bermuara pada ketidaksetaraan sosial. Peristiwa ini sebenarnya tidak perlu diresahkan, bila terbentuk secara alami. Tapi bullying memberikan nuansa 'rekayasa' atau 'buatan' terhadap ketidaksetaraan manapun. Pendek kata, pihak pertama 'mengatur' langsung agar pihak kedua dipandang rendah dengan cara meruntuhkan moralnya di muka umum.

Di dalam ilmu kemasyarakatan ketidaksetaraan sosial erat hubungannya dengan status dan kekuasaan. Mengkomunikasikan ketidaksetaraan bisa berarti menegaskan keinginan meraih status atau kekuasaan.

Bagi generasi yang bersekolah menengah di masa 80an atau 90an, bullying dulu pernah dikenal dengan istilah 'gencet'. Bukan dalam makna menghimpit atau menindih, tapi menindas. Dan memang bullying adalah mengkomunikasikan status dan kekuasaan dengan penindasan.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN