Mohon tunggu...
Hermawan Wibisono
Hermawan Wibisono Mohon Tunggu... Blessed

Hai selamat membaca

Selanjutnya

Tutup

Humaniora

Mayoritas Bersatu dengan Minoritas dalam Rasa Solidaritas "Indonesian International Culture Festival"

10 Juni 2019   20:39 Diperbarui: 10 Juni 2019   20:47 0 0 0 Mohon Tunggu...

Indonesia adalah negara yang sangat kaya, salah satunya dari segi keanekaragaman budayanya. Keanekaragaman suku dan budaya yang ada di Indonesia menjadi salah satu ciri khas masyarakat Indonesia. 

Berdiri di atas bentangan daratan yang tersusun dari beberapa pulau, tersebar ragam budaya di setiap daerahnya dan memiliki keunikan tersendiri setiap budayanya yang menjadi keunikan bangsa Indonesia yang terkenal majemuk. Mulai dari bahasa, tarian, lagu, alat musik, pakaian adat, rumah adat dan lain-lain, masing-masing daerah mempunyai ciri khas dan nilai-nilai luhur di daerah tersebut.

Kebudayaan berasal dari bahasa latin : "colere" yang berarti mengolah, mengerjakan, menyuburkan dan mengembangkan. Kebudayaan tertanam dalam diri individu sebagai pola persepsi yang diakui oleh orang-orang di daerah tersebut dan dilakukan secara turun-temurun.

Perbedaan dan keragaman adalah realitas dari kehidupan sosial yang tidak bisa diabaikan, karena perbedaan yang membuat Indonesia ini kaya. Jangan membuat suatu perbedaan itu menjadi sebuah ancaman tetapi dari perbedaan itu kita bisa sadar dan belajar bahwa semua tidak bisa di sama-ratakan. Maka dari itu diperlukan sifat toleransi untuk menciptakan kehidupan sosial yang harmonis.

Indonesian International Culture Festival atau bisa di singkat IICF adalah sebuah pagelaran budaya yang dilaksanakan di Salatiga, tepatnya di Kampus Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW). Acara tahunan ini mengusung konsep kebudayaan yang mereka sebut dengan "Rumah Kita". Makna dari "Rumah" sendiri adalah sebuah tempat bagi para etnis yang berada di lingkungan kampus UKSW yang tidak bisa pulang ke kampung halamannya agar bisa merasakan suasana seperti berada di kampung halaman mereka. Sebuah konsep yang sangat bagus dan mempunyai arti nilai yang tinggi. 

Acara yang berlangsung selama 4 hari ini mampu memperlihatkan kerukunan dan tingkat toleransi yang tinggi antar etnis khususnya di kota Salatiga. Tidak hanya warga lokal kota Salatiga yang datang dalam acara ini, namun banyak wisatawan dari luar kota bahkan dari Singapore juga turut datang menikmati acara budaya ini.

Acara IICF 2018 dibuka dengan pawai budaya pada tanggal 14 April 2018 dengan berjalan memutari kota Salatiga dengan barisan 20 etnis dan ditambah dengan drumblek yang ikut serta dalam pawai budaya.

Setiap etnis yang terlibat dalam pawai juga membawa icon fauna dari daerahnya masing-masing yang berbentuk miniatur. Tentu saja ini berguna untuk mengenalkan fauna-fauna di Indonesia juga sebagai sarana edukasi bagi masyarakat yang menonton. Tidak hanya miniatur fauna yang dibawa, setiap etnis juga menampilkan tarian masing-masing daerah.

Lalu acara dilanjutkan pada tanggal 17-18 April 2018 di Lapangan Basket UKSW yang bertajub "Nusantara Festival" dan berkonsep "Kampung Budaya". Disini masyarakat bisa mengetahui lebih dalam tentang budaya mereka mulai dari makanan khas daerah, senjata, rumah adat, souvenir dan lain-lain. Pengunjung dan wartawan bebas mewawancarai setiap etnis di standnya masing-masing untuk mendapatkan informasi yang mereka butuhkan.

Tidak hanya itu, Nusantara Festival juga menampilkan tarian dan band tiap etnis, namun yang berbeda disini IICF mencoba memberi sesuatu yang berbeda yakni kolaborasi antar etnis. Hal tersebut memperlihatkan perbedaan bukan menjadi halangan, justru perbedaan itu membuat Indonesia ini unik.

Puncak acara digelar pada tanggal 19 April 2018 yaitu acara Closing Ceremony yang dimeriahkan oleh artis-artis lokal. Acara sangat meriah dan antusiasme pengunjung dan etnis sangat terlihat ketika mereka saling berbagi tawa dan menikmati acara Closing dengan tertib tanpa adanya kerusuhan.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2