Mohon tunggu...
Herlina Nasution
Herlina Nasution Mohon Tunggu... Menjadikan waktu lebih bermanfaat

Ikhlas, Kerja Keras dan memberi adalah investasi Masa Depan sifatnya Jangka Panjang

Selanjutnya

Tutup

Cerpen

Kisah Nyata: 13 Calon Anggota MAPASTA IAIN SU Dinyatakan Hilang di Gunung Barus Tanah Karo Sumatra Utara

30 Oktober 2020   15:45 Diperbarui: 30 Oktober 2020   17:18 62 1 0 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Kisah Nyata: 13 Calon Anggota MAPASTA IAIN SU Dinyatakan Hilang di Gunung Barus Tanah Karo Sumatra Utara
Dok. pribadi

Cerita ini benar terjadi adanya, tepatnya pada Bulan Juni 2009 lalu. Kami berjumlah 13 orang, 6 laki-laki dan 7 perempuan yang tergabung dari berbagai fakultas dari Fakultas Syari'ah, Tarbiyah dan Ushuluddin yang dulunya masih IAIN (Institut Agama Islam Negeri) Sumatera Utara dinyatakan Hilang selama 3 hari di kawasan Hutan Deleng Barus, Perbukitan Barus, Tanah Karo, Sumatera Utara, saat mengikuti pendidikan dasar dari organisasi internal kampus yaitu MAPASTA (Mahasiswa Pecinta Alam Semesta) IAIN Sumatera Utara.

Sebagai  mahasiswa aktif, kampus memberikan kebebasan dan fasilitas dalam mengekpresikan dirinya untuk ikut serta bergabung di organisasi internal dan eksternal mahasiswa yang ada, dengan catatan mengikuti aturan-aturan yang ditetapkan di organisasi tersebut. MAPASTA adalah salah satu dari organisasi internal yang ada dikampus tersebut, yang bergerak dibidang Alam Bebas dan Lingkungan Hidup.

Untuk menjadi salah satu anggota di MAPASTA kita diwajibkan terlebih dahulu mengikuti beberapa tahap penyeleksian yaitu seleksi berkas, fisik, kesehatan dan lapangan. Dari lebih kurang 50 lebih calon anggota yang terdaftar diwajibkan mengikuti seleksi-seleksi pendidikan dasar. 

Seleksi berkas berupa informasi profil dan izin orang tua/wali peserta dalam memberikan izin tidaknya dalam mengikuti tahapan-tahapan seleksi yang ada sampai finish nantinya.

Seleksi Fisik adalah dimana kita mengikuti latihan fisik lebih kurang selama 1 bulan dan dibekali materi lapangan, gunanya adalah untuk menempah fisik untuk tahan dalam menghadapi tantangan kondisi cuaca dan medan yang ada dan menerapkan ilmu pengetahuan yang diajarkan dan bisa berguna nantinya, berikutnya, seleksi kesehatan sangat wajib disertakan dari surat keterangan sehat dari dokter atau dicek langsung dari dokter yang didatangkan panitia ke lokasi penyeleksian, kenapa ini sangat penting? Karena menyangkut hidup dan matinya seseorang, dalam pendidikan diksar ini sangat memprioritaskan tenaga dan pikiran untuk menghadapi situasi alam yang jauh lebih berbahaya karena medan yang dimasuki terbilang kawasan hutan yang belum pernah atau belum ada jalur keluar masuknya manusia (Hutan Liar) jadi sangat penting untuk informasi sehat atau tidaknya peserta dalam tahapan seleksi ini. 

Kelulusan berkas, fisik dan kesehatan pun diumumkan,  yang lulus terjaring hanya 13 orang dari 50 orang lebih yaitu (Lina, Fitri, Ayu, Nindhie, Indah, Sipit, Mardiah, Khairul, Erwin, Khatami, Adi, Firdaus dan Karim). Besoknya  kami yang sudah dinyatakan lulus diperintahkan untuk melengkapi kelengkapan alat dan logistik untuk digunakan di lapangan diksar nantinya seperti alat navigasi (Peta, Kompas, Penggaris, buku, pensil, pulpen dll), Jas Hujan dan logistik (sembako) serta alat masak camping

Malamnya sebelum keberangkatan untuk memfiksasi semua kelengkapan peserta, kepanitiaan Diksar MAPASTA mewajibkan kami camping 1 malam dilapangan sepak bola kampus. Besoknya, waktu pelepasan pun tiba, sebelum diberangkatkan menuju lapangan yaitu dikawasan Hutan  Tanah Karo, Sumatera Utara, kami sebagai peserta, panitia, pelatih Diksar MAPASTA IAIN Sumatera Utara mengadakan upacara pemberangkatan yang dihadiri sebagai pembina upacara yang mewakili Rektor, Pembantu Dekan III kemahasiswaan IAIN Sumatera Utara sebagai bukti melegalisasikan kegiatan pendidikan dasar tersebut.

Setibanya dilapangan kamipun mengimplementasikan materi-materi yang sudah diajarkan selama mengikuti pelatihan. Materi di hari pertama yaitu sosiologi pedesaan, berjalan kaki  berbaris satu memanjang kebelakang dengan membawa beban Carrier (keril) dengan ukuran 45 liter dipunggung kami masing-masing. Kami yang berjumlah 13 orang melakukan sosialiasi bersama penduduk desa yang ada dengan menanyakan beberapa pertanyaan terkait informasi daerah tersebut baik situasi dan kondisi penduduknya dll.  Kamipun menginap di desa selama 3 hari.

Setiap meninggalkan perkemahan dari satu titik ketitik lain, selalu diadakan upacara keberangkatan guna mengecek keadaan peserta, perlengkapannya dan hal-hal berkembang lainnya. 

Hari berikutnya materi susur Gua, dengan menginap di dalam gua lebih kurang 3 hari dengan mengimplementasikan materi-materi yang sudah diajarkan, hari berikutnya Materi PPGD (Pertolongan Pertama Gawat Darurat) melatih bagaimana menyelamatkan cepat tanggap menolong korban kecelakaan, membuat tandu dengan tali rami pramuka untuk menandu korban kecelakaan apabila terjadi kemungkinan-kemungkinan yang tidak diinginkan saat ada didalam hutan. Selanjutnya yaitu materi Survival, bertahan hidup dengan memanfaatkan alam sekitar, alat dan logistik yang ada untuk digunakan selama 3 hari.

Adapun atap yang dipakai untuk berteduh dari dinginnya malam, hujan dan matahari yaitu menggunakan daun dan batang pepohonan dengan alas tidur matras, digelar sambung menyambung.  Dua tenda buatan dari alampun telah jadi, dimana satu tenda untuk cowok dan tenda kedua untuk cewek. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
  5. 5
  6. 6
  7. 7
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x