Hennie Engglina
Hennie Engglina Pelajar Hidup

Untuk yang ada dan belum ada.

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Pilihan

Untukmu yang Disebut Kafir

4 Maret 2019   06:06 Diperbarui: 11 Maret 2019   01:58 3671 67 77
Untukmu yang Disebut Kafir
kafir [dokpri]

Kata 'kafir' saat ini sedang memanas lagi. Pasalnya, Munas Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdatul Ulama (NU) di Banjar, Jawa Barat, Jumat lalu (1/3) menetapkan lima rekomendasi, yang salah satunya adalah tidak menyebut "kafir" kepada non-Muslim.

Rekomendasi itu menimbulkan kontroversi di antara mereka. Tak ayal, hari-hari ini kita mendengar atau membaca pernyataan-pernyataan mereka yang sangat sensitif terkait penolakan atas rekomendasi itu.

Satu contoh saja, yakni, cuitan Wasekjen Dewan Pimpinan MUI, Tengku Zulkarnaen:

sumber:twitter
sumber:twitter
Oleh sebab itu, saya memandang perlu untuk menulis ini bagi kita, umat Kristiani. Jangan di mana-mana berita utama di semua media hanya apa kata mereka tentang "kekafiran" non-Muslim, termasuk kita di dalam non-Muslim itu, sedangkan pihak yang disebut "kafir" tidak dianggap penting.

Dulu saya tidak mendengar kata 'kafir' disebutkan secara belakangan ini. Tampaknya itu dimulai sejak demonstrasi kasus BTP tahun 2017. Kata itu diteriakkan di jalan dan sejak itu "kafir" menjadi ejekan.

Bagaikan saya ini buta. Apakah karena saya buta, maka Tuhan mengajari manusia: "Hai umat-Ku, teriaki dia, "buta!"; "Ejek dia, "buta!"; "Hina dia, "buta!"? Apakah karena seseorang memang benar-benar buta, maka itu membenarkan pengejekan atas kebutaannya?

Namun, bagaimana pun sakitnya, kita harus bisa merelakan hati. Perbedaan justru mengajarkan apa itu menghargai. 

Menghargai, bahwa menurut syariat Islam, manusia kafir adalah seorang yang mengingkari Allah sebagai satu-satunya yang berhak disembah dan mengingkari Nabi Muhammad sebagai utusan Allah. Begitu yang saya baca di Wikipedia.

Dan, itu harus dihargai oleh siapa pun manusia Kristen di dunia ini, sebab itu adalah ajaran yang diyakini oleh umat Islam. Itu adalah keyakinan berdasar pada Kitab Suci mereka. Dan, Tuhan Yesus berkata:

"Segala sesuatu yang kamu kehendaki supaya orang perbuat kepadamu, perbuatlah demikian juga kepada mereka." (Matius 7:12)

Jikalau kita mau dihargai, maka kita harus menghargai. Bahkan, sekalipun orang tidak menghargai, kita tetap harus menghargai.

"Kasihilah musuhmu, berbuatlah baik kepada orang yang membenci kamu; mintalah berkat bagi orang yang mengutuk kamu; berdoalah bagi orang yang mencaci kamu." (Lukas 6:27-28).

Itulah bagian kita, yakni mengasihi dan berdoa bagi siapa pun yang memusuhi kita. Adalah salib bagi kita menanggung segala penderitaan karena nama Yesus. Ia sudah mengatakan itu sebelum semua terjadi.

Jadi, bukan mereka yang harus meniadakan apa yang menjadi ajaran Kitab Suci mereka demi perasaan kita, tetapi kitalah yang harus memiliki daya tahan hati menerima segala penghinaan mereka kalau itu baik menurut mereka.

Sakit? Ya, bisa saja. Karena, kita manusia seperti mereka juga hanya manusia. Kita juga punya hati seperti mereka. Kita juga punya perasaan seperti mereka. Namun, pada sakit itulah kita mengambil bagian dalam penderitaan dan salib Kristus. Sebab, salib bukanlah kerja murahan. Salib adalah pengorbanan.

Rasa sakit itu tidak boleh meniadakan kasih kepada siapa pun bahkan kepada mereka yang membenci. Kita tetap harus melatih hati dan pikiran mengolah rasa sakit menjadi kekuatan kasih untuk tetap menghargai dan menghormati perbedaan. 

Pernyataan-pernyataan tentang non-Muslim karena kontroversi sebutan "kafir" memang sangat sensitif. Namun, kita hidup di bawah Hukum Kasih. Rasa sakit tidak boleh dibalas dengan rasa sakit.

"Janganlah membalas kejahatan dengan kejahatan; lakukanlah apa yang baik bagi semua orang!" (Roma 12:17).

Dalam praktiknya kasih tidaklah mudah, tetapi harus menjadi target pencapaian orang percaya di dalam hidupnya. Melatih hati untuk tulus melakukan semua itu.

"Jagalah hatimu dengan segala kewaspadaan, karena dari situlah terpancar kehidupan." (Amsal 4:23).

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2