Mohon tunggu...
Hendra Fahrizal
Hendra Fahrizal Mohon Tunggu... Videografer, Documentary Maker, Traveler.

Hendra Fahrizal, berdomisli di Banda Aceh.

Selanjutnya

Tutup

Sosbud

Tipu-tipu ala Indonesia

6 Agustus 2020   00:10 Diperbarui: 6 Agustus 2020   00:11 37 2 0 Mohon Tunggu...

Indonesia dihebohkan oleh pakar palsu bernama Hadi Pranoto yang mengaku lulusan IPB dan menemukan obat herbal anti Corona yang telah dipesan Ratu Elizabeth. Alih-alih dapat nama baik, malah dirinya (dan bahkan artis yang mewawancarainya, Anji) dilaporkan ke polisi. Alasannya tak perlu kita sampaikan dalam bahasa hukum, kita pahami saja dalam bahasa sosial, yaitu berusaha membodohi masyarakat.

Urusan membodoh-bodohi ini sudah seperti bunga-bunga dalam perjalanan bangsa kita. Bahkan bisa menyasar pemimpin bangsa ini. Saya mencatat beberapa hal yang membuat kita seharusnya belajar hati-hati sejak dulu soal ini.

Pertama, Soekarno. Ia sempat tertipu oleh raja dan ratu palsu bernama Idrus dan Markonah yang mengaku pemimpin suku Anak Dalam wilayah Lampung yang ternyata adalah pasangan suami istri berprofesi tukang becak dan pekerja seks komersial. Karena sesumbar hendak menyumbang harta untuk pembebasan Irian Barat, Soekarno pun mengundang mereka ke istana. Media pun menyorot hal ini. Terbongkarnya raja dan ratu palsu ini akibat Markonah yang asli Tegal keceplosan berbicara bahasa Jawa.

Pada zaman Soeharto, Indonesia tertipu oleh perempuan Aceh bernama Cut Zahara Phonna, ia mengaku bahwa janin yang dikandungnya bisa bicara dan mengaji. Orang-orang pun berbondong-bondong untuk dapat menyaksikan peristiwa ini. Dan benar, mereka mendengarkan suara itu. 

Wapres Adam Malik pun ikut menjadi korbannya. Bahkan Soeharto dikabarkan sempat menempelkan telinganya di perut perempuan ini. Tapi ada beberapa yang tak percaya, seperti misalnya dr. Herman, seorang praktisi di Kementerian Kesehatan. Ia murni berargumentasi dari sisi medis bahwa janin dalam perut tidak bisa mengeluarkan suara karena berada di dalam air (ketuban). Dr. Herman sempat diancam bunuh oleh kaum fanatik. 

Kasus terbongkar di Banjarmasin, Kapolda Kalimantan Selatan yang juga tidak percaya memerintahkan polwan untuk membuka pakaian perempuan ini, dan jreeng, ternyata ada tape recorder tersembunyi di situ. Pada tahun 1970, tape recorder adalah barang baru, yang hanya dipakai oleh sedikit wartawan, makanya perempuan tak tamat SD ini mudah memperdayai masyarakat.

Pada zaman Megawati, Menteri Agama saat itu, Said Agil Al Munawar mendapat wangsit dari paranormal yang mengatakan bahwa ada harta karun peninggalan prabu Siliwangi di situs cagar budaya Batu Tulis Kerajaan Pakuan Padjadjaran. Ia mengajukan penggalian ke presiden Mega dan disetujui. 

Nantinya harta karun itu dapat dipakai untuk membayar hutang Indonesia. Maka, proyek ini pun dimulai pada suatu pagi. Namun, hingga pukul 8 malam, harta karun yang dicari tak kunjung muncul. Alih-alih menemukan harta karun, Said malah diprotes warga karena dianggap merusak situs peninggalan sejarah yang tak ternilai harganya. Akhirnya proses penggalian ditunda hingga dalam batas waktu yang tidak ditentukan. Alasannya, tukang yang menggali hatinya tidak bersih.

Pada zaman SBY, kasusnya agak lawak. Di mana pemerintah ditipu 2 kali oleh perantara yang sama. Yakni Heru Lelono, yang pertama menggadangkan padi Supertoy yang bisa panen 3 kali hanya dengan sekali tanam. Kegiatan ini diresmikan langsung oleh presiden. 

Lalu ada pula Blue Energy, penemunya Joko Suprapto, juga dipertemukan ke SBY oleh Heru. Dengan energi ini, Indonesia bisa melepaskan diri dari ketergantungan minyak karena Blue Energy ini berbahan dasar H2O (air). Untuk yang kedua ini sudah sempat dipertanyakan sejak awal oleh para pakar, bahwa air tidak mungkin dapat jadi bahan bakar. 

Hasilnya benar, pada saat SBY sudah menjadwalkan bertemu kembali dengan Joko untuk unjuk inovasi, hingga waktunya tiba Joko tidak menampakkan batang hidungnya. Beberapa bulan kemudian, para petani mengabarkan bahwa panen kedua padi supertoy gagal karena padi tak berisi. Petani pun membakar padi mereka.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN