Mohon tunggu...
Hendra Fahrizal
Hendra Fahrizal Mohon Tunggu... Videografer, Documentary Maker, Traveler.

Hendra Fahrizal, berdomisli di Banda Aceh.

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Pilihan

Dunia Ibarat Bangkai

2 Agustus 2017   23:59 Diperbarui: 3 Agustus 2017   00:08 1730 2 0 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Dunia Ibarat Bangkai
dokumentasi pribadi

"Dunia ibarat bangkai, dan yang mengejarnya adalah anjing."

Awalnya, saya mengira, menulis kata-kata bijak pada batu nisan, hanyalah kebiasaan masyarakat peradaban non-muslim, sebagaimana salah satu yang paling terkenal dan pernah saya tulis dalam sebuah blog pribadi dan catatan pada Facebook ini adalah pahatan tulisan dari sebuah makam kuno di Wesminster Abbey, Inggris, tertahun 1100 Masehi, tentang seseorang yang ingin menaklukkan dunia, tapi ia lupa bahwa seharusnya ia memulainya dengan menaklukkan diri sendiri terlebih dahulu. Menaklukkan diri dalam arti merubah sikapnya dan menjadikan diri panutan, lalu ia akan dicontoh oleh keluarga, dihormati banyak orang dan akhirnya baru ia dapat menaklukkan dunia. Sebuah pesan moral yang hakiki.

Tapi, tulisan yang saya kutip diawal tulisan ini, bukanlah milik seorang non-muslim. Tulisan ini terpahat pada sebuah nisan dikawasan Lamreh (sebuah wilayah di daerah Krueng Raya), Aceh Besar, sebagaimana yang kita lihat dalam foto. Si pemilik nisan adalah Malik Alawaddin, bertarikh wafat sekitar abad ke-15. Pada bagian lain pahatan, para epigraf menafsir bahwa orang yang namanya tertera pada nisan adalah sosok penguasa Lamuri (Lamreh) kuno, dimana kala itu Lamuri merupakan sebuah bandar yang maju, yang dimana, bukit-bukit berumput yang selama ini hanya dihuni kambing mencari makan, adalah sebuah peradaban yang penuh aktivitas ekonomi pada masa lampau.

Melihat tulisan yang dipahat itu, kita langsung berpikir bahwa si penulis hendak menjelaskan bahwa dunia adalah antitesa dari akhirat, sehingga pesan moral yang dapat diambil adalah, jangan terlalu mengejar dunia, tapi kejarlah akhirat.

Namun, sepanjang tak ada catatan kaki pada nisan tersebut, maka ruang tafsir orang membaca juga dapat lebih luas. Kita juga dapat melihat tulisan tersebut dalam dua sudut pandang, yaitu sudut pandang religi, dan atau, sudut pandang sebuah hidup yang hakiki.

Sudut pandang religi tentu tak terbantahkan. Dunia ini fana. Kematian adalah gerbang menuju kehidupan selanjutnya, dan amal adalah modal untuk itu. Tapi dalam sudut pandang kehidupan yang hakiki, kita juga dapat memetik sebuah pesan moral, bagaimana selama ini kita terlampau sibuk mengejar dunia, namun terlupa dengan bagaimana sepatutnya kita hidup dengan baik, tidak dengan berbisnis tapi menyikut, tidak dengan bekerja seakan waktu tak pernah cukup, tidak dengan mengabaikan kesehatan, tidak dengan menomorduakan keluarga, menyisihkan orang tua yang kerap merindukan anaknya pulang, dan lain sebagainya.

Kehidupan hakiki adalah tahapan tertinggi dari kualitas hidup seorang manusia. Saya ingat cerita sebagaimana kita pertama kali diajarkan naik sepeda motor oleh ayah kita. Pertama kita diajak keliling lapangan sepakbola. Pada waktu berikutnya kita diajak keliling kampung. Pada tahap ketiga, kita sudah mulai berani mengendarai sendirian. Lalu kita sudah mulai berani berkendera lebih jauh, keluar dari kampung tempat kita tinggal. Kemudian kita mulai kebut-kebutan, seakan kita adalah raja dijalan. 

Selanjutnya kita tak bisa melihat orang lebih cepat dari kita, bila kita melihat itu, kita akan memacu lebih cepat dan berusaha kita harus didepan dia. Lalu pada akhirnya kita bosan dengan semua itu dan menyadari semua kekonyolan-kekonyolan yang kita lakukan, kemudian kita berkendaraan lebih baik, kita mulai mematuhi aturan berlalu lintas, karena menyalahinya sama saja menyumbang ketidakteraturan dan akhirnya kemacetan. Ada orang yang mengedimkan lampu, kita persilahkan ia lewat lebih dulu karena mungkin ia buru-buru. Kita memilih mengalah. Kita telah cara berkendaraan dalam sebuah sikap yang hakiki. Itu sebuah contoh sederhana.

Sebuah contoh superdewa dari hidup yang hakiki saya temui dari kisah perjalanan panjang seorang Saroo Brierley mencari jalan pulang kala ia tersesat dari India hingga New Zealand dalam buku A Long Way to Home. Saroo diadopsi dari panti asuhan sejak usia 6 tahun oleh Sue Brierley dan suaminya dan tinggal di New Zealand. Pasangan ini tidak punya anak. Selain Saroo, mereka juga mengadopsi seorang anak jalanan lain yang mengalami gangguan jiwa.

Saya merinding kala Saroo bertanya pada Sue, mengapa ia diadopsi. Sue menjawab, "Apakah kamu mengira kami tak dapat punya anak? Kami bisa saja punya anak. Tapi kami tak mau. Kami lebih memilih mengadopsi anak-anak lain karena kami melihat bahwa begitu banyak anak-anak di dunia ini yang kehidupannya tak layak. Kami ingin membantu mereka. Itu alasan kami."

Saya yakin sikap seperti Sue mungkin hanya ada 1 diantara 1 milyar manusia. Sikap kehakikian sempurna dari seorang manusia ada pada Sue. Ia tak mengejar dunia. Mungkin agamanya tak mengajarkan akhirat. Tapi ia telah memberi contoh pada kita tentang apa arti dari tak mengejar dunia.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x