Mohon tunggu...
hendra setiawan
hendra setiawan Mohon Tunggu... Freelancer - Pembelajar Kehidupan. Penyuka Keindahan (Alam dan Ciptaan).

Merekam keindahan untuk kenangan. Menuliskan harapan buat warisan. Saya suka membaca, tetapi menulis jauh lebih punya makna. Sebab, karya itulah warisan yang sangat berharga kepada generasi nanti. VERBA VOLANT, SCRIPTA MANENT.

Selanjutnya

Tutup

Diary Pilihan

Menulis Bersama, Biar Lebih Menantang

31 Maret 2021   19:45 Diperbarui: 31 Maret 2021   19:57 95 8 3
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Lihat foto
Sumber: pixabay.com

Hidup itu seperti meniti anak tangga. Anggap saja posisi kita sekarang ada di tengah-tengah; antara pijakan pertama dan terakhir.

Pijakan pertama adalah permulaan kita memutuskan sesuatu. Pijakan terakhir adalah tempat ketika kita berada dalam posisi yang diimpikan pada awal keputusan tadi.

Menulis pun demikian. Terkadang kita terlalu banyak melihat ke atas, sehingga progress-nya hanya di awang-awang. Padahal kalau melihat lebih bawah, kita posisinya sudah lebih baik.

***

Orang tidak mau menulis, kebanyakan karena alasan tidak PeDe (percaya diri). Padahal tidak juga demikian.

Malah, di era media sosial (medsos) ini kerapkali dijumpai para penulis yang sebebarnya punya potensi hebat. Tetapi karena faktor "tidak Pede" tadi, jadinya tulisan itu hanya dibaca sejagat dunia pertemanan yang ada. Padahal terkadang dari jumlah teman, pengikut di medsos itu, yang aktif juga berapa persennya. Terus yang memberikan apresiasi "like" atau komentar berapa?

Bukankah sebenarnya ini patut disayangkan? Kemampuan yang berlebih hanya ngendon, cuma dalam wadah yang relatif terbatas.

***

Memag kalau mau jujur, melihat orang-orang "sukses" dalam jajaran komunitas yang sama, bisa membuat tak PeDe. Wah, ternyata orang ini penulis buku. Dia seorang blogger, pegiat literasi. Dia itu pewarta (jurnalis), motivator. Dia adalah dosen, guru, pendidik, pengajar. Dia itu ternyata penyair atau pecinta sastra. Ya, sosok-sosok yang dijumpai, mereka semua amat lekat dengan dunia kepenulisan.

 "Lha, saya siapa? Cuma orang biasa, yang hobi sebenarnya juga tidak. Hanya kebetulan punya sedikit waktu senggang untuk menuliskan ocehan lewat sentuhan jari.

***

Ke depan, pola pikir seperti ini perlu dihindari. Malah sebaliknya, perlu menjalin relasi dengan orang-orang dalam lingkungan komunitas yang sama.  Biar lebih punya greget dan motivasi. Kalau perlu dan berani "uji nyali", menantang mereka untuk bersama-sama berkarya lewat karya bersama.

Misalkan, siapkan saja tema besar yang akan menjadi fokus perhatian bersama. Lalu setiap orang dibebaskan untuk menuliskan ceritanya. Tetapi harus ada batas waktu kapan tulsan itu dikumpulkan.

Cara ini dipakai selain untuk merangsang daya imajinasi, juga sekaligus membangun kebersamaan di dalam grup untuk saling memotivasi dalam karya. Sebab kalau sendiri, tak punya komunitas, tak ada tantangan. Karyanya bisa saja berhenti.

Jangka panjangnya, menulis bersama akan menghasilkan produktivitas karya. Karya-karya yang rutin ini kalau terkumpul dan dikompilasikan, akhirnya bisa banyak juga kan...

Selamat berani menulis. Jangan takut, jangan ragu. Biarpun punya buku teori menulis paling hits sekalipun, tapi tak pernah praktik, ya sana aja bo'ong.

31 Maret 2021

Hendra Setiawan

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Diary Selengkapnya
Lihat Diary Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
VIDEO PILIHAN
LAPORKAN KONTEN
Alasan