Mohon tunggu...
Helma Chori Amartha
Helma Chori Amartha Mohon Tunggu... Freelancer - Mahasiswa UNNES, Sastra Indonesia '17

Gemar membaca dan menulis :)

Selanjutnya

Tutup

Trip

Pengabdian Tukang Sapu di Vihara Watu Gong

5 Desember 2020   17:05 Diperbarui: 5 Desember 2020   17:09 398
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Pagoda Avalokitesvara di Watu Gong yang menjulang tinggi

"Walau kata mengabdi mempunyai kesan seperti terkurung, tidak bebas, namun saya tidak merasakan itu. Saya malah senang bisa di sini." 

           Berawal dari cerita mengenai rumah ibadah yang memiliki pesona yang tak terelakkan. Ketika awan kelabu mengiringi langkah kaki saya hingga sampai di lokasi tujuan. Lokasi yang dimaksud merupakan rumah ibadah bagi umat Buddha yang bernama Vihara Buddhagaya Watu Gong atau yang biasa dikenal dengan nama Watu Gong. Vihara ini terletak di Jalan Pudakpayung, Banyumanik, Semarang, Jawa Tengah dan lokasi tepatnya berada di depan Markas Kodam IV/Diponegoro. Rabu (28/11/2018).

            Untuk dapat menikmati perjalanan wisata religi di vihara pertama di Indonesia yang berdiri pascaruntuhnya Majapahit ini tidak perlu membeli tiket. Hanya saja dikenakan tarif seikhlasnya yang langsung dimasukkan ke dalam kotak. Ketika hendak masukpun, diminta untuk mengisi buku tamu. Pada kunjungan hari ini, tidak banyak orang yang datang karena memang biasanya hanya akan ramai ketika waktu ibadah pada akhir pekan.

            Komplek Vihara Buddhagaya Watu Gong terdiri dari dua bangunan induk utama yaitu Pagoda Avalokitesvara yang menjulang tinggi dan Dhammasala serta beberapa bangunan lain. Pagoda Avalokitesvara mempunyai tinggi 45 meter dan ditetapkan sebagai pagoda tertinggi di Indonesia, bahkan dari jarak 800 meter bangunan ini sudah terlihat berdiri kokoh. Di dalam pagoda ini terdapat patung Dewi Kwan Im dengan tinggi lima meter dan lima patung lainnya dengan tinggi dua meter yang mengelilingi pagoda tersebut.

            Sedangkan Dhammasala terdiri dari dua lantai yang mana lantai dasar digunakan sebagai ruang aula serbaguna dan lantai atas untuk upacara keagamaan yang terdapat patung Sang Buddha. Bangunan lain yang terdapat di dalam vihara yaitu Watu Gong. Di tempat ini terdapat batu yang berbentuk seperti gong (alat musik gamelan) dan juga papan yang bertuliskan “Selamat Datang di Vihara Buddhagaya Watu Gong”. Di papan tersebut memuat informasi mengenai 11 objek yang ada di vihara tersebut.

            Bangunan selanjutnya yaitu Plaza Borobudur, Kuti Meditasi, Kuti Bhikku, Buddha Parinibana, Abhaya Mudra, Pohon Bodhi, dan Taman Bacaan Masyarakat. Di tempat yang disebut terakhir inilah duduk seorang pria tua berkacamata di sebuah bangku panjang. Pria yang akrab disapa Pak Warto (60) tengah khusyuk membaca sebuah buku bersampul biru. Buku yang akhirnya diketahui berjudul “Dhammapada Atthakatha” yang merupakan salah satu kitab bagian Khuddaka Nikaya, Tripitaka.

Pak Warto yang tengah khusyuk membaca di beranda Taman Bacaan
Pak Warto yang tengah khusyuk membaca di beranda Taman Bacaan

            Di cuaca yang dingin ketika angin berhembus kencang, pria yang mengabdikan dirisebagai tukang sapu di vihara ini hanya mengenakan kaos tipis lengan panjang. Warna coklat dibajunya bercampur dengan noda dan debu. Celana panjang yang ia gunakan tak kalah kusam, hingga warna hitamnya hampir berubah senada dengan warna bajunya. Walau begitu, ia merupakan yang dituakan di tempat tersebut.

            Pak Warto mengatakan bahwa ia bekerja untuk mengabdi pada Sang Buddha. Ia bekerja setiap hari dari pagi hingga sore, mulai pukul 07.00 WIB - 17.00 WIB. “Terkadang pukul 08.30 WIB baru sampai karena harus mengurus anak dan cucu dahulu di rumah,” ungkapnya. Setiap hari ia laju kendaraan dari Pucang Gading, Mranggen hingga lokasi vihara di Jalan Pudakpayung, Banyumanik, Semarang.

            “Setiap hari pulang pergi, cape, tapi ini saya bekerja juga untuk mengabdi pada Sang Buddha,” tutur pria yang telah bekerja selama enam bulan di sini. “Walau kata mengabdi mempunyai kesan seperti terkurung, tidak bebas, namun saya tidak merasakan itu. Saya malah senang bisa di sini,” tambahnya.

            Walau diusianya yang sudah memasuki usia senja, Pak Warto hafal betul dengan sejarah berdirinya vihara ini yang bagi sebagian orang tua telah sulit untuk mengingat banyak hal. Dengan senang hati ia bercerita bahwa tanah seluas 22.500 m2 adalah milik Goi Wan Ling atau Sutopo yang merupakan seorang bikku.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Trip Selengkapnya
Lihat Trip Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun