Zulfatussadiah
Zulfatussadiah Guru/ Mahasiswi

Mahasiswi PPs FIAI MSI UII

Selanjutnya

Tutup

Ekonomi

Antara Iman dan Konsumsi

4 Januari 2018   08:53 Diperbarui: 4 Januari 2018   09:03 507 0 0

Jelas disadari bahwa konsumsi itu sudah menjadi fitrah manusia untuk mempertahankan hidupnya. Konsumsi merupakan bagian aktifitas ekonomi yang sangat vital bagi kehidupan manusia. Jika manusia masih berada dalam fitrah yang suci, maka manusia sadar bahwa konsumsi memiliki keterbatasan baik dari segi kemampuan harta maupun apa yang akan dikonsumsi sesuai dengan kebutuhannya.

 Dan jika disadari pula sebenarnya   makna iman ada di dalam berkonsumsi, hakikatnya konsumsi adalah sebagai sarana untuk ketaatan/ beribadah sebagai perwujudan keyakinan manusia sebagai makhluk yang mendapatkan beban khalifah dan amanah di bumi yang nantinya diminta pertanggungjawaban oleh penciptanya.

Dalam arti juga seorang ketika akan mengkonsumsi haus tabu ilmu tentang barang yang akan dikonsumsi dan hukum hukum yang berkaitan dengannya apakah merupakan sesuatu yang halal atau haram baik ditinjau dari zat, proses, maupun tujuannya, kemudian sebagai konsekuensi akidah dan ilmu yang telah diketahui tentang konsumsi islami tersebut. 

Seseorang ketika sudah berakidah yang lurus dan berilmu, maka dia akan mengkonsumsi hanya yang halal serta menjauhi yang halal atau syubhat...benar begitu bukan???? Kemudian dalam Islam juga memperhatikan kuantitas dalam berkonsumsi, yang mana Islam menganjurkan para konsumen muslim untuk sederhana dalam berkonsumsi. Jika dilihat dari pemasukan dan pengeluaran, maka harus sesuai dengan kemampuan yang dimilikinya, bukan besar pasak dari pada tiang. Dan tidak semua kekayaan itu digunakan untuk konsumsi tetapi juga disimpan untuk mengembangkan kekayaan itu sendiri. itulah bukti dimana ada keikutseraan iman dalam berkonsumsi.

Prioritaspun juga sangat diperhatikan dalam berkonsumsi. Dalam berkonsumsi agar tidak terjadi kemudharatan, perlu memprioritaskan mana yang paling penting dan urgent terlebih dahulu yaitu sesuai urutannya dari primer, sekunder, tersier. Begitu juga dalam mengkonsumsi tidak lekang dengan yang namanya bersosialisasi memperhatikan lingkungan sosial disekitarnya sehingga tercipta keharmonisan hidup dalam bermasyarakat. 

Dalam mengkonsumsi juga harus sesuai dengan kondisi potensi daya dukung sumber daya alam dan keberlanjutannya atau tidak merusak lingkungan. Tidak meniru atau mengikuti perbuatan konsumsi yang tidak mencerminkan etika konsumsi islami seperti suka menjamu dengan tujuan bersenang senang atau memamerkan kemewahan dan menghambur hamburkan harta.

Ada sedikit cerita di zaman Rasulullah terkait hubungan antara konsumsi dengan indikator iman. Rasulullah Sallallahu alaihi wasallam kedatangan tamu. Dia non muslim. Rasulullah menjamu tamu itu dengan ramah.Beliau meminta sahabat memerah susu kambing untuk disuguhkan. Si tamu meminumnya hingga habis. Diambillah kambing ke dua untuk diperah. Susu disuguhkan dan si tamu meminumnya hingga habis pula. Hingga ada tujuh kambing yang diperah dan disuguhkan susunya. Semua yang dihidangkan habis tak tersisa. Keesokan hari si tamu masuk Islam. Rasulullah menyuruh sahabat untuk tetap melayaninya dengan menyuguhkan hidangan yang sama, susu kambing. Disuguhkanlah gelas pertama dan si tamu meminumnya. Dilanjutkan suguhan yang kedua, si tamu meminumnya tapi tidak habis.

Rasulullah berkomentar:

"Orang mukmin itu minum dengan satu lambungnya sedangkan orang kafir minum dengan tujuh lambungnya." (HR. Muslim)

Makan-minum adalah rutinitas. Karena kebiasan, kita menganggapnya biasa-biasa saja. Tidak ada yang istimewa. Berbeda dengan Nabi. Bagi beliau, makan dan minum bukan perkara sederhana. Makan-minum sebagai salah satu indikator iman. Umar bin Khatthab radhiyaAllahu 'anhu, gemar menjaga keimanan saudara-saudaranya dengan kriteria 'kuantitas' yang dikonsumsi ini. Khalifah ke dua itu pernah melihat uang satu dirham di tangan Jabir bin Abdillah -- radliyallahu 'anhu. Umar bertanya: "Dirham itu (untuk) apa?" Jabir: "Untuk membeli daging. Keluargaku menginginkannya." Umar: "Apakah setiap yang engkau inginkan engkau membelinya? Apakah engkau tidak ingin melipat perut demi kerabat dan tetangga? Apakah engkau lupa pada ayat: "Kalian telah menghabiskan kenikmatan --thayyibat- di kehidupan dunia". (Al Ahqaf: 20)

Ayat ini secara teks ditujukan kepada orang kafir. Mereka telah menghabiskan berbagai kenikmatan dunia sehingga yang tersisa di akhirat adalah adzab. Tapi, Umar berpandangan lain. Ayat ini tidak hanya untuk yang kafir, melainkan tertuju pada siapa saja yang berlebihan dalam menggunakan kenikmatan yang mubah (boleh). Muslim yang berlebihan dalam konsumsi juga terancam: "Kamu telah menghabiskan rizkimu yang baik di dunia dan kamu telah bersenang-senang dengannya". Mukmin itu hemat (al qashdu), tidak pelit dan tidak boros. Abdul Malik bin Marwan bertanya kepada Umar bin Abdul Aziz: "Umar, apa nafkahmu yang engkau berikan kepada anakku saat menjadi istrimu nanti?" Umar bin Abdul Aziz: "Nafkahku adalah kebaikan di antara dua keburukan."
Kemudian beliau membaca:

"Dan orang-orang yang apabila membelanjakan (harta), mereka tidak berlebihan, dan tidak (pula) kikir, dan adalah (pembelanjaan itu) di tengah-tengah antara yang demikian." (Al Furqan: 67).

Itulah mukmin. Wallahu a'lam bisshawab.

Jelas sekali bukan...jika dilihat dari cerita rasul dan sahabatnya, indikator Iman sangat ada kaitannya dalam konsumsi. Terlebih jika konsumsi dilakukan secara berlebih lebihan. Hal ini menjadi perhatian bersama dalam menuju kesejahteraan sosial, haruslah untuk menekanan Islam pada pemenuhan kebutuhan dasar, juga menahan diri dari konsumsi yang berlebihan dan mencapai keadilan distributif. Karena jika dalam pemenuhan kebutuhan ini tidak memasukkan unsur/ prinsip prinsip Islam didalamnya, maka bisa jadi konsumerisme akan berkembang biak.

Oleh karena itu Islam sangat menganjurkan untuk hidup sederhana. Sederhana tidak berarti pasif atau nerimo, tidak juga berarti miskin dan melarat. Justru dalam jiwa kesederhanan itu terdapat nilai-nilai kekuatan, kesanggupan, ketabahan dan penguasaan diri dalam menghadapi perjuangan hidup. Di balik kesederhanaan ini terpancar jiwa besar, berani maju dan pantang mundur dalam segala keadaan. Bahkan di sinilah hidup dan tumbuhnya mental dan karakter yang kuat, yang menjadi syarat bagi perjuangan dalam segala segi kehidupan.

Didalam ayat Al Quran pun dijelaskan makna Ekonomi yang terdapat dalam surat Al Maidah: 66

Dan sekiranya mereka sungguh-sungguh menjalankan (hukum) Taurat dan Injil dan (Al Quran) yang diturunkan kepada mereka dari Tuhannya, niscaya mereka akan mendapat makanan dari atas dan dari bawah kaki mereka. Diantara mereka ada golongan yang pertengahan. Dan alangkah buruknya apa yang dikerjakan oleh kebanyakan mereka.

Dari ayat diatas dijelaskan bahwa Ekonomi yang sebenarnya adalah Iqtishad yang berarti pertengahan atau bisa diartikan menggunakan rezeki yang ada di sekitar kita dengan cara berhemat agar kita menjadi manusia-manusia yang baik dan tidak merusak nikmat apapun yang diberikan kepada-Nya.

Nah, dari sini dapat disimpulkan bahwa konsumsi itu merupakan indikator Iman. Ada hubungan antara konsumsi dan Iman jelas, karena jika seorang muslim yang benar itu mengonsumsi berdasarkan syariat Islam dan semata mata beribadah kepada Alllah. Mendapatkannya dengan cara yang halal, menjauhi segala makanan dan minuman yang dilarang oleh Islam, Tayyib, halal, dan tidak berlebih lebihan. Oleh karena itu, konsumsi dan Iman tidak bisa dilepaskan. Hidup untuk beribadah, berarti konsumsi pun untuk beribadah pula. Uusiikum Wa iyyaya.