Mohon tunggu...
Hazairin Alfian
Hazairin Alfian Mohon Tunggu... Mahasiswa

Berbagi apapun yang patut dibagi

Selanjutnya

Tutup

Edukasi Artikel Utama

Ingin Melanjutkan S2 Melalui Beasiswa, Perlukah Pengalaman Kerja Terlebih Dahulu?

3 Oktober 2020   05:47 Diperbarui: 3 Oktober 2020   09:32 1546 16 4 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Ingin Melanjutkan S2 Melalui Beasiswa, Perlukah Pengalaman Kerja Terlebih Dahulu?
Ilustrasi pemburu beasiswa (Sumber: theprintnews.co.uk)

Saya sering menerima pertanyaan-pertanyaan seputar beasiswa. Hampir setiap minggu pasti ada saja yang bertanya kepada saya, lebih-lebih ketika memang sedang diskusi khusus seputar beasiswa. Salah satu pertanyaan yang saya ingat adalah "Apa yang sebaiknya kita lakukan setelah lulus kuliah? Apakah kita mesti fokus mempersiapkan diri atau sambil mencari kerja (dan bekerja)?

Jawaban saya untuk pertanyaan tersebut dulu di awal-awal mempersiapkan beasiswa adalah bahwa untuk mendapatkan sesuatu harus ditekuni, kita mesti fokus dan mengerahkan seluruh daya dan kemampuan kita dalam persiapan tersebut. Sebab sangat sulit menggandeng antara mempersiapkan beasiswa dengan mengerjakan hal lainnya.

Namun seiring waktu saya mulai berubah pikiran. Setelah melihat beberapa awardee beasiswa dari hampir beasiswa manapun, mereka lebih banyak memiliki pekerjaan sebelum mendaftar, atau paling tidak pengalaman bekerja sebelumnya. 

Inilah yang membuat saya mulai menyarankan pemburu beasiswa utamanya para fresh graduate buat mencari kerjaan dulu disaat yang sama mempersiapkan beasiswanya.

Bahkan saya tambah yakin untuk menyarankan mereka demikian setelah menonton tayangan interview direktur LPDP di salah satu kanal YouTube. Dalam video tersebut, direktur LPDP secara jelas mengatakan memberikan porsi lebih bagi pendaftar dari kalangan ASN. 

Ini logis, karena pemberi beasiswa mengharapkan kontribusi secara nyata dari awardee-nya setelah selesai menjalani studi. Begitupun dengan LPDP. Meski tentu bukan berarti kesempatan bagi fresh graduate tidak ada.

Selain itu, bekerja terlebih dahulu juga akan menunjukkan tingkat profesionalitas kita. Artinya, paling tidak kita mampu menunjukkan skill kita sehingga hal ini bisa jadi alasan untuk ditingkatkan guna lebih efektif kedepannya dengan studi lanjut melalui beasiswa. Dari perspektif yang lebih ideal, bekerja menunjukkan bahwa para pelamar beasiswa sudah mampu berkontribusi secara nyata, bukan hanya perencanaan semata.

Dalam beberapa waktu yang cukup lama, saya selalu menggunakan sudut pandang ini sebagai saran saya jika ada yang bertanya kepada saya dengan pertanyaan di atas. Akan tetapi semakin ke sini, saya mendapatkan masukan atau evaluasi secara tidak langsung dari cerita teman-teman dan saya pantau sendiri yang telah menerapkannya.

Salah seorang awardee beasiswa NTB yang juga teman saya misalnya bercerita kepada saya bahwa sebaiknya fresh graduate langsung saja menfokuskan diri persiapan beasiswa. Mereka jangan sampai tergoda untuk, misalnya menerima tawaran job/magang. Kenapa? 

Jika mereka menerima tawaran magang, biasanya fresh graduate itu masih memiliki semangat baru. Jadi mereka masih memiliki antusiasme yang tinggi dalam bekerja, apalagi jika diberikan kepercayaan lebih.

Dokumentasi pribadi
Dokumentasi pribadi
Salah satu kepercayaan yang dimaksud misalnya menempati posisi yang lebih baik ketimbang yang sudah duluan bekerja (bisa jadi disebabkan karena memiliki kemampuan lebih). Karena diberikan kepercayaan lebih, mereka takut merusak kepercayaan itu. Dengan begitu, mereka akan bekerja "bagai kuda" untuk memenuhi semua tanggung jawabnya. Hingga kemudian tidak ada waktu lain lagi mengerjakan yang lain seperti persiapan beasiswa.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x