Novel

Sepenggal Kisah dari Balik Bencana Gempa, Tsunami, dan Likuifaksi Palu, Donggala, dan Sigi (1)

6 April 2019   03:45 Diperbarui: 6 April 2019   04:08 31 0 0
Sepenggal Kisah dari Balik Bencana Gempa, Tsunami, dan Likuifaksi Palu, Donggala, dan Sigi (1)
dok. pribadi

Hari ini,  28 Maret 2019. Gempa kembali mengguncang Kota Palu dan sekitarnya. Getarannya tak seberapa.  Namun itu telah cukup  membawa ingatan  pada peristiwa mengerikan  itu. 

Tepat 6 bulan lalu. Jum'at, 28 September 2018. Pukul 18.02 WITA.  Di RS Bersalin Nasanapura.  Petobo. Kota Palu. 

6 hari setelah kejadian, tanggal 4  Oktober 2018,  dalam situasi listrik yang masih padam total di seantero kota,  saya sempat membuat catatan pribadi. Khusus tentang pengalaman pribadi bersama keluarga. Sepanjang hari Jum'at yang begitu mencekam itu. 6 bulan lalu itu. 

Mengenang kembali peristiwa mencekam itu,  tulisan tersebut saya share kembali.

(Salam buat kita semua dari tengah-tengah lokasi bencana)

SEPENGGAL KISAH DARI BALIK BENCANA GEMPA, TSUNAMI,  DAN LIKUIFAKSI PALU, DONGGALA,  SIGI (1)

Skenario Ilahiah Tak Terduga

-Hayyun ZSavana-

Ketika itu,  kami bertujuh.  Saya,  Mama, neng  Susi Susilawati(istri saya),  anak pertama dan kedua saya,  Priyanka Amanda Savana (Inka)  dan Priyanggara Zuhaynanda Zavana  (Rangga),  Wiwi (adik bungsu saya),  dan bayi kami yg baru lahir. Tepat ketika musibah gempa, tsunami dan Likuifaksi 6 hari lalu itu, kami berada di RS Bersalin Nasanapura. RS ini terletak di bagian paling Timur wilayah kelurahan Petobo.  Ini kelurahan paling Selatan Kota Palu.  Berbatasan langsung dengan Kabupaten Sigi.  Berbatasan langsung juga dengan Kelurahan tempat kami sekeluarga tinggal.  Kawatuna.  Ujung paling selatannya.

Kelurahan Kawatuna sendiri,  merupakan batas paling Timur wilayah Kota Palu. Berupa dataran tinggi, dengan pemukiman sebagiannya berada di perbukitan atau setidaknya berbatasan langsung dengan bukit-bukit kecil dan  gunung.  Di Kawatuna inilah terdapat Bulu (Gunung) Masomba yang legendaris itu. Gunung berbentuk serupa layar perahu ini, oleh masyakat Kota Palu  diyakini sebagai bagian dari layar perahu Sawerigading. Tokoh yang menurut legenda melayari seluruh perairan Sulawesi hingga perahunya terdampar di lembah Kaili.  Dari Bulu Masomba inipula nama Pasar Masomba di daerah Tatura Kota Palu, berasal. Pasar Masomba sendiri berada tepat di samping Mall Tatura Palu yang saat ini ikut ambruk hampir tak berbentuk.

Posisinya yang di dataran tinggi itu, membuat Kawatuna kini menjadi salah satu titik pengungsian paling aman. Sekaligus juga menjadi salah satu jalur evakuasi utama korban tewas dari kelurahan Petobo dan Kab.  Sigi ke posko utama Tim Evakuasi. Kini hampir tiap saat, siang dan malam,  24 jam tiada henti, ambulance evakuasi melewati Kelurahan kampung halaman saya ini.

Kelurahan Petobo,  di mana RS Bersalin Nasanapura berada,  tempat istri saya melahirkan anak ketiga kami, benar-benar menerima dampak sangat parah akibat gempa berkekuatan 7,4 SR di Jum'at petang jelang maghrib itu. Betapa tidak, saya menyaksikan dengan mata kepala sendiri,  punahnya sebuah kelurahan. Dari ujung Timur hingga Barat.  Utara ke Selatan. Sejauh mata memandang, hanyalah gunungan lumpur, reruntuhan rumah penduduk,  berikut ribuan penghuninya,  pepohonan dan hewan-hewan yang beberapa hari lalu masih diternakkan warga.  Kini semua tinggal gunungan lumpur.    Benar-benar amblas rata dengan tanah.  Punah tak bersisa. Tinggal puing-puing tak berbentuk.

Di ujung paling Barat kelurahan yang kini hampir punah lebih dari 50 persennya inilah kami berada ketika guncangan besar itu terjadi.

Keberadaan kami di RS Bersalin tersebut, terkait dengan kondisi neng Susi yang sedang siap-siap hendak melahirkan. Sesuai janji dengan dokter Wulan sehari sebelumnya,  neng Susi sedianya akan dioperasi cesar pada hari Sabtu di RS ini. Untuk kepentingan itu,  mestinya kami baru berada di RS pada Jum'at sore. Setidaknya 12 jam sebelum tindakan operasi.  Tentu untuk persiapan operasi itu sendiri.  Namun jadwal masuk RS, ternyata harus dipercepat.  Di malam Jum'at itu, sekira pukul 01.00, tanpa disangka,  neng Susi sudah merasakan kontraksi. Jelang subuh kontraksinya semakin  ajeg.  Setiap 15  menit sekali. Kondisinya yang seperti itu,  memaksa rencana harus diubah.  Tak bisa lagi menunggu hingga sore sesuai janji dengan dokter. Harus segera masuk RS.  Harus pagi itu juga.  Tapi karena di rumah, kami hanya berempat,  bersama 2 anak kami,  Inka dan Rangga,  kami baru bisa bergerak ke RS. Setelah keduanya berangkat ke sekolah masing-masing. Inka kelas 2 SMA Al-Azhar.  Rangga   kelas 1 SMP al-Azhar.

Meskipun saya sudah sangat mengkhawatirkan kondisi neng Susi, kami baru benar-benar bisa bergerak ke RS, sekitar pukul 08.15. Itupun setelah terlebih dahulu menjemput mama (panggilan untuk ibu saya) yang ketika diberitau,  meminta untuk ikut menemani kami.

Sampai di sini,  ketika menulis kembali kisah ini,  saya baru menyadari.  Ternyata beberapa rentetan peristiwa di pagi itu, tak terduga,  merupakan bagian dari skenario sangat rapi yang seolah sengaja disiapkan Kuasa Ilahi buat kami.  Terutama kepada neng Susi.  Skenario ilahi yang memungkinkan kami bisa selamat dari bencana dahsyat dan sangat mengerikan itu.  

Tanpa rentetan kejadian yang sesungguhnya sederhana,  bahkan terbilang sepele itu,  mungkin salah satu, sebagian bahkan seluruhnya dari kami, telah ikut  menjadi korban di antara ribuan korban yang hingga hari ke 6 ini,  belum ditemukan.  Karena tertimbun ribuan ton lumpur dan reruntuhan rumah yang datang dari arah Timur RS. Dari  arah kelurahan Petobo itu. Kejadian-kejadian sepele itu dimulai sejak  berubahnya jadwal masuk RS. Yang tiba-tiba.  Yang harusnya hari Jum'at sore sampai pada kenyataan bahwa neng Susi akhirnya tidak jadi dioperasi. Malah tanpa diduga 'terpaksa'melahirkan secara normal. 

Tak terbayangkan apa yang akan terjadi pada neng Susi,  bila proses bersalinnya benar-benar melalui tindakan operasi. Tak terbayangkan bagaimana setelah selesai dioperasi,  sesuai prosedur,  ia harus melewati masa pemulihan selama 6 jam di suatu kamar khusus. Tanpa boleh ditemui oleh siapapun.  Bila itu terjadi,  hampir pasti, ketika guncangan dahsyat dan datangnya banjir bandang  lumpur dari arah Petobo yang  menerjang RS itu,  ia masih berada di ruang isolasi.  Entah dalam keadaan sadar atau tidak.  Kalaupun sadar,  tentu dalam kondisi sangat lemah. Pasti tak mampu bergerak secara mandiri. Apalagi untuk bergerak cepat menyelamatkan diri dari terjangan lumpur yang datang dengan sangat tiba-tiba. Dengan  kecepatan sangat tinggi pula. Sungguh sesuatu yang sangat mengerikan pasti telah terjadi.

Begitulah, pagi itu, bertiga kami bergegas menuju RS Bersalin Nasanapura.  Sebelum berangkat,  masih sempat pula kami sarapan bubur nasi campur kacang ijo. Meski enggan,  karena pengen secepatnya tiba di RS,  kami tetap harus sarapan. Karena mama memintanya  dengan setengah memaksa.  Sampai lupa kalau sebelum dioperasi, harus berpuasa beberapa jam sebelumnya.  Akibatnya begitu tiba di IGD RS, neng Susi yang sepanjang jalan terus meringis kesakitan karena kontraksi, tak bisa langsung dioperasi.  Harus menunggu beberapa jam. Setidaknya sampai perutnya relatif kosong.

Menunggu beberapa jam itu artinya paling cepat jam 13.00. Tak bisa kurang dari itu. Itupun harus antri. Menunggu selesainya operasi 3 pasien lain.   Yang sudah datang sebelum kami.  Artinya antrian ke-4.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2