Husain Haykal
Husain Haykal Entrepreneur

Pencari dan Pembagi Ilmu

Selanjutnya

Tutup

Ekonomi highlight headline

5 Mentalitas Rahasia Sebuah Start-Up

30 Juli 2017   19:47 Diperbarui: 31 Juli 2017   09:39 3617 3 0
5 Mentalitas Rahasia Sebuah Start-Up
bukalapak-3-597df5399ada0c21ad1f2fc2.jpg

Apa yang terbayang begitu kita mendengar kata Start-Up? Mungkin yang pertama terlintas adalah bisnis baru, teknologi, kantor keren dan banyak lagi. Namun tidak jarang juga Start-Up diasosiasikan dengan bisnis rapuh, ikut-ikutan atau bahkan hanya dianggap sebagai ajang untuk mengeruk dana investor demi keuntungan founder. 

Tidak ada yang salah dari pemikiran ini namun juga belum tentu 100% akurat. Lihat halnya Start-Up yang kian menjamur seperti Go-Jek, Traveloka dan Bukalapak yang tentu tidak lepas dari list aplikasi andalan yang kita gunakan sehari-hari. Ketiga Start-Up ini bersama dengan ratusan Start-Up lainnya berhasil menunjukkan footprint yang cukup dalam di industri masing-masing dan bahkan juga menjatuhkan pemain-pemain lama yang menjadi kompetitor mereka dalam waktu yang relatif singkat. Namun artikel ini saya buat bukan untuk menilai performa mereka, tetapi saya lebih mau mengajak pembaca untuk memahami konsep dibalik kata Start-Up.

Kalau kita lihat dengan lebih seksama, kesuksesan dari Start-Up tidak terlepas dari peran founder. Fondasi inovasi, kreatifitas, konsistensi serta semangat untuk berjuang setiap hari menjadi kunci yang sangat menentukan sukses tidaknya sebuah Start-Up. Kebanyakan Founder juga biasanya tidak dibekali dengan pemahaman menjalankan bisnis dari awal, namun biasanya mereka cepat belajar dan beradaptasi untuk dapat mengikuti ritme dari pertumbuhan bisnisnya.

Bemodalkan visi dan produk, biasanya founder akan ikut serta dalam mengembangkan organisasinya di semua bidang baik dari Sales, Marketing, HRD, Produksi dan tak jarang Keuangan. Hanya biasanya seiring dengan pertumbuhan organisasi, seorang founder akan mulai merekrut agar dapat mulai mendelegasikan tanggung jawabnya. Seiring dengan tidak terlibatnya lagi founder dalam proses-proses tersebut, maka lambat laun fondasi inovasi, kreatifitas serta konsistensi mulai terkikis dan organisasi yang tadinya bergerak melesat mulai melambat dikarenakan birokrasi, sikap saling menutupi, politik kantor dan lainnya.

Fenomena seperti ini sangat sering kita temui di organisasi yang berumur lebih dari 5 tahun. Bahkan tidak jarang juga perusahaan besar berskala internasional pun mulai menyadari ini sehingga mereka mulai menerapkan konsep LEAN (Ramping) yang pada dasarnya merupakan perampingan proses atau karyawan untuk dapat mengambil action yang lebih cepat.

Belum lama ini saya juga menyaksikan sebuah video wawancara dengan Indra Nooyi (CEO PepsiCo) yang mengakui bahwa mentalitas dan kultur Start-Up adalah yang mereka coba bangun di dalam internal organisasi PepsiCo. Bisa anda bayangkan, sebuah perusahaan yang sangat terkenal dan besar pun ingin menerapkan kulturnya menjadi kultur Start-Up.

Nah mentalitas seperti apakah yang perlu kita cari di dalam diri kita bila kita ingin memulai sebuah Start-Up atau bahkan bila kita ingin merekrut calon karyawan yang dapat menerapkan kultur Start-Up. Berikut versi saya:

1. Tidak Takut bilang Tidak | Kebanyakan orang kita (Indonesia) dilatih untuk sopan dan kata tidak (menolak) dianggap tidak sopan. Memang mendengarkan kata orang itu sangat baik tetapi bila kita percaya pada sesuatu sudah sewajibnya kita memegang prinsip untuk selalu mengutamakan yang kita percaya benar. Kalau ada yang memberikan feedback, dengarkan tetapi tidak wajib kita terapkan. Bila kita memiliki atasan atau investor yang "memaksakan" kehendak mereka, bila kita yakin salah maka katakan TIDAK.

2. Buang Jauh-Jauh Jam Kerja | Dalam kultur Start-Up, waktu adalah hal terbanyak yang harus kita investasikan. Bila kita termasuk orang yang wajib weekend ada di rumah atau bila saat interview kita bertemu kandidat yang menanyakan hari libur boleh diganti atau tidak, maka lupakan saja. Orang seperti ini jauh dari mentalitas Start-Up.

3. Paham bahwa Bisnis artinya Mencari Uang |Banyak sekali pengusaha muda atau bahkan seorang karyawan melupakan bahwa esensi bekerja adalah mencari uang untuk perusahaan. Kadang mereka terbelit dan repot dalam hal-hal minor seperti terlalu berlebih dalam memperhatikan detil iklan atau warna pada logo sehingga sekali lagi lupa pada esensi sebuah bisnis yaitu mencari uang.

4. Mengerti Laporan Keuangan | Jangan takut dulu, mengerti laporan keuangan dalam hal ini yang saya maksudkan bukan berarti kita harus seperti seorang akuntan namun setidaknya kita faham mengenai Rugi Laba, Neraca dan Cash Flow akan sangat berarti bagi seorang founder ataupun seorang karyawan untuk lebih berkontribusi bagi bisnisnya.

5. Data penting namun juga BUKAN Segalanya | Data merupakan esensi penting untuk kita sebagai seorang founder maupun karyawan dalam mengambil keputusan, namun data juga menjadi batasan kita dalam berinovasi atau bahkan berspekulasi. Kalau kita bicara data maka kita bicara kebelakang, kalau kita bicara inovasi maka kita bicara kedepan. Bila kita terlalu bergantung pada data maka proses kreatifitas dan berani mengambil resiko akan mati sebelum kita membuat gebrakan selanjutnya.