Mohon tunggu...
H.Asrul Hoesein
H.Asrul Hoesein Mohon Tunggu... Wiraswasta - Pemerhati dan Pengamat Regulasi Persampahan | Terus Menyumbang Pemikiran yang Sedikit u/ Tata Kelola Sampah di Indonesia | Green Indonesia Foundation | Jakarta http://asrulhoesein.blogspot.co.id Mobile: +628119772131 WA: +6281287783331

Pemerhati dan Pengamat Regulasi Persampahan | Terus Menyumbang Pemikiran yang sedikit u/ Tata Kelola Sampah di Indonesia | Green Indonesia Foundation | Founder PKPS di Indonesia | Founder Firma AH dan Partner | Jakarta | Pendiri Yayasan Kelola Sampah Indonesia - YAKSINDO | Surabaya. http://asrulhoesein.blogspot.co.id Mobile: +628119772131 WA: +6281287783331

Selanjutnya

Tutup

Politik Pilihan

Heboh Natuna Bagaikan Sinetron Satu Babak

7 Januari 2020   04:15 Diperbarui: 7 Januari 2020   04:20 182
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Kabupaten Natuna. Regional Kompas

Kabupaten Natuna, adalah salah satu kabupaten di Provinsi Kepulauan Riau, Indonesia. Natuna merupakan kepulauan paling utara di selat Karimata. Di sebelah utara, Natuna berbatasan dengan Vietnam dan Kamboja, di selatan berbatasan dengan Sumatra Selatan dan Jambi, di bagian barat dengan Singapura, Malaysia, Riau dan di bagian timur dengan Malaysia Timur dan Kalimantan Barat. (Wikipedia)

Kedatangan kapal ikan China masuk ke perairan Natuna, sebuah kabupaten terluar atau teras Indonesia pada tanggal 19 Desember 2019 yang merupakan Zona Ekonomi Ekslusif (ZEE) Indonesia. 

Atas kejadian ini, China diduga melanggar ZEE Indonesia, termasuk di dalamnya kegiatan IUU fishing dan pelanggaran kedaulatan.

Sangat perlu menjaga kedaulatan Indonesia. Tapi sesungguhnya dalam menyikapinya janganlah berbihan, sampai Presiden Jokowi turun langsung ke lokasi. Sebenarnya itu semua tidak perlu. Paling jauh itu urusan para menteri terkait.

Bahkan Kepala Badan Keamanan Laut
(Bakamla) Republik Indonesia, Laksdya TNI Achmad Taufiqoerrochman, menyebut sejak 10 Desember 2019, pihaknya sudah memantau kapal tersebut yang diduga akan masuk ke wilayah Indonesia.

Bila para nelayan China melanggar atau mencuri ikan dengan menggunakan pukat harimau di Perairan Natuna, Kepulauan Riau, ya tangkap saja atau tenggelamkan, sebagaimana strategi Ibu Susi Pudjiastuti (Mantan Menteri Kelautan dan Perikanan).

Analisa sederhana bahwa tidak mungkin para nelayan China itu berani masuk perairan Indonesia tanpa ada penunjuk jalan. Biasanya dan diduga mata-mata itu datang dari internal sendiri (baca: Indonesia) yang berkonsfirasi.

Mari kita menyadari bahwa bangsa Indonesia dirasuki penyakit hedonisme. Hancur negara ini karena penyakit hedon itu. Segala cara dilakukan demi memenuhi syahwat duniawi. Bangsa kita juga pintar mengalihkan perhatian, untuk menutupi masalah yang lainnya.

Tidak yakin pula bahwa RRT akan berperang habis-habisan dengan Indonesia untuk merebut Natuna dengan cara caplok atau ambil-alih se sederhana begitu. Walau dikenal Natuna sebagai daerah cadangan gas alam terbesar di dunia yang kebetulan milik Indonesia.

Natuna berada pada jalur pelayaran internasional Hongkong, Jepang, Korea Selatan dan Taiwan. Kabupaten ini terkenal dengan penghasil minyak dan gas. Cadangan minyak bumi Natuna diperkirakan mencapai 1. 400.386.470 barel, sedangkan gas bumi 112.356.680.000. barel. Hewan khas Natuna adalah kekah (sumber: wikipedia).

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Politik Selengkapnya
Lihat Politik Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun