Harry Ramdhani
Harry Ramdhani immaterial worker

Sedang berusaha agar namanya ada di "Kata Pengantar" Skripsi orang lain. | Think Globally Act Comedy | @_HarRam

Selanjutnya

Tutup

Media Artikel Utama

Melihat Orisinalitas dengan "Cihuy"!

2 Desember 2017   22:31 Diperbarui: 3 Desember 2017   14:04 2569 6 2
Melihat Orisinalitas dengan "Cihuy"!
Ilustrasi: Audrey Hepburn (weheartit.com)

Sejak eksklusif banyak dipahami sebagai "yang pertama" dan "satu-satunya", maka "yang khusus" menjadi tampak biasa sahaja; bahkan cenderung membosankan. Tentu banyak faktor penyebabnya. Namun yang kerap terjadi adalah karena pelebelan orisinalitas. Semua yang (tampak) baru akan dilabeli "Ori". Seakan di dunia ini tidak pernah ada yang melakukan itu dan/atau telah sebelumnya.

***

Cara termudah untuk menjadi penulis, kata Bertrand Russel, adalah dengan menyalin teknik dan gaya penulisan para penulis yang sudah terbukti. Sebagai penerima Nobel Kesusastraan 1950, Bertrand Russel benar-benar mengagumi tulisan John Stuart Mill. Ia tidak hanya mengagumi, tetapi sungguh ingin menjadi seperi John Stuart Mill itu sendiri. Segala cara ia gunakan. Dan yang termudah, tentu saja, menirunya.

Apakah yang dilakukan Bertrand Russel benar? Atau, bisa dibenarkan? Saya rasa, yha. Memang siapa berhak melarang?

***

Pernah satu waktu di lini masa twitter seorang penulis memberi cara-cara teknik kepenulisan. Ada tiga jumlahnya, (1) menyalin ulang naskah tulisan seseorang dengan utuh. Tidak hanya satu kali, melainkan berkali-kali. Selanjutnya, (2) menghilangkan beberapa bagian dalam cerita yang telah disalin ulang, lalu menambahinya sendiri sesuai keinginan. Dan yang terakhir, (3) tentu sama seperti apa yang dilakukan Bertrand Russel; menyalin teknik dan gaya penulisan para penulis yang sudah terbukti.

Ketiganya barangkali sudah pernah kau lakukan. Bahkan secara sadar atau tidak, masih kau terapkan. Alamiah. Seperti begitu saja terjadi dari alam bawah sadar kau sendiri.

Kembali dari apa yang Bertrand Russel lakukan, akhirnya ia  sendiri pun jenuh dan jengah. Hingga pada suatu ketika ia sadar: bahwa cara semacam itu sebagai ketidaktulusan hati dan berbahaya.

Pada akhirnya Bertrand Rhssel kembali pada "dirinya  sendiri" sebagai matematikawan. Sebelum meraih nobel sastra, Ia dikenal sebagai matematikawan yang sudah menulis beberapa buku tebal ilmu eksaksta itu. Bertrand Russel menemukan sendiri bentuk kepenulisan pada matematika. Bahasa matematika, menurutnya, adalah bentuk kesederhanaan dan tidak njelimet. Bahasa matematika adalah bahasa yang ringkas, langsung pada tujuan dan tidak mempersulit apa yang sebenarnya mudah.

Jadi, akan sangat wajar, bila kemudian Bertrand Russel mendapat hadiah nobel kesusastraan tahun 1950 atas tulisan-tulisannya yang menjunjung tinggi prinsip kemerdekaan berpendapat dan berpikir. Matematika membuka jalan pada serial karya-karyanya.

***

Ada satu fragmen yang menarik dari cerpen "Sindikat Pemalsu Kenangan" yang ditulis Agus Noor. Yaitu, seorang perempuan diberi kenangan oranglain untuk mengganti kenangan buruknya masa lalu.

Tentu perempuan yang diberi itu senang. Ia seakan dilahirkan kembali oleh kenangan yang indah, yang sebenarnya ia sendiri tahu: adalah kenangan (milik) orang lain. Kita memang butuh kenangan yang menyenangkan untuk sekadar bisa merasa bahagia, tulis Agus Noor.

***

Pengalaman adalah guru terbaik, selalu begitu yang kau tahu dan amini sampai sekarang. Lalu kenangan, kau kira, punya andil besar untuk mengajari hal-hal baru. Boleh setuju atau tidak, bahwa hari ini, kau adalah representasi dari pengalaman dan kenangan. Menulis ini, karena dulu pernah membaca itu. Membaca itu, karena dulu pernah  mengalami kejadian serupa sehingga terasa relevan.

Itu yang kemudian kau tuliskan. Kau tuturkan dengan segala teknik dan bumbu-bumbu agar supaya membuat yang membaca terkesan. Hasilnya adalah tulisan yang memiliki rasa, yang mengikat pada pembaca. Kau senang, tentu saja. Kau tahu, secara sadar atau tidak, telah meniru apa yang telah terjadi di masa lalu. Bisakah kita dapat kebaruan dari  itu? Masih bisakah kita sebut hal tersebut dengan label 'orisinalitas'?

Kau tidak menjawab pertanyaan-pertanyaan itu. Atau, begini. Mungkin apa yang kau tulisankan adalah pengalaman dan kenangan orang lain? Bisakah? Tentu. Dan kau mengajukan pertanyaan yang sama dan  kau masih tidak bisa menjawabnya.

***

Kritikus sastra, Herald Bloom pernah mengkritik Gabriel Garcia Marquez dengan keras. Katanya, ia telah berhutang budi pada William Faulker dan Franz Kafka. Baginya, secara estetik, Gabo (panggilan Gabriel Garcia Maquez) hanyalah usaha menuliskan kembali "keriangan masa lalu dan kemuraman hari akhir" dari peradaban manusia. Bahwa segala pencapaian Gabo tak ubahnya menyempurnakan apa yang telah gagal dari Faulker dan Kafka.

Terlepas dari segala kritik terhadap Gabo, bagi kau, ia adalah tokoh yang telah mewarisi nilai-nilai yang tak habis dimakan zaman. Bahwa apa yang telah ia berikan pada kesusastraan dunia, setidaknya, akan sulit ditandingi untuk beberapa zaman kemudian. 

Tentang kemampuannya menuliskan fakta-fakta yang kemudian kita mengenalnya dengan realisme magis, adalah satu bentuk kita menghadapi jurnalisme saat ini. Tidak ada yang cepat dan instan, karena  menjadi penulis, kata Gabo, bukan pekerjaan mudah. Ia membutuhkan  ketelatenan dan nafsu membaca yang luar biasa.

***

Jadi masihkah ada yang orisinil era kiwari ini? Semestinya ada, tapi kelak, lihatlah bagaimana kemudian naskah-naskah di Kompasiana (semakin) berkembang.