Mohon tunggu...
Haris Fauzi
Haris Fauzi Mohon Tunggu... Wiraswasta - Pembelajar

Penyuka Kajian Keislaman dan Humaniora || Penikmat anime One Piece.

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Pilihan

Bagaimana Mewaspadai Risiko Chatting Sex

31 Januari 2021   16:00 Diperbarui: 31 Januari 2021   16:11 647
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
twitter.com/_SunPro

"PaP dong, sayang"

"Kalau beneran sayang, kirim video tete kamu, dong"

Sexting atau chatting sex merupakan aktivitas via gadget yang bermuatan konten seksual, baik dalam bentuk teks, gambar, maupun video. Banyak kasus sexting yang terjadi karena paksaan seperti instruksi di atas.

Kalau kamu perempuan remaja juga laki-laki remaja yang sedang berpikir buat coba-coba sexting, coba dengerin perkataan saya, aktivitas ini beresiko banget.

Banyak remaja mencoba sexting karena merasa sexting tidak berisiko jika dibanding dengan "sex beneran". Cuman gambar, tidak bisa membuat hamil, begitu cara berpikirnya. Jadi, remaja merasa bisa mengekploitasi hal-hal yang bersifat seksual tanpa ada dampaknya. Padahal hal tersebut adalah sebuah kesalahan.

Tentu ada pemaksaan dalam mengirim konten, itu relas yang tentunya abusive. Terdapat resiko konten kamu bisa dijadikan alat untuk memaksa kamu ke pemaksaan selanjutnya: bisa disebar ke publik, tindak pemerasan uang, tidak mau diputusin dalam sebuah relasi, sampai dipaksa melakukan kegiatan seks beneran.

Dan perlu anda ketahui, jejak digital itu lebih abadi dari bekas luka di tubuh. Mungkin dia berkata sudah menghapus, tapi siapa tahu ia masih menyimpan file copian di tempat lain. Dia bilang sudah menghapus, namun siapa tahu udah dicuri orang lain atau kelas akan disebarin orang lain? Tidak ada yang tahu konten tersebut.

Ketika konten tersebut menyebar, efeknya bisa sampai puluhan tahun ke depan. Berpengaruh ketika akan mencari beasiswa pendidikan, mencari pekerjaan, dan masih banyak lagi. Traumanya juga bertahan sampai seumur hidup karena hidupmu sekarang semua serba digital.

Perempuan dan laki-laki sama-sama beresiko, tetapi dalam masyarakat kita yang masih begini, tentu saja perempuan yang jauh lebih beresiko karena menjadi beban sebagai penjaga moral masyarakat.

"Tapi, dia sayang aku, kak. Dia ndak bakal ngancam yang jahat ke aku."

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Humaniora Selengkapnya
Lihat Humaniora Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun