Mohon tunggu...
Indrati Harimurti
Indrati Harimurti Mohon Tunggu...

Mak ne Si Nang, isaku iki

Selanjutnya

Tutup

Catatan

Pengalaman Kerja Pertama dan Gaji Pertamaku

20 September 2011   10:08 Diperbarui: 26 Juni 2015   01:47 5108 4 0 Mohon Tunggu...

[caption id="attachment_131167" align="aligncenter" width="300" caption="(pinjam google)"][/caption]

 

Perasaan gembira yang terluapkan sulit digambarkan begitu sidang tugas akhir D3-ku sudah selesai. Sambil menunggu upacara wisuda para calon wisudawan dan wisudawati pun membanjiri iklan lowongan kerja yang terpampang di kampus. Tak terkecuali aku pun ikut berjejal menyesaki tes spikotest dan wawancara. Salah satu prinsipku dalam test spikotest adalah percaya diri dan teliti. Kuliah yang kutempuh memang bukan jalur yang favorit menurutku. Kuliah di Teknik Konversi Energi pada Jurusan Teknik Mesin lebih banyak mempelajari tentang apa itu mesin konversi, tetapi ilmu yang kudapat sepertinya kurang mendalam. Tapi okelah yang penting aku lulus dengan nilai memuaskan dan bekal-bekal ilmu yang mendasar yang penting bisa digunakan. Salah satu test yang diadakan di kampus itu adalah pabrikasi cutting tools. Pokoknya ikut saja, rame-rame alias kroyokan. Dan yang penting cewek boleh ikut. Alhamdulillah sudah lolos test tahap kedua di kampus. Tinggal test keahlian di kantor pusat. Yang ikut test keahlian di kantor pusat waktu itu sekitar 10 orang. Namanya orang udik, tidak pernah ke kota besar sebesar kota Industri Bekasi. Waduh kita berdelapan orang yang berangkat bersama dari kampus. Seperti orang bingung. "Lemah Abang Tuh Mana ya Pak?" "Ooo itu Tanah Abang kesana." "Tapi ini Lemah Abang Bekasi." Tanyaku sambil kebingungan. Kata Lemah dalam bahasa Indonesia artinya tanah. Lemah Abang bukan berarti Tanah Abang karena wilayahnya beda. Akhirnya seorang bapak setengah baya menawari kami mobil untuk di-carter bersama. Daripada terlambat datang untuk test, mahal dikit tidak apa-apa pikir kami. Sesampai di pabrik tempat kami test. Kami sedikit bengong, pabriknya bersih dan rapi, pemilik sahamnya orang Jepang. Karyawannya cuma 100an orang. Setelah test dikantor, akhirnya dari 10 peserta tersisa 5 orang saja termasuk aku yang Alhamdulillah lolos. Setelah itu kami diwawancarai untuk penempatan. Wah jujur yang namanya fresh graduate kita sangat blank, mau ditaruh dimana, mau kerja apa yang ada dipikiran tidak terbayang. Karena dari pihak perusahaan hanya menuliskan satu posisi yaitu Technician. Ternyata posisi yang ditawarkan ada 4 yaitu maintenance, PPIC, drafter dan sales marketing. Terpaksa  posisi yang kutulis adalah drafter, walau kemampuan gambarku hanya sebatas gambar teknik, belum bisa software apa-apa. Sedangkan sales dan ppic sepertinya saya kurang tertarik apalagi maintenance bukan bidangku. Akhirnya kami berlima ditempatkan pada masing-masing posisi dengan hasil wawancara yang telah dilakukan. Di bagian drafter ini, aku tidak sendiri bersama seorang temanku laki-laki dari Teknik Mesin. Sementara posisi yang lain diisi satu orang-satu orang. Hari pertama masuk kerja masih memakai hitam putih. Hari pertama masih ngojek dari gerbang Industrial Park. Di depan gedung kami melaksanakan senam pagi. Lumayan sehat ada senam segala. Kemudian pengenalan kami sebagai warga bari di pabrik itu.  Setelah itu baru ke departemen masing-masing. Karena masih hari pertama kami diajarkan tentang sistem kerja, cara file, penomoran gambar, referensi gambar dan komunikasi internal. Kemudian kami diberikan jadwal training di departemen lain yang berkaitan dengan pekerjaan kami. Seragam pun diberikan gratis. Hari kedua mulai naik jemputan, adaptasi dengan teman kerja, lingkungan pabrik dan tempat tinggal alias kos rumah petak. Saat istirahat biasanya kami satu gang almamater ngumpul, cerita-cerita tentang suasana kerja di bagian masing-masing. Persinggungan dengan orang lama pasti ada. Dan yang menjadi pertanyaan dari mereka kebanyakan adalah Gajimu Piro? Akhirnya kami jadi tertawa. Sepertinya kami tidak memperdulikan Gajine Piro? Yang penting lulus dan kerja pertama itulah pengalaman yang terindah bukan? Selama sebulan pertama hidupku merantau hanya berbekal uang saku orang tuaku sebanyak 500 ribu. Pokoknya dicukup-cukupin saja untuk membayar kos 100 ribu berdua dengan temanku yang menjadi sales, makan pagi dan malam harus hemat. Tapi kalau Sabtu dan Minggu tidak pernah absen jalan-jalan. Dari jalan-jalan ke mall, ke kost teman yang beda kawasan sampai ke tempat-tempat wisata Jakarta. Saat gajian telah tiba, waktu yang ditunggu setelah sebulan bekerja. Para pekerja berkerumun di hadapan bendahara. Pekerja dipangggil satu per satu. Setiap orang bisa tahu gaji pekerja yang lain karena bendahara membuka lembaran slipnya dihadapan khalayak. Memang tidak ada privasi yang kulihat. Tahu sama tahu gajinya masing-masing, dari yang fresh graduate sampai buyuten. Gaji pertamaku sudah kubuka, tapi isinya sudah tahu berapa. He he he, ternyata isinya sama dengan teman-temanku yang beda departemen. Bahkan tak jauh beda yang beda perusahaan selisih 50 sampai 100 lah. Pulang kerja kuajak teman salesku ke mall. Aku sudah mengincar baju renda untuk Emakku dan baju untuk kuliah adikku. Kalau Bapak aku belikan kaos untuk ke sawah. Sepertinya sederhana, karena mereka sudah berpesan. "Aku tidak meminta gajimu. Yang penting kamu sudah kerja. Alhamdulillah. Tidak merepotkan Bapak dan Emak lagi. " Beberapa lembar ratusan kusimpan untuk mengembalikan uang saku 500 ribu dari orang tuaku. Setidaknya sebagai rasa sayang dan hormatku yang telah memberiku pelajaran hidup hingga aku dapat mandiri yang tidak bisa tergantikan dengan uang.

 

VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x