Hariadhi
Hariadhi Desainer, Penulis

Ya har har

Selanjutnya

Tutup

Kandidat Pilihan

Dia yang Bisa Kita Sentuh, Yang Mudah Kita Curhati

11 Februari 2019   14:35 Diperbarui: 8 April 2019   00:58 189 1 0
Dia yang Bisa Kita Sentuh, Yang Mudah Kita Curhati
dokpri

"Berikutnya, saya akan menjelaskan soal Freeport. Tapi saya putar hadap ke sini dulu..." Seisi Hall Basket Senayan yang membludak, sedang memeriahkan acara Alumni Trisakti Dukung Jokowi, berteriak histeris. 

Ya, Jokowi hari itu ditempatkan di panggung kecil yang rendah di tengah-tengah, layaknya pemain badminton atau basket, disaksikan oleh puluhan ribu massa dari atas. 

Jokowi sadar kalau sibuk menjelaskan menghadap satu sisi saja, ia akan memunggungi yang lain. Karena itu ia memutar tubuhnya setiap kali berganti topik agar yang lain mendapat perhatian yang sama, muka yang sama, untuk sekedar berselfi ria. Semua peserta dapat kesempatan yang adil untuk melihat mukanya.

Pun saat seorang anak berkebutuhan khusus bernama Rafi Ahmad Fauzi, berteriak-teriak memanggil namanya dari kejauhan, Jokowi entah dengan indera keberapa, langsung menghentikan langkahnya dan berbalik badan. Ia spontan memeluk anak itu seolah cucunya sendiri, Jan Etes. 

"Tidak nyangka aja, beneran bisa mendapat respons presiden. Karena keinginan anak saya hanya satu saat itu, berfoto dengan Pak Jokowi," kata Reni Andriani, ibunya. "Pagi-pagi anak saya sudah ribut, dia bilang ibu-ibu ayo lihat pak Jokowi. Saya nolak, karena awalnya mau jualan kupat sayur tapi anak saya nangis. Akhirnya saya turuti kemauan dia." Awalnya mereka tetap tidak dapat kesempatan bertemu, dan Reni memutuskan pulang. Namun anaknya berkeras menunggui di jalan dan akhirnya tanpa di sangka-sangka, terjadilah momen mengharukan itu. 

Jokowi sadar sesadar-sadarnya, bahwa di antara semua keberhasilan membangun infrastruktur, yang lebih penting lagi adalah kepentingan rakyat untuk melihat pemimpinnya hadir di tengah-tengah mereka.  

Pembangunan Infrastruktur memang tidak bisa menyelesaikan semua masalah. Bahkan Jepang, China dan USA yang rajanya infrastruktur pun, tetap ada jutaan orang yang hidup susah. Tapi saat negara hadir, mendengarkan keluhan mereka, bersimpati dengan kesusahan yang mereka alami, seberat apapun beban itu, pasti bisa terangkat. 

Maka lucu sekali kalau ada orang yang mempertentangkan pembangunan infrastruktur terhadap perhatian kepada rakyat. Seolah kalau melakukan yang satu, lalu pasti tidak bisa memperhatikan yang lain. Naif sekali orang-orang itu. 

Saya orang yang menjadi saksi betapa mudahnya seorang Jokowi disentuh dan diajak bicara. Saat berkesempatan mengikuti perjalanannya ke Sukabumi, dalam satu sesi Pak Jokowi dikerubungi banyak sekali orang, kebanyakan dari desa-desa di sekitar. 

Paspampres lalu diturunkan mengelilingi Jokowi untuk menjaga keselamatannya. Semua saling dorong, kadang sampai terkena sikutan. Waktu itu saya ingin sekali karya lukisan cat air saya difoto bersama Pakde. 

Tapi di satu momen, entah dengan kegilaan apa, saya nekat menyikut balik Paspampres yang sulit ditembus lalu berteriak "Pak Jokowi!" sambil melambaikan lukisan saya. Lagi-lagi, dengan senyumnya yang khas, ia melambaikan tangan ke saya, mengajak selfie berdua. "Ayo mas tolong fotoin," katanya kepada si Paspampres, yang tadinya sikut-sikutan dengan saya. 

Banyak momen presiden kita, yang walaupun sudah jadi orang nomor satu di negeri ini, masih senang berkeliling dan menjadi rakyat biasa. Saat mengajak keluarganya jalan-jalan, ia tak memilih ke luar negeri atau mal terkenal. Cukup Taman Raya Bogor di sebelah istana. Tempat orang-orang yang hidup pas-pasan seperti kita juga berlibur. Kadangkala ia masih menyempatkan diri makan di warteg, tanpa diskenariokan atau disiapkan sebelumnya. 

Saat keliling daerah, di mana dia menginap? Kebanyakan bukanlah hotel-hotel mewah. Di Sukabumi, saya membuat liputan live kalau Pak Jokowi menggunakan hotel bertarif Rp 600 ribu saja.

Saat pulang ke kampung halamannya, Pak Jokowi juga masih menyempatkan datang ke Soto Triwindu, dengan bersahaja, duduk di tempat orang lain duduk, tanpa mengusir yang sudah terlanjur memesan dan makan di sana. Kunjungan itu spontan, tak disiapkan sebelumnya, menurut kesaksian dari pemilik warung. 

Juga kesehariannya di Jakarta, Jokowi jarang makan di tempat mahal. Salah satu favoritnya adalah Warteg Bu Djunah. Seusai salat di Masjid Sunda Kelapa, ia sudah dua kali menyempatkan diri mampir ke warung ini, dan istimewanya, tak sedikitpun melupakan janji kepada pemiliknya. 

Jokowi memberikan Surat Izin Usaha resmi dan memperbaiki kebocoran di warung tersebut, seperti yang dijanjikan pertama kali saat berkunjung. "Sudah berapa kali saya makan di tempat Ibu?" tanya Jokowi. Bu Djunah menjawab "Sudah dua kali pak."

"Ya sudah, sekarang waktunya Ibu makan di tempat saya," kata Pak Jokowi sambil tersenyum. Bu Djunah lalu diundang ke istana untuk berdiskusi dan didengarkan pendapatnya. Dan di akhir pertemuan itu, ia diberikan tugas menyuplai makanan setiap hari ke istana. "Lumayan barang lima ratus ribu sehari. Buat saya segitu gede," ungkap Bu Djunah terharu sambil memeluk erat foto Jokowi. Pak Jokowi mengerti bahwa yang dibutuhkan pedagang bukan janji-janji palsu menaikkan atau menurunkan harga, namun kepastian barangnya terjual. 

Demikian pula dengan berbagai foto nenek-nenek dan anak perempuan yang menangis saat memeluk dan berfoto dengan Jokowi. Tak ada satupun yang diskenariokan. Kita semua bisa melihat bahwa muka mereka tulus terharu menyadari bahwa presidennya, yang dulu mereka pilih, begitu dekat, begitu nyata, dan mau mendengarkan keluhan-keluhan mereka. Histeria yang tercipta tidak dipersiapkan sedari awal, sehingga kita bisa menilai sendiri ketulusannya. 

Inilah presiden kita, Pakde Jokowi. Orisinalitas ini tak akan bisa ditiru oleh mereka yang terbiasa hidup mewah di villa besar, berjarak dari rakyat. Ia tak membawa rantang makannya sendiri karena takut tak higienis makan di warteg. Ia tak menyebabkan anak yang dipeluknya menangis meraung-raung karena ketakutan. Tak ada sandiwara lumpur yang dibalurkan dari korban bencana yang ia temui dan diajak dialog. 

Dan saat saya menulis gelar "Pakde", itu bukanlah sebuah sanjungan kosong. Ia memang berlaku layaknya paman tertua di keluarga kita. Paman yang mengayomi, yang selalu membuka pintu rumahnya, dan bisa kita temui kapan saja untuk menceritakan kesulitan-kesulitan kita....

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2