Mohon tunggu...
Hany Fatihah Ahmad
Hany Fatihah Ahmad Mohon Tunggu... Mahasiswa

hmm apa ya

Selanjutnya

Tutup

Filsafat

Kerentanan Umat Agama Samawi Sebagai Pelaku Terorisme

21 Juni 2021   00:05 Diperbarui: 21 Juni 2021   00:49 63 2 0 Mohon Tunggu...

*Sebelumnya, tulisan ini merupakan tugas mata kuliah Filsafat Agama berupa esai bertemakan akar-akar terorisme dalam agama. Kemudian penulis yang merupakan mahasiswa jurusan Akidah dan Filsafat UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, mereupload ulang tulisannya di website kampusiana.

Siapapun bisa melakukan aksi terorisme dan apapun bisa menjadi penyebabnya. Mulai dari dorongan politik, ekonomi, sampai agama. Namun, sejauh ini beberapa oknum telah berhasil memperlihatkan bahwa terorisme adalah representasi dari ajaran agama yang dianggap sakral. Islam dengan Islamic State of Iraq and Syria (ISIS) nya. Yahudi dengan gerakan zionisme nya. Kristen Protestan dengan Ku Klux Klan nya.

Umumnya, terorisme merupakan labelling yang disematkan kepada suatu kelompok pelaku tindakan kekerasan untuk mencapai tujuannya. Sebelum label terorisme disematkan, teroris sebagai pelaku tindak kekerasan dapat dipandang dari dua sisi. Sebagai pejuang oleh kelompoknya sendiri dan sebagai ancaman bagi orang diluar kelompoknya. Dalam konteks agama sebagai sebuah intitusi, kelompok teroris sendiri seringkali tidak diterima dan diakui eksistensinya.

Banyak dari aksi terorisme diwakilkan oleh agama-agama tertentu. Contohnya agama-agama samawi seperti Islam, Yahudi, dan Kristen. Dari ketiga agama tersebut, terdapat beberapa kesamaan tradisi yang akan saya jabarkan sebagai akar-akar terorisme dalam agama. Sebagai disclaimer, faktor-faktor yang akan dibahas hanya menyangkut akar penyebab munculnya terorisme. Sama seperti akar pada umumnya, ia tidak akan tumbuh subur jika tidak dipelihara dengan baik.  Tidak akan tumbuh jika tidak disiram air dan diberi pupuk.

Beberapa pihak sudah sepakat, bahwa terorisme memang dikaitkan oleh tujuan-tujuan yang bersifat politik. Dapat dikatakan, hal ini disebabkan susunan hierarki yang menjadi fundamental dalam beragama. Dalam Islam, Yahudi, dan Kristen terdapat sistem hierarki yang kental. Seperti adanya ulama, rabi, dan pendeta.

Dibawah pemuka agama pun, terdapat susunan hierarki yang panjang dan akhirnya mengelompokkan manusia ke dalam dua jenis. Yaitu posisi hierarki paling atas, memiliki ciri-ciri diantaranya, terhormat, terpercaya, berkuasa dan suci. Tidak mudah untuk memperoleh posisi tersebut, perlu adanya pengorbanan personal maupun kelompok tertentu. Kemudian, posisi hierarki paling bawah, diharuskan untuk menghormati, percaya, dan mengikuti perkataan serta tindakan pemilik posisi diatasnya. Tentu saja tidak mudah untuk menjalani posisi ini, karena akan menimbulkan pergolakan batin (seperti, dianggap berdosa jika tidak menuruti perintah pemuka agama) dan kesalahpahaman dalam memahami teks-teks agama, yang sebelumnya ter-framing oleh penempat hierarki teratas.

Maka dari itu, dapat dipahami, tiga agama samawi ini tidak terpisahkan dengan polemik politik. Dengan tradisi menuhankan sistem hierarki, untuk menyebarkan suatu pemahaman tentu dibutuhkan posisi teratas dan sistem politik yang kuat. Tradisi pemikiran itulah yang akhirnya diterapkan oleh para teroris. Bermodalkan pemahaman beragama yang dibawanya dan keinginan untuk berkuasa, para teroris selalu membenarkan tindakannya.

Menyinggung mengenai pemahaman beragama yang sempat disebut dalam paragraf sebelumnya, maka kita akan berpindah ke poin berikutnya. Yaitu, kurangnya perspektif dan wawasan dalam memahami keberagaman penafsiran teks-teks agama. Di samping agama sebagai media penghubung antara tuhan dan hambanya, agama juga terwujud sebagai beberapa ritual atau kebiasaan yang kemudian melibatkan hubungan antarmanusia. Sehingga, dalam realitanya akan terdapat perubahan penafsiran teks-teks agama yang menyesuaikan latar belakang (kemampuan intelektual, keadaan sosial dan sejarah) suatu kelompok masyarakat tertentu.

Kekayaan perspektif dalam beragama, seharusnya diikuti oleh wawasan yang luas akan perbedaan tersebut. Seseorang teroris tidak mengetahui, menyadari, dan memahami, bahwa terdapat perbedaan perspektif keagamaan disekitarnya. Dengan begitu para teroris akan berpikir, hanya perspektif keagamaannya yang menginjak kebenaran tak terbantahkan. Setelah meyakini kebenaran mutlak versi nya, ia akan menganggap pemahaman yang berbeda darinya adalah pemahaman yang salah dan harus disingkirkan.

Dapat disimpulkan, tumbuhnya akar-akar terorisme dalam agama dikarenakan manusia itu sendiri.  Menyangkut kemampuan daya tangkap terhadap teks-teks agama serta keberagamannya, sampai fenomena sosial disekitarnya. Juga berangkat dari suatu tradisi pemikiran tertentu yang kemudian direalisasikan dengan tindakan terorisme.

Pemahaman yang bersifat tidak adaptif juga dapat menyebabkan kekolotan dalam berpikir. Lagi pula, jika dipikir-pikir, manusia yang dapat bertahan hidup bukanlah yang paling kuat, melainkan yang mampu beradaptasi dengan perubahan. Buktinya, para teroris, yang merasa paling kuat pun hidupnya tidak lama.  

VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x