Hanvitra
Hanvitra karyawan swasta

Alumnus Departemen Ilmu Politik FISIP-UI (2003). Suka menulis, berdiskusi, dan berpikir.

Selanjutnya

Tutup

Edukasi Artikel Utama

Mengapa Orang Indonesia Malas Membaca?

9 Mei 2015   20:15 Diperbarui: 17 Juni 2015   07:12 4065 0 0

Sudah jamak kita melihat hampir di seluruh sudut kota orang Indonesia merokok dengan nikmatnya. Namun jarang kita melihat orang Indonesia yang asyik tepekur membaca buku di depan umum. Bangsa Indonesia adalah bangsa yang sangat malas membaca buku atau media cetak lainnya. Berdasarkan penelitian UNESCO, hanya 1 orang dari 1.000 orang Indonesia yang punya minat baca serius.


Penyair garda depan Indonesia, Taufiq Ismail dalam salah-satu tulisannya mengatakan orang Indonesia “luar biasa sedikit” membaca buku. Tak heran, industri rokok berhasil mengalahkan industri buku dengan telak karena orang Indonesia lebih suka membeli rokok daripada buku.


Menurut hemat saya, ada beberapa penyebab mengapa orang Indonesia malas membaca buku. Pertama, membaca buku bukan sebuah kegiatan yang instan yang hasilnya langsung dapat dinikmati. Membaca tidak sama dengan makan hidangan cepat saji atau minum Coca Cola. Membaca adalah sebuah proses yang harus dinikmati. Perlu kesabaran dalam membaca.


Kadang hasil bacaan kita terhadap sebuah buku akan kita rasakan bertahun-tahun sesudahnya. Sedangkan orang Indonesia lebih suka sesuatu yang menghasilkan entah itu uang atau apapun dengan cepat. Dalam sebuah bukunya berjudul “Mentaliteit, Kebudayaan, Pembangunan” yang sudah menjadi buku klasik bagi mahasiswa dan ilmuwan sosial di Indonesia, Koentjaraningrat, pakar antropologi Indonesia, menulis bahwa orang Indonesia suka mencari jalan pintas atau menerabas.


Kedua, orang Indonesia punya jiwa sosial yang tinggi. Manusia Indonesia adalah makhluk sosial yang sangat bergantung kepada lingkungannya. Orang Indonesia suka berkumpul dan mengobrol di warung kopi atau rumah makan. Sedangkan membaca buku menyebabkan individualisme. Ketika kita membaca buku, kita dalam keadaan sendirian dengan teks di depan mata kita. Kita berinteraksi dengan teks padahal teks adalah benda mati –setidaknya sekilas pandangan mata. Ini berbeda dengan mentalitas orang Indonesia yang suka berteman. Ingat tagline sebuah iklan rokok, “Asyiknya rame-rame”.


Membaca buku menyebabkan seseorang menjadi individualistis. Di Barat, sejak kecil seorang anak Barat telah dibiasakan berpikir mandiri, menyatakan pendapatnya sendiri, dan menjadi dirinya sendiri. Sedangkan di Indonesia, seorang terikat pada lingkungan sosialnya. Membaca buku pada hakikatnya menjadi individu baru karena interaksi kita dengan teks. Teks-teks itu memperkaya pemahaman kita dan kemudian terintegrasi di dalam psike seorang individu.


Ketiga, sistem pendidikan Indonesia tidak mewajibkan siswa-siswi untuk membaca buku. Kondisi ini sudah disinyalir penyair Taufiq Ismail dengan “Generasi Nol Buku”, generasi yang rabun membaca dan pincang mengarang. Menurut Taufiq, generasi nol buku sudah berlangsung dari era 50-an saat bangsa Indonesia mulai lepas dari penjajahan. Budaya buku dipotong habis karena dianggap tidak efektif. Ilmu-ilmu eksakta dijunjung, sedangkan ilmu sosial dan humaniora dianaktirikan.


Keempat, orang Indonesia lebih suka berbudaya lisan. Bicara lebih praktis, lebih cepat, dan lebih mengena ketimbang membaca atau menulis. Kadang untuk bicara tidak harus berpikir. Acara-acara talkshow, diskusi, debat, bertebaran di stasiun-stasiun televisi Indonesia membuktikan bahwa sebagian besar orang Indonesia masih berbudaya oral.


Kelimat, membaca adalah pekerjaan elit. Pandangan ini agaknya tertanam dalam alam bawah sadar orang Indonesia. Selama beberapa abad masyarakat Indonesia hidup dalam penjajahan. Sebagian besar menjadi rakyat jelata. Maka tak heran, kalau membaca dikaitkan dengan kebiasaan bangsa kulit putih atau kelompok sosial tertentu.


Dari kelima faktor di atas, ada hal yang harus kita lakukan agar pola pikir bangsa Indonesia terhadap budaya membaca berubah. Kita harus merevolusi mental kita –meminjam istilah Presiden Jokowi. Cara berpikir sebagai bangsa jajahan harus dirombak total. Bangsa Indonesia harus diajak berpikir kritis dan terbuka.


Globalisasi pada titik tertentu mempunyai manfaat bagi bangsa Indonesia karena di satu sisi ia membuka pikiran bangsa Indonesia terhadap bangsa-bangsa lain. Globalisasi dapat berarti ancaman bagi bangsa Indonesia karena bisa jadi bangsa-bangsa tersebut lebih unggul. Globalisasi melatih bangsa Indonesia untuk berkompetisi sekaligus bekerja sama. Bangsa Indonesia harus belajar kepada bangsa-bangsa lain. Dengan demikian sedikit demi sedikit dapat mengikis mental kolonial yang diwariskan para penjajah. Insya Allah.



Depok, 1 Mei 2015