Hans Panjaitan
Hans Panjaitan karyawan swasta

kecebong

Selanjutnya

Tutup

Bola Pilihan

Barcelona yang (Mulai) Membosankan

9 Oktober 2018   15:01 Diperbarui: 9 Oktober 2018   15:02 678 0 0
Barcelona yang (Mulai) Membosankan
bola.okezone


Musim 2018/2019 ini diawali Barcelona dengan hasil kurang menggembirakan. Main 8 kali, menang hanya 4 kali, draw 3 kali, dan kalah sekali. Alhasil di pekan ke-8 ini, Lionel Messi cs melorot ke peringkat kedua klasemen sementara dengan nilai 15.

Posisi sebagai pemuncak klasemen yang mereka duduki selama 7 pekan terakhir diambil alih oleh Sevilla yang mengemas 16 poin. Di peringkat ketiga bertengger Atletico Madrid (15 poin), dan Real Madrid di peringkat 4 dengan 14 poin. Pada pertandingan pekan ke-8 (Senin dinihari 8/10 WIB), saat menghadapi Valencia di Stadion Mestalla, markas Valencia,   anak-anak asuhan Ernesto Valverde ditahan draw 1-1.

Apakah Barcelona sudah habis? Begitu bunyi pertanyaan dari banyak pihak. Suatu pertanyaan yang sangat prematur sebenarnya mengingat kompetisi La Liga musim ini masih sangat panjang.

Masih ada 30 pertandingan lagi yang pasti dapat mengubah banyak hal dan membuat banyak kejutan. Namun ada baiknya juga jika musim ini klub-klub yang selama ini berada di level atas, sesekali turun ke bawah, sehingga ada sedikit penyegaran.

Sebab jika persaingan perebutan juara hanya berputar-putar pada dua atau tiga klub, rasanya membosankan juga. Tapi kita juga tidak bisa melarang apabila Barcelona atau Real Madrid saling berganti sebagai juara La Liga, toh?

Barcelona FC selama ini dikenal sebagai tim yang memeragakan sepakbola indah dengan gaya tiki-taka, atau penguasaan bola dari kaki ke kaki. Bahwa strategi ini cukup ampuh sudah terbukti dengan seringnya tim Catalunya ini memenangkan Liga Spanyol, dan kompetisi lain di Eropa. Dalam sepuluh tahun terakhir ini misalnya, Barca menjadi juara La Liga sebanyak 7 kali, Real Madrid dua kali, dan Atletico Madrid satu kali.

Statistik ini menjadi bukti yang tak terbantahkan betapa sepakbola ala Barcelona ini memang punya keunggulan tersendiri. Namun untuk bisa memainkan gaya semacam ini diperlukan individu-individu yang kemampuan (skill) menguasai bola-nya di atas rata-rata. Dan memang hanya pemain yang benar-benar berkualitas wahid yang diperkenankan mendarat di Camp Nou, markas Barcelona, sebagai penggawa.

Namun, setelah sekian lama disuguhi permainan ala tiki-taka ini ada rasa jenuh dan bosan juga. Kita sebagai penonton kerap merasa "kecewa" atau sedikit frustrasi ketika bola yang dikuasai pemain-pemain Barca sudah mendekati daerah pertahanan lawan, namun diover lagi ke belakang, atau ke kiper. Hal seperti ini sangat sering terjadi pada penampilan Barcelona melawan Valencia pekan ini yang berkesudahan draw: 1-1.

Memang seperti biasa, pemain Barca selalu menguasai jalannya pertandingan karena bola sering bergulir di kaki-kaki mereka. Tapi Valencia bermain lebih efektif, karena jika sudah menguasai bola langsung merangsek ke daerah Barcelona dan mengancam gawang yang dijaga Ter Stegen.

Satu hal lagi yang membuat permainan Barcelona terasa menjemukan adalah karena Lionel Messi sepertinya menjadi titik sentral. Ada kesan di mana setiap pemain Barca yang sudah menguasai bola di daerah kotak penalti lawan berusaha mencari posisi Messi untuk kemudian mengoverkan bola kepadanya. 

Seolah-olah hanya Messi yang boleh mencetak gol? Padahal sebenarnya ada beberapa peluang bagus bagi mereka untuk langsung menceploskan bola ke gawang lawan, namun karena faktor Messi tadi, kesempatan mencetak skor menjadi buyar.

Nah, kejadian-kejadian semacam inilah yang membuat permainan Barcelona ini menjadi kurang greget, terlebih bila posisi mereka sedang kalah atau draw. Kita sebagai fans Barcelona tentu saja sangat ingin melihat Luis Suarez cs unggul dalam skor, dalam arti menang dalam arti yang sesungguhnya, bukan sekadar menang dalam penguasaan bola semata. Maka ketika menyaksikan penampilan mereka di Mestalla Senin dini hari lalu itu, dongkolnya hati ini tidak terkatakan. Dalam posisi imbang 1-1, pemain Barca masih saja sering menggulirkan bola dari kaki ke kaki, bukannya langsung menggiring si kulit bundar ke kotak penalti Valencia, sementara waktu terus berputar dan akhirnya habis.

Gaya permainan Barcelona ini pun agaknya sudah mulai dapat dibaca oleh para lawan sehingga tim-tim yang di atas kertas berada di bawah Barcelona, justru sudah dapat membuat Barcelona kerepotan, kelelahan dan akhirnya draw atau kalah. Jika coach Ernesto Valverde tidak menyadari hal ini dan berbenah, maka dapat dipastikan musim ini Barcelona akan gagal mempertahankan gelar juaranya. Atau mungkin pada musim ini La Liga akan melahirkan campeone baru di luar muka-muka lama seperti Real Madrid, Atletico, dan Barcelona sendiri?

Terlepas dari kemungkinan bisa juara atau tidak pada musim ini, Barcelona yang beberapa musim ini praktis bergantung pada Lionel Messi harus mulai mengambil langkah-langkah antisipasi karena masa jaya bintang Argentina ini akan segera meredup dikikis usia.