Mohon tunggu...
Hans Hayon
Hans Hayon Mohon Tunggu... Mahasiswa -

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Pilihan

Kami Sudah Membaca Sebelum Kenal Najwa Shihab

12 Agustus 2017   21:15 Diperbarui: 13 Agustus 2017   12:42 2728
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Bagikan ide kreativitasmu dalam bentuk konten di Kompasiana | Sumber gambar: Freepik

Memangnya Najwa Shihab itu siapa? Hebat sekali dia sampai-sampai Lembaga Garda Lamaholot dan Direktorat Kesenian Kementerian Pendidikan mesti mendatangkan dia ke NTT hanya untuk meningkatkan minat baca warganya. Minat baca saya tumbuh karena orangtua saya, bukan karena Najwa Shihab! Jadi, jangan terlalu idolakan orang lain. Mau idolakan Ahok, Najwa, dan sebagainya, boleh saja. Mau bakar seribu lilin untuk Ahok atau demo demi pembebasan Ahok, silakan saja. Tetapi mengapa tidak ada demo dan bakar-bakar lilin ketika ratusan orang di Papua dibantai oleh aparat? Realistislah dalam memberikan empati yang seimbang dan adil.

Minat baca "kami" tumbuh karena pendidikan orangtua dan dosen. Sebelum tidur, orangtua mendongengkan apa saja, menemani kami duduk di depan sebuah buku dalam cahaya remang pelita. Di universitas, dosen selalu tanya mengenai sudah berapa buku yang kami baca dalam seminggu. Kalau kami kekurangan bahan bacaan, dosen memberikan kami literatur sesuai dengan disiplin ilmu yang kami minati. Saat ini, kalau kami bahkan bisa mati kalau sehari saja tidak baca buku, itu karena orang-orang di atas. Bukan karena Najwa Shihab.

Satu hal menarik dalam Talk Show bertajuk "Literasi untuk Kebhinekaan" yang digelar di Aula El Tari, Kantor Gubernur NTT, Jumat (11/8) malam yakni pernyataan Najwa yang mengatakan bahwa berdasarkan hasil survey, minat baca anak Indonesia sangat minim. "Kalau dilihat data-data memang fakta kemampuan membaca anak-anak Indonesia rendah, bahkan dibandingkan dengan negara lain seperti Asean-pun masih sangat jauh," tutur Najwa mengutip hasil survey dari "Most Littered Nation in the World 2016" yang dilakukan pada tahun 2016. 

Tahu dari mana dia kalau minat baca orang Indonesia minim? Lalu buku-buku yang bestseller di Indonesia itu dibeli dan dibaca oleh siapa? Jujur, saya anti data statistik yang bernada pesimistis seperti itu, seolah-olah hanya dengan membaca bisa membuat orang jadi cerdas sedunia, toleran, dan punya semangat keberagaman. Apa ukuran yang dipakai untuk menjelaskan hubungan antara meningkatnya minat baca dan menurunnya konflik SARA? Sebaliknya, apakah masyarakat sederhana yang belum mengenal budaya membaca buku otomatis tidak "berbhineka" hidupnya?

Syukurlah, pada bagian lain pembicaraannya, Najwa mengucapkan pernyataan yang, selain aneh tetapi juga bertolak belakang dengan pernyataan sebelumnya mengenai rendahnya minat baca. Najwa mengaku, setelah berkeliling ke beberapa daerah di Indonesia, sebenarnya minat baca warga Indonesia sangat tinggi, namun akses bukunya masih sangat kurang. Di sini, muncul persoalan baru: kekurangan buku! Kira-kira menurut dia begitu. Buku yang mana? 

Ada banyak kelompok baca di NTT. Berdasarkan pengamatan saya, di Flores sendiri, terdapat sekitar puluhan rumah baca didirikan dengan pengunjung yang ramai. Meskipun demikian, masalah yang paling krusial adalah bagaimana mengelola dan mendistribuskan buku bacaan itu sesuai dengan kategori usia pembacanya. Itu jauh lebih penting. Mengenai hal ini, kita tidak perlu harus datangkan Najwa Shihab. Itu tugas utama Pemerintah NTT. Sudah sejauh mana pemerintah mendukung gerakan kaum relawan yang mendirikan dan menganimasi orang NTT untuk membaca buku? Setahu saya, belum ada. Kalaupun ada, itu hasil prakarsa pribadi tertentu.

Hal berikut yakni tentang kebhinekaan. Dalam Talk Show, sama sekali tidak disinggung secara mendalam kira-kira apa hubungan antara membaca buku dan kebhinekaan padahal tema pertemuan (yang terlambat dimulai karena Gubernur NTT datang terlambat) itu yakni "Literasi untuk Kebhinekaan". Lagi pula, alih-alih omong soal kebhinekaan, secara panjang lebar Lebu Raya malah menjelaskan tentang letak geografis Provinsi NTT, demografis, dan sebagainya. 

Bahkan, mengapa sama sekali tidak dihadirkan pegiat literasi asal NTT untuk syering mengenai pengalaman mereka dalam kegiatan literasi semisal rumah baca di NTT? Kenapa harus Najwa? Jangan bilang itu karena dia sudah tenar di Metro TV melalui "Mata Najwa" atau karena cara pandangnya tajam dalam melihat fenomena sosial. Memangnya masyarakat NTT tidak cerdas dalam membaca realitas sehingga mesti datangkan Najwa? Saya harap, ini bukan karena alasan politik karena tidak lama lagi warga NTT akan memilih gubernur baru. Sumpah, itu bikin saya mual.

Dalam film "Beautiful Creatures" (2004), terdapat dialog yang menarik antara caster bernama Ethan dan kekasihnya yang manusia (mortal). "Pada hari Minggu, ibu selalu mengajak aku mengunjungi perpustakaan," ujar Ethan.

"Apa yang kau sembah di sana," tanya kekasihnya.

"Pemikiran-pemikiran."

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Humaniora Selengkapnya
Lihat Humaniora Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun