Mohon tunggu...
Handy Pranowo
Handy Pranowo Mohon Tunggu... LOVE FOR ALL HATRED FOR NONE

LOVE FOR ALL HATRED FOR NONE

Selanjutnya

Tutup

Puisi Pilihan

Luka Penyair

19 Maret 2021   16:26 Diperbarui: 19 Maret 2021   16:41 64 27 4 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Luka Penyair
foto. Alazizfaza

Luka penyair tersemat di dada berontak melalui ketajaman hati seperti belati, seperti pedang, seperti harapan yang mesti di asah hingga tajam untuk menebas kegalauan yang kian menjadi di tiap perjalanan.

Luka penyair tersemat di dada berontak melalui ketajaman hati seperti belati, seperti pedang, seperti harapan yang di asah hingga tajam menebas kegalauan yang kian menjadi di tiap perjalanan menuju kesejatian yang hakiki agar hidup tak sekedar ada bernafas dan bermimpi.

Luka penyair tersemat di dada berontak melalui ketajaman hati seperti belati, seperti pedang, seperti harapan yang di asah hingga tajam menebas kegalauan yang kian menjadi di tiap perjalanan menuju kesejatian yang hakiki agar hidup tak sekedar ada bernafas dan bermimpi maka perjuangan mesti di wujudkan di pertaruhkan hingga nafas terakhir menghembus ke udara.

Luka penyair tersemat di dada berontak melalui ketajaman hati seperti belati, seperti pedang, seperti harapan yang di asah hingga tajam menebas kegalauan yang kian menjadi di tiap perjalanan menuju kesejatian yang hakiki agar hidup tak sekedar ada bernafas dan bermimpi maka perjuangan mesti di wujudkan di pertaruhkan hingga nafas terakhir menghembus ke udara, udara yang sejatinya harus bersih dari kotoran-kotoran dunia sebab kita menghisapnya.

Luka penyair tersemat di dada berontak melalui ketajaman hati seperti belati, seperti pedang, seperti harapan yang di asah hingga tajam menebas kegalauan yang kian menjadi di tiap perjalanan menuju kesejatian yang hakiki agar hidup tak sekedar ada bernafas dan bermimpi maka perjuangan mesti di wujudkan di pertaruhkan hingga nafas terakhir menghembus ke udara, udara yang sejatinya harus bersih dari kotoran-kotoran dunia sebab kita menghisapnya, jaring-jaring pengaman mesti di siagakan jangan pernah lengah atau pun menyerah sebab segala sesuatu yang di kerjakan di dunia di tuntut pertanggung jawabannya oleh yang Maha Kuasa.

Luka penyair tersemat di dada berontak melalui ketajaman hati seperti belati, seperti pedang, seperti harapan yang di asah hingga tajam menebas kegalauan yang kian menjadi di tiap perjalanan menuju kesejatian yang hakiki agar hidup tak sekedar ada bernafas dan bermimpi maka perjuangan mesti di wujudkan di pertaruhkan hingga nafas terakhir menghembus ke udara, udara yang sejatinya harus bersih dari kotoran-kotoran dunia sebab kita menghisapnya, jaring-jaring pengaman mesti di siagakan jangan pernah lengah atau pun menyerah sebab segala sesuatu yang di kerjakan di dunia di tuntut pertanggung jawabannya oleh yang Maha Kuasa, berikanlah keadilan untuk sesama, janganlah menuntut yang bukan haknya, nyalakanlah tanda peringatan apabila keserakahan menjadi penguasa di dunia.

Luka penyair tersemat di dada berontak melalui ketajaman hati seperti belati, seperti pedang, seperti harapan yang di asah hingga tajam menebas kegalauan yang kian menjadi di tiap perjalanan menuju kesejatian yang hakiki agar hidup tak sekedar ada bernafas dan bermimpi maka perjuangan mesti di wujudkan di pertaruhkan hingga nafas terakhir menghembus ke udara, udara yang sejatinya harus bersih dari kotoran-kotoran dunia sebab kita menghisapnya, jaring-jaring pengaman mesti di siagakan jangan pernah lengah atau pun menyerah sebab segala sesuatu yang di kerjakan di dunia di tuntut pertanggung jawabannya oleh yang Maha Kuasa, berikanlah keadilan untuk sesama, janganlah menuntut yang bukan haknya, nyalakanlah tanda peringatan apabila keserakahan menjadi penguasa di dunia, bangkitlah, lawanlah, apa pun resikonya, penyair harus tampil di muka dengan wajah yang penuh semangat dan hati tetap tabah menerima segala derita.

Handy Pranowo

19032021

VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x