Handy Pranowo
Handy Pranowo wiraswasta

Menulis untuk hiburan

Selanjutnya

Tutup

Puisi

Kuda sang Jenderal

12 Juli 2018   15:56 Diperbarui: 12 Juli 2018   15:54 158 2 1

Kuda sang jenderal di tanah lapang, berputar-putar, lompat-lompatan, 

hidup senang, makan tak kurang, tak ada gelisah, tak mesti meminta-minta.

Segala ada, segala tersedia hidup di bukit yang damai, jauh dari polusi, jauh dari keramaian.

Kuda sang jenderal senyumnya lebar menatap fajar, menatap kehidupan dengan sangat wajar.

Kuda sang jenderal, kuda pilihan mantap di tunggangi penuh kegagahan.

Beragam corak, beragam warna dan yang pasti harganya pun mahal tak terkira.

Kuda sang jenderal selalu bikin iri para kusir renta yang hidupnya tersisih.

Namun adakah sang kusir kecewa dengan nasibnya yang papa, sementara kuda mereka letih dan haus di pinggir jalan ibu kota.

Maka di jidatku penuh banyak pertanyaan, pertanyaan-pertanyaan yang sekiranya tak perlu di tanyakan.

Sebab hidup haruslah penuh dengan kesadaran, wibawa kan runtuh, kegagahan kan binasa apabila hidup menurut hawa nafsu belaka.

Lihatlah, kuda sang jenderal bukan kuda perang hanya kuda yang pantas untuk perayaan kedamaian.

Dan sang penunggang seharusnyalah berlapang dada atas segala kecewa dan kekalahan.

Kuda sang jenderal berpekiklah untuk sebuah perdamaian di jiwa.

Handy Pranowo