Mohon tunggu...
Handra Deddy Hasan
Handra Deddy Hasan Mohon Tunggu... Fiat justitia ruat caelum

Advokat dan Dosen Universitas Trisakti

Selanjutnya

Tutup

Analisis Pilihan

Kelakuan Keji Mengeksploitasi Anak dalam Berpolitik

19 September 2020   09:11 Diperbarui: 19 September 2020   09:50 60 8 0 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Kelakuan Keji Mengeksploitasi Anak dalam Berpolitik
(Foto: Jawapos)

Merupakan fitrah bagi anak dalam usia dini  bertingkah lucu dan lugu. Tingkah lucu anak akan membuat orang menjadi gemas memandangnya. Paras anak yang montok memerah, dengan ekspresi  wajah lugunya bisa menyihir sekaligus menyedot perhatian, bahkan ada rasa ingin memeluk dan menciumnya. 

Semuanya sangat alamiah tanpa dibuat2 atau direkayasa. Beda dengan orang dewasa yang berusaha MPO (menarik perhatian orang) dengan acting yang kadang bukan menarik perhatian, tapi justru menyebalkan.

Kelebihan anak yang bisa menyedot perhatian secara alamiah ini sering dimanfaatkan para kapitalis untuk mengiklankan produk yang dijualnya.

 Parahnya lagi ada yang memanfaatkan untuk memenuhi nafsu berkuasa. Para calon kepala daerah dengan sadar memanfaatkan pelibatan anak secara melawan hukum dalam kegiatan kampanyenya.  

Menurut Valentina Ginting (Asisten Deputi Perlindungan Anak dari Kekerasan dan Eksploitasi Kementrian PPPA), masih ada yang menggunakan anak sebagai juru kampanye dan menampilkan anak sebagai bintang utama dalam iklan politik (Kompas, 18 September 2020).

Anak sebagai insan penerus kelanjutan kehidupan manusia punya hak untuk tumbuh dan berkembang secara normal. Setiap gangguan baik secara pisik dan/atau psikis akan berakibat kepada kematangan kedewasaannya (maturity). 

Manusia dewasa yang tidak matang akan membuat putusan2 yang keliru dalam menjawab tantangan kehidupan. Banyak ahli yang menyampaikan teori bahwa perbuatan2 manusia dewasa yang  menyimpang, kecenderungan kelakuan kriminil, terbawa dari kehidupan masa kecil yang rusak. 

Artinya upaya2 yang menganggu pertumbuhan anak secara normal dan alamiah akan mempunyai efek jangka panjang. Melibatkan anak dalam kegiatan berpolitik dengan segala kurinahnya merupakan gangguan atas  pertumbuhan kedewasaan anak. Perbuatan demikian bukan hanya sekedar tindakan melawan hukum, tapi juga merupakan tindakan yang tidak bijak. 

Mengorbankan kepentingan jangka panjang yang melindungi tumbuh kembang anak dan menukar dengan kepentingan jangka pendek demi nafsu berkuasa adalah tindakan picik. 

Calon peserta pilkada yang tidak bijak dan mempunyai pikiran picik sangat tidak pantas untuk menjadi pemimpin. Bisa dibayangkan akibatnya bagi masyarakat, kalau pemimpinnya mempunyai karakter dengan kualitas minus karena tidak bijak dan picik.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
  5. 5
VIDEO PILIHAN